Kab. Teluk Bintuni

  1. Kampung Beimes
  2. Kampung Iguriji
  3. Kampung Argo Sigemeray
  4. Kampung Tuasai.

Mengacu kepada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Bintuni Tahun 2011 – 2015, Wilayah Perdesaan Bintuni adalah penyangga pangan Kabupaten Teluk Bintuni, sentra-sentra industry potensial, pusat pelayanan permukiman pedesaan, pengembangan pusat kawasan perdesaan secara mandiri, pengembangan kawasan desa potensial secara ekonomi. Di wilayah ini, akan dibangun terminal tipe C dan pelabuhan, merupakan bagian dari wilayah kawasan andalan dan potensial, dan pusat pengembangan pertanian lahan kering.

Kawasan Perdesaan Bintuni ditetapkan berdasarkan kesamaan potensi tanaman pangan dan hortikultura pada empat kampung yaitu: Kampung Agrosigemerai, Iguiriji, Tuasai, dan Kampung Biemas. Potensi-potensi tersebut terdiri atas: (1) potensi pengembangan tanaman buah-buahan seperti: rambutan, durian, mangga, jeruk, kakao, (2) potensi pengembangan tanaman pangan seperti: pisang, keladi, singkong/kasbi, petatas, sagu, padi, dan (3) potensi pengembangan tanaman sayuran seperti: kangkung, kol, sawi, bayam, cabe, tomat kacang panjang, buncis, timun, terong. Berdasarkan kesamaan porensi tersebut, maka tema pembangunan kawasan pedesaan Bintuni adalah “Pengembangan Tanaman Pangan dan Hortikultura”. Kesepakatan pembentukan kawasan perdesaan Bintuni, hasil musyawarah kampung dan kesepakatan berbagai pihak.

Kawasan Perdesaan Tanaman Pangan dan Hortikultura ini, terdiri atas 4 kampung, yaitu Kampung Beimes, Kampung Iguriji, Kampung Argo Sigemeray, dan Kampung Tuasai. Adapun keempat kampung tersebut merupakan bagian dari wilayah administrasi Distrik Bintuni.

Selanjutnya untuk ukuran pembangunan kawasan perdesaan ini, dapat dilihat dari nilai Indeks Pembangunan Desa (IPD) masih kurang baik. Nilai rata-rata IPD kampung dalam Kawasan Perdesaan Kabupaten Bintuni adalah 47,96 atau termasuk dalam kategori tertinggal. Jika dilihat perkampung, maka terdapat 2 kampung yang berstatus tertinggal, yaitu Kampung Tuasai dan Kampung Agro Sigemeray dimana masing-masing nilai IPD-nya adalah 44,51 dan 41,36. Sedangkan Kampung Iguruji dan Beimes berstatus berkembang dengan masing-masing nilai IPD adalah 50,77 dan 55,19.

Nilai IPD disusun berdasarkan indikator layanan dasar, infrastruktur, transportasi, layanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan. Nilai indikator diseluruh kampung dalam Kawasan Perdesaan Tanaman Pangan dan Hortuluktura adalah memiliki bobot rendah. Dari kelima indikator penyusun nilai IPD, bobot paling rendah rata-rata pada indikator infrastruktur dan pelayanan publik. Hal ini memberikan gambaran bahwa di kawasan perdesaan ini, selain minimnya ketersediaan infrastruktur juga pada kualitas pelayanan terhadap masyarakat juga sangat rendah.

Infrastruktur dasar di Kawasan Perdesaan Kabupaten Bintuni belum cukup memadai. Terdapat fasilitas kesehatan dan pendidikan. Sarana pendidikan berupa Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain itu juga terdapat infrastruktur pemerintahan berupa Kantor Kepala Kampung, infrastruktur ekonomi seperti pasar kampung, dan sarana olah raga. Terdapat fasilitas jalan di Kawasan Perdesaan Kabupaten Bintuni. Namun kondisi jalan sebagai lalu lintas barang dan orang kurang memadai. Hal ini yang menyebabkan rendahnya aksesibilitas ke atau dari Kawasan Perdesaan Kabupaten Bintuni.

Penduduk Distrik Bintuni berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2015 sebanyak 22.489 jiwa yang terdiri atas 12.750 jiwa penduduk laki-laki dan 9.739 jiwa penduduk perempuan. Jumlah penduduk Distrik Bintuni Tahun 2015 sebanyak 3.006 jiwa terdiri dari 643 Rumah Tangga (RT) dengan kepadatan per RT sebesar 17,24 jiwa/km. Kampung Argosigimerai/SP V merupakan kampung dengan jumlah penduduk terbanyak yakni 2.319 jiwa terdiri dari 476 RT dengan kepadatan 4,87 jiwa/km, sedangkan kampung dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah Kampung Beimes sebanyak 269 jiwa yang terdiri dari 64 RT dengan kepadatan per RT 4,20 jiwa/km.

Selanjutnya wilayah Distrik Bintuni mempunyai topografi yang bervariasi mulai dataran rendah, sampai dataran berbukit. Berdasarkan data hasil survey lapangan maka sekitar 37% wilayah kawasan pengembangan berada ketinggian 11-25 m dari permukaan laut. Sedangkan wilayah yang berada pada ketinggian 401-500 mdpl dari permukaan laut hanya mewakili sekitar 115,744 Ha luas total wilayah kawasan pengembangan.

Kawasan perdesaan ini memiliki potensi menjadi kawasan pangan di Kabupaten Bintuni. Hal ini dilihat dari cukup variatifnya komoditi pertanian pangan dan hortikultura di Kawasan Perdesaan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Potensi pengembangan tanaman buah-buahan, seperti: rambutan, durian, mangga, jeruk, kakao. Terdapat pula potensi pengembangan tanaman pangan seperti: pisang, keladi, singkong/kasbi, petatas, sagu, padi. Selain itu potensi pengembangan tanaman sayuran seperti: kangkung, kol, sawi, bayam, cabe, tomat kacang panjang, buncis, timun, dan terong.

Berdasarkan hasil analisis spasial penggunaan lahan di Kawasan Perdesaan Tanaman Pangan dan Hortikultura terdiri dari 5 penggunaan lahan, yakni: perkebunan, permukiman, semak belukar, air tawar sungai dan hutan rimba. Hutan rimba merupakan jenis penggulaan dengan persentase luasan paling tinggi yakni 85,84%. Sedangkan jenis penggunaan lahan dengan tutupan paling sedikit adalah semak belukar 0,27%.

Kemudian untuk analisis potensi dan masalah dilakukan dengan menganalisis aspek fisik dasar, sosial budaya dan kependudukan, ekonomi, serta sarana dan prasarana dengan rumusan beberapa potensi dan masalah pembangunan Kawasan Pedesaan Tanaman Pangan dan Hortikultura.

Tujuan pembangunan Kawasan Perdesaan Tanaman Pangan dan Hortikultura adalah:

(1) menguatkan system tenure pengelolaan tanah adat oleh masyaraat suku nusantara;

(2) meningkatkan produktivitas dan nilai produksi usahatani tanaman pangan dan sayuran;

(3) meningkatkan nilai tambah pengelolaan usahatani tanaman pangan dan sayuran bagi petani;

(4) meningkatkan kapasitas petani mengelola usahatani secara intensif;

(5) meningkatnya ketersediaan faktor-faktor produksi dengan harga yang murah;

(6) mewujudkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagai kelompok usaha bersama bagi petani tanaman pangan dan sayuran; dan

(7) mewujudkan stabilitas harga produk usahatani tanaman pangan dan sayuran.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, potensi pengembangan pangan dan hortikultura di empat wilayah kampung akan diintegrasikan pengelolaaannya untuk menciptakan efisiensi pengembangan pangan dan hortikutura. Pembangunan prasarana penyediaan faktor produksi, seperti: kios-kios pupuk dan obat-obatan, pasar lelang produk pangan dan hortikultura, menjadi prioritas pertama yang harus dibangun pada tahap awal pembangunan wilayah perdesaan. Pembangunan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) disetiap kampung juga harus dibangun pada tahap awal pembangunan Kawasan Perdesaan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Lembaga BUMDES tersebut akan berfungsi sebagai lembaga usaha yang akan mengelola kios-kios pupuk dan obat-obatan serta akan menjadi lembaga pemasaran produk tanaman pangan dan hortikulutra dari setiap kampung yang selanjutnya akan memasarkannya ke pasar lelang pangan dan hortikultura. Produk-produk pangan dan hortikutura yang diproduksi di wilayah perdesaan Bintuni akan diolah lebih lanjut menjadi produk antara atau produk akhir untuk menciptakan nilai tambah bagi petani. Oleh arena itu, pada tahun ketiga akan dibangun industri pengolahan di setiap kampung.

Terdapat tujuh indikasi program dalam pembangunan Kawasan Perdesaan Tanaman Pangan dan Hortikultura, yaitu: 1) pembangunan prasarana komunikasi antar desa; 2) pengolahan produk usaha tani menjadi produk setengah jadi atau produk akhir; 3) pengembangan kelembagaan usaha tani tanaman pangan dan sayuran secara komersial; 4) optimalisasi kegiatan penyuluhan; 5) peningkatan kapasitas petani mengelola usaha secara intensif; 6) pembangunan pasar sarana produksi dan hasil tanaman pangan dan sayuran; dan 7) penguatan sistem tenure atas lahan usaha tani bagi masayarakat suku nusantara rencana progran tersebut direncanakan berjalan selama 5 tahun. Sumber pembiayaan terdiri atas APBDes (1%), APBD Kabupaten 59% dan APBN 39%. Total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan 5 tahun tersebut adalah 10,175 miliar Rupiah.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Beimes Bintuni Kabupaten Teluk Bintuni Papua Bar.
Papua Bar.
Get directions