Kab. Tangerang

  1. Desa Ketapang
  2. Desa Margamulya
  3. Desa Tanjung Anom
  4. Desa Mauk Barat

Merujuk pada UU No. 4/2014 tentang Desa, Program Prioritas Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla melalui Nawa Cita Butir ke-3 yang berbunyi “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”, serta Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan, maka dibentuklah kawasan perdesaan di Kabupaten Tangerang Provinsi Banten. Berdasarkan RTRW Provinsi Banten tahun 2010 – 2030, Kabupaten Tangerang diarahkan untuk pengembangan dalam sektor pariwisata dan kawasan pesisir. Pembentukan kawasan perdesaan di Kabupaten Tangerang dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan para stakeholder pada hari Selasa, 18 Oktober 2016. Kawasan perdesaan yang akan dikembangkan di kabupaten ini adalah Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata. Kawasan ini berada di Kecamatan Mauk dan meliputi empat desa yaitu Desa Ketapang, Desa Margamulya, Desa Tanjung Anom, dan Desa Mauk Barat.

Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata dipilih dengan beberapa pertimbangan yaitu, (1) besarnya potensi pertanian padi sawah (salah satu lahan sawah abadi Provinsi Banten), serta potensi perikanan tangkap dan budidaya desa-desa pesisir Kecamatan Mauk, diharapkan dapat mengurangi angka kemiskinan wilayah tersebut, (2) sejalan dengan Rencana Strategis Provinsi Banten dan Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang untuk memantapkan ketahanan pangan dan pengembangan sektor perikanan dan (3) potensi wisata alam seperti Pantai Tanjung Kait dan wisata budaya (ziarah) serta beberapa lokasi di pesisir utara Kecamatan Mauk.

Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata memiliki luas wilayah sebesar 18,7 km2. Desa terluas dalam kawasan ini adalah Desa Mauk Barat dan Desa Margamulya dengan persentase sebesar 29% sedangkan desa yang paling kecil luasannya adalah Desa Tanjung Anom dengan persentase sebesar 19%.

Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata berbatasan dengan kecamatan lain dalam Kabupaten Tangerang. Sebelah Barat, kawasan ini berbatasan dengan Kecamatan Kemiri. Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sukadiri. Perbatasan sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Rajeg. Rata – ketinggian dataran kawasan ini antara 0 sampai dengan 2 meter di atas permukaan laut. Curah hujan rata – rata pada tahun 2015 sekitar 9,92 mm.

Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD), keempat desa dalam Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata termasuk ke dalam kategori desa berkembang. Nilai IPD yang dimiliki desa – desa tersebut yaitu Desa Ketapang (60,48), Desa Margamulya (61,66), Desa Tanjung Anom (61,93) dan Desa Mauk Barat (55,57). Berdasarkan indeks tersebut, diharapkan dengan adanya program pembangunan kawasan perdesaan dapat membantu mendorong desa berkembang menjadi desa mandiri. Sarana, prasarana dan infrastruktur di Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata memiliki jumlah yang sudah terbilang cukup. Fasilitas ibadah keagamaan tersedia 10 unit masjid, Gereja Kristen sebanyak 2 unit dan Klenteng sebanyak 1 unit. Sarana dan prasana di bidang pendidikan diantaranya terdapat sebanyak 8 unit Taman Kanak-kanak (TK), sebanyak 13 unit Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 4 unit dan SMA atau SMK dalam kawasan ini sebanyak 3 unit.

Dalam mendukung perekonomian, sarana yang tersedia yaitu sebanyak 2 unit koperasi dan 16 unit bank untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam hal keuangan dan perbankan. Dalam hal akses informasi dan telekomunikasi di Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata juga sudah didukung oleh adanya 8 unit kantor pos dan 4 unit menara telepon seluler. Beradasarkan data mengenai sarana, prasarana dan fasilitas tersebut, dapat dilihat bahwa dalam kawasan tidak ada fasilitas penginapan. Hal ini perlu menjadi perhatian mengingat kawasan yang dikembangkan adalah kawasan pariwisata yang akan dikunjungi banyak tamu sehingga adanya penginapan dapat menjadi salah satu daya tarik kawasan. Selain itu, terlihat juga bahwa tidak terdapat pasar dalam kawasan sehingga perlu dipertimbangkan untuk membangun pasar yang dibuka setiap hari karena pasar menjadi sarana penting untuk memasarkan produk kawasan.

Berdasarkan hasil fasilitasi di lapang, diperoleh data bahwa sekitar 50% penduduk yang belum memiliki jamban sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata masih membutuhkan pembangunan dalam hal sarana dan prasarana.

Jumlah penduduk yang berada di dalam Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata berjumlah 27.354 jiwa. Kepadatan penduduk yang terjadi di setiap desa dalam kawasan ini memiliki angka yang hampir sama. Desa dengan penduduk terpadat adalah Desa Tanjung Anom dengan kepadatan 2.015 jiwa/km2. Sedangkan desa dengan kepadatan penduduk terendah adalah Desa Mauk Barat dengan angka kepadatan penduduk sebanyak 1.128 jiwa/km2. Jumlah rumah tangga (RT) dalam kawasan sebanyak 11.091 dan rata-rata anggota RT sebanyak 4 orang. Mayoritas Penduduk atau sebesar 65% dari jumlah ptotal penduduk kawasan adalah usia produktif yaitu berusia 15-64 tahun. Lebih dari 50% penduduk bekerja di sektor industri kerajinan Rotan.

Desa-desa dalam Kawasan Perdesaaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata memiliki potensi yang mendukung tema pengembangan kawasan sebagai kawasan pesisir dan wisata. Desa Ketapang berpotensi dalam sektor perikanan dan pariwisata dengan produk unggulannya diantaranya perikanan tangkap, pengawetan ikan dan wisata pesisir. Sedangkan ketiga desa lainnya yaitu Desa Margamulya, Desa Tanjung Anom dan Desa Mauk Barat berpotensi dalam sektor pertanian, perikanan dan pariwisata dengan produk unggulan padi sawah, perikanan tangkap, pengawetan ikan dan wisata pesisir. Potensi Kawasan Perdesaaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata didukung oleh sumber daya alam berupa lahan padi sawah yang dimiliki kawasan ini seluas 1.014 Ha. Lahan padi sawah tersebut dapat menghasilkan hingga 5.476 ton padi/tahun dan produktivitasnya 5,4 ton/Ha. Hasil pertanian ini memiliki nilai ekonomi sekitar 32,85 milyar. Selain itu, dalam sektor perikanan, kawasan ini didukung oleh produktivitas perikanan tangkap yang mencapai 2.400 ton/tahun dengan nilai ekonomis sekitar 30 milyar/tahun. Selain itu, luas perikanan budidaya di Desa Mauk sebesar 59 Ha dengan produksi sekitar 1600 ton/tahun. Produksi dalam sektor perikanan budidaya ini mencapai senilai 24 milyar Rupiah.

Konsep pengembangan Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata disusun agar pembangunan yang dilakukan dapat terencana dan terarah serta berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Kawasan yang mengunggulkan pesisir atau perikanan serta wisata ini memiliki 3 subsektor dalam konsep pengembangannya. Ketiga subsektor tersebut yaitu subsektor on-farm, subsektor off-farm dan subsektor non-farm. Pada subsektor on-farm, pengembangan dilakukan dalam bidang pertanian tanaman pangan serta perikanan tangkap dan budidaya. Untuk mengembangkan pertanian tanaman pangan, aktivitas yang dilakukan yaitu, (1) membangun jalan pertanian dan poros, (2) membangun jaringan irigasi teknis, (3) meningkatkan produktivitas dan mutu hasil dan (4) menyediakan saprotan yang terjangkau. Sedangkan untuk mengembangkan perikanan tangkap dan budidaya, kegiatan yang dilakukan adalah (1) meningkatkan sarana produksi berupa perahu dan jaring ikan, (2) memberikan pelatihan dan penyediaan fasilitas perikanan budidaya khususnya untuk komoditas udang dan kerang dan (3) mengoptimalkan peran PPI dan TPI.

Pada subsektor off-farm, pengembangan difokuskan pada pengolahan dan standarisasi serta pemasaran dan diversifikasi produk. Aktivitas yang dilakukan dalam hal pengolahan dan standarisasi produk pertanian adalah dengan cara menyediakan mesin penggiling gabah sesuai luasan lahan dan hasil pertanian serta melatih dan menyediakan fasilitas pengolahan pasca panen guna meningkatkan nilai tambah. Sedangkan dalam hal pemasaran dan diversifikasi produk pertanian dan perikanan, upaya yang dilakukan adalah dengan memasarkan hasil panen langsung ke pasar tidak melalui tengkulak dan memajukan peran Bumdes untuk diversifikasi produk pertanian dan turunan produk perikanan berupa sarana ataupun SDM untuk pengasinan, pengasapan dan penanganan pascapanen lainnya.

Pada subsektor non-farm, pengembangan difokuskan pada wisata alam dan budaya serta perdagangan kebutuhan pokok dan IKM. Untuk mengembangkan wisata alam dan budaya, upaya yang dilakukan adalah dengan cara menyediakan sarana-prasarana standar obyek wisata baik transportasi, sanitasi maupun akomodasi serta mendorong pengelolaan secara profesional dengan didukung fasilitas kuliner dan oleh-oleh khas Pantai Tanjung Kait dan Kelenteng. Sedangkan untuk mengembangkan perdagangan kebutuhan pokok dan IKM, upaya yang dilakukan adalah dengan mendorong berdirinya Desamart mengingat besarnya kebutuhan sembako lokal dan permintaan dari warga Kepulauan Seribu serta memfasilitasi tumbuhnya IKM sektor makanan dan Kerajinan khas pesisir. Ketiga subsektor dalam konsep pengembangan tersebut ditunjang dengan adanya berbagai lembaga seperti BUMDES setiap desa, perbankan atau lembaga keuangan, perguruan tinggi dan bantuan dari lembaga lainnya. Lembaga – lembaga ini tergabung dalam BUMDESA Bersama yang berperan sebagai holding, menangani usaha atau kerjasama tingkat kawasan serta berusaha menjaga HBP.

Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESA Bersama) dapat berupa pasar induk, pasar modern, mini market, perusahan wisata atau biro perjalanan, parikan eksportir dan lembaga lainnya. BUMDESA Bersama ini juga akan bergerak dalam berbagai unit usaha diantaranya unit usaha sarana produksi pertanian dan pelelangan ikan, unit usaha permodalan (LKM) dan Laku Pandai, unit usaha Desamart dan pusat oleh – oleh serta unit usaha pengelola wisata dan kerajinan.

Program pembangunan Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata dirancang untuk dilaksanakan dalam lima tahun kedepan yaitu mulai dari Tahun 2017 sampai 2021. Terdapat lima program utama berdasarkan masterplan kawasan, yaitu : (1) Pembangunan atau rehabilitasi sarana dan prasarana transportasi, SDA, permukiman dan lingkungan, (2) Pembangunan dan/ rehabilitasi sentra produksi, sentra industri pengolahan, hasil pertanian dan perikanan, serta destinasi wisata, (3) Pembangunan dan/ pemeliharaan sarana bisnis atau pusat bisnis di kawasan ekonomi perdesaan, (4) Penerapan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing dan (5) Pengembangan pendidikan kejuruan untuk meningkatkan inovasi dan kerja kreativitas lokal berbasis kelautan.

Rencana program di Kawasan Perdesaan Pengembangan Pesisir dan Pariwisata dengan total anggaran sebesar 370,427 Milyar berasal dari 3 sumber yaitu ADD, APBD Kabupaten dan APBN. Sumber pembiayaan program terbesar berasal dari APBN dengan persentase sebesar 92%. Setelah APBN, sumber pembiayaan program yang berasal dari APBD Kabupaten sebesar 5% dan ADD sebesar 3%. Pembiayaan program dari keempat sumber terlihat tidak proporsional karena pembiayaan yang dibebankan kepada APBN sangat besar. Hal ini perlu diperhatikan lagi karena harapan hasil pembangunan kawasan salah satunya adalah desa yang mandiri sehingga desa memegang peran besar untuk menjalankan program. Selain itu, hal yang perlu diusahakan adalah memperoleh dana dari pemerintah provinsi dan pihak ketiga agar program yang dilaksanakan tidak hanya didukung oleh pemerintah melainkan dari pihak swasta juga.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *