Kab. Tanah Datar

  1. Desa Pariangan
  2. Desa Simabur
  3. Desa Sungai Jambu

Kabupaten Tanah datar merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Barat yang dikenal dengan warisan sejarah dan budaya asli Minangkabau yang kental serta potensi pertanian yang sangat baik, namun masih belum dimanfaatkan secara optimal khususnya dalam proses pascapanen sehingga perlu dikembangkan. Merujuk pada UU No. 4/2014 tentang Desa, Program Prioritas Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla melalui Nawa Cita Butir ke-3 yang berbunyi “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”, serta Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan, maka dibentuklah kawasan perdesaan dengan 3 nagari yang memiliki karakteristik serupa sebagai salah satu pusat potensi sejarah, budaya, dan potensi pertanian yang perlu dikembangkan. Berdasarkan RTRW Provinsi Sumatera Barat Tahun 2012-2032, Kabupaten Tanah Datar merupakan kabupaten yang diandalkan untuk pengembangan pertanian terpadu. Oleh karena itu, kawasan perdesaan yang akan dikembangkan dalam kabupaten ini merupakan kawasan perdesaan berbasis pertanian dan pariwisata.

Kawasan perdesaan yang telah ditetapkan bersama untuk dikembangkan adalah KawasanPerdesaan Agrowisata yang berlokasi di Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Kawasan ini mencakup 3 desa atau nagari yaitu Pariangan, Simabur dan Sungai Jambu.Kawasan Perdesaan Agrowisata termasuk dalam Koridor Ekonomi 1 Kabupaten Tanah Datar yang dikelola melalui “Sentra Tanaman Pangan dan Aneka Ragam Pengolahannya”. Ketiga nagari yang ada di dalam kawasan perdesaan memiliki fungsi masing-masing, diantaranya : (1) Nagari Simabur sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) yang terdiri dari pusat perdagangan lokal yang ditandai dengan adanya pasar harian dan pusat koleksi komoditas pertanian yang dihasilkan sebagai bahan mentah industri; (2) Nagari Pariangan dan Nagari Sungai Jambu dengan potensi pariwisata sejarah dan budaya serta potensi pertanian.

Kawasan Perdesaan Agrowisata memiliki luas wilayah sebesar 52,04 km2 dengan persentase luas wilayah Nagari Sungai jambu sebesar 54%, Nagari Pariangan sebesar 34% dan Nagari Sim abur sebesar 12% dari total luas wilayah kawasan. Ditinjau dari aspek aksesibilitas serta ketersediaan sarana dan prasarana, kawasan ini dilalui oleh jalur jalan lintas provinsi dan memiliki pasar pusat perdagangan untuk tingkat kecamatan sehingga menjadi faktor yang mendukung Kawasan Perdesaan Agrowisata untuk dikembangkan. Topografi Kawasan Perdesaan Agrowisata didominasi lahan dengan kemiringan 8-15% dan 15-30% yang berada di wilayah kaki Gunung Marapi. Letak wilayah yang berada disekitar pegunungan ini menjadi salah satu alasan kenapa kawasan perdesaan ini memiliki potensi mata air panas dari aliran air gunung dan aliran mata air pegunungan.

Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD), terdapat dua nagari dalam Kawasan Perdesaan Agrowisata dalam kategori desa berkembang, yaitu Nagari Sungai Jambu (58,78), Nagari Pariangan (71,06) sedangkan Nagari Simabur (75,80) termasuk ke dalam kategori desa mandiri. Berdasarkan indeks tersebut, diharapkan dengan adanya program pembangunan kawasan perdesaan dapat membantu mendorong desa berkembang menjadi desa mandiri serta memperkokoh desa mandiri agar dapat menarik desa-desa di sekelilingnya.

Sarana, prasarana dan infrastruktur di Kawasan Perdesaan Agrowisata terbilang sudah memadai.Fasilitas ibadah keagamaan hanya ada sebanyak 12 unit. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk di Kawasan Perdesaan Agrowisata mayoritas beragama islam. Sarana dan prasana di bidang pendidikan diantaranya terdapat sebanyak 11 unit Taman Kanak-kanak (TK), sebanyak 14 unit Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 3 unit dan Sekolah Menengah Atasdan Kejuruan (SMA/SMK) sebanyak 3 unit. Dalam mendukung perekonomian, sarana yang tersedia yaitu 2 pasar di tiga nagari dalam kawasan. Selain itu, tersedia 5 unit koperasi dan 10 unit bank untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam hal keuangan dan perbankan. Dalam hal akses informasi dan telekomunikasi di Kawasan Perdesaan Agrowisata juga sudah didukung oleh adanya 5 unit kantor pos dan 4 unit menara telepon seluler. Namun, dalam tabel terlihat bahwa tidak ada penginapan dalam kawasan. Pengadaan penginapan perlu dipertimbangkan mengingat kawasan yang akan dikembangkan adalah kawasan agrowisata.

Jumlah penduduk di Kawasan Perdesaan Agrowisata sebanyak 11.106 jiwa yang terdiri dari 5.649 jiwa penduduk di Nagari Pariangan, sebanyak 2.828 jiwa penduduk di Nagari Simabur dan sebanyak 2.629 jiwa penduduk berada di Nagari Sungai Jambu. Jika dibandingkan dengan luas wilayahnya, nagari dengan kepadatan penduduk tertinggi adalah Nagari Simabur yaitu 474 jiwa/km2 dan nagari dengan kepadatan penduduk terendah yaitu Nagari Sungai Jambu sebanyak 93 jiwa/km2. Sedangkan, Nagari Pariangan berada di antara keduanya yaitu sebanyak 315 jiwa/km2.

Berdasarkan peta penggunaan lahan Kawasan Perdesaan Agrowisata, terlihat bahwa penggunaan lahan dalam kawasan didominasi oleh hutan, kemudian sawah serta kebun. Penggunaan lahan ini sejalan dengan ketinggian wilayah yang dominan dataran tinggi. Meskipun penggunaan lahan didominasi oleh hutan, hasil fasilitasi yang dilakukan bersama para kepala desa, TPKP dan SKPD terkait, menetapkan bahwa komoditas pertanian yang diunggulkan adalah padi dan ubi jalar karena banyaknya wilayah yang menjadi sentra produksi untuk 2 komoditas tersebut. Sedangkan komoditas potensial kawasan ini adalah kopi dan jeruk mengingat luasnya guna lahan untuk hutan serta kebun.

Sesuai dengan penamaan kawasannya yaitu ‘agrowisata’, kawasan ini juga mengunggulkan komoditas wisata di samping mengunggulkan komoditas pertaniannya. Wisata dalam kawasan ini terbagi menjadi wisata sejarah, wisata alam dan wisata budaya yang tersebar di ketiga nagari yang ada di Kawasan Perdesaan Agrowisata.

Tabel di atas menunjukkan bahwa nagari yang memiliki lokasi wisata terbanyak adalah Nagari Pariangan dan tersedia untuk ketiga jenis lokasi wisata. Meskipun Nagari Simabur hanya memiliki 1 lokasi wisata budaya, namun nagari ini menjadi Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) yang terdiri dari : (a) Pusat perdagangan lokal yang ditandai dengan adanya pasar harian, (b) Pusat koleksi komoditas pertanian yang dihasilkan sebagai bahan mentah industri.

Konsep pengembangan Kawasan Perdesaan Agrowisata disusun agar pembangunan yang dilakukan dapat terencana dan terarah serta berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Kawasan yang basis utamanya adalah pertanian dan pariwisata ini memiliki 3 subsektor untuk masing-masing basis. Untuk menjadikan pariwisata sebagai leading sector yang mampu menggerakan perekonomian lokal masyarakat pedesaan di kawasan dikembangkan 3 subsektor yaitu : (1) atraksi; (2) akomodasi dan sarana prasarana pariwisata; dan (3) promosi dan pengenalan pariwisata. Aktivitas yang dilakukan dalam subsektor atraksi yaitu, revitilisasi rumah gadang, revitalisasi cagar budaya, pembentukan sanggar budaya dan seni, pengadaan festival budaya. Dalam subsektor akomodasi dan sarana prasarana pariwisata, aktivitas yang dilakukan diantaranya perbaikan signasi dan peta, perbaikan jalan wisata, pembangunan terminal dan akses parkir, pembangunan spot foto dan pusat berkumpul wisatawan. Terakhir, aktivitas yang dilakukan dalam subsektor promosi dan pengenalan pariwisata adalah dokumentasi budaya dan aset wisata dan kerjasama lintas agen pariwisata

Terdapat 3 subsektor untuk mengembangkan sektor pertanian yaitu subsektor on farm untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi, subsektor off farm yang fokus pada penangananpascapanen dan subsektor non farm sebagai sub sektor penunjang. Aktivitas yang dilakukan dalam subsektor on farm yaitu pengadaan bantuan bibit unggul, pengadaan sarana prasarana pendukung pertanian, pengadaan teknologi pertanian, peningkatan kapabilitas petani dan pengadaan demplot pertanian. Sedangkan dalam subsektor off farm beberapa aktivitas yang dilakukan yaitu, pembangunan sentra pengolahan pertanian, pembangunan jalan dan jembatan, pengadaan teknologi pasca panen dan peningkatan pelatihan diservifikasi produk olahan pertanian. Terakhir adalah subsektor non farm. Terdapat aktivitas yang dilakukan untuk menunjang 2 subsektor sebelumnya yaitu bantuan Kredit Mikro Pertanian, penguataan kelembagaan koperasi dan kelompok tani serta pembangunan sentra penjualan produk dan peningkatan pasar penjualan diluar daerah..

Program pembangunan Kawasan Perdesaan Agrowisata dirancang untuk dilaksanakan dalam lima tahun kedepan yaitu mulai dari Tahun 2017 sampai 2021. Terdapat 16 program yang direncanakan dan dikerucutkan menjadi 7 program utama, yaitu : (1) pengembangan sistem perencanaan , koordinasi, pengawasan dan evaluasi kawasan perdesaan, (2) peningkatan produktivitas perekonomian pertanian, (3) peningkatan produktivitas kegiatan ekonomi pariwisata,(4) pembinaan dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan aktivitas kawasan agrowisata, (5) perluasan dan pengembangan media promosi agrowisata, (6) peningkatan sarana prasarana dasar dan (7) peningkatan kualitas dan perluasan sarana permodalan.

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rencana program di Kawasan Agrowisata dengan total anggaran sebesar 61,265 miliar berasal dari 5 sumber yaitu ADD, APBD Kabupaten, APBD Provinsi, APBN dan pihak ketiga. Adapun yang termasuk pihak ketiga diantaranya adalah dana CSR, swadaya atau instansi swasta lainnya. Sumber pembiayaan program terbesar berasal dari APBD Kabupaten dengan presentase sebesar 44%. Setelah APBD Kabupaten, sumber pembiayaan program yang berasal dari APBD Provinsi sebesar 22%, ADD sebesar 14%, APBN sebesar 13% dan pihak ketiga sebesar 7%. Terlibatnya berbagai pihak dalam pembiayaan program ini menunjukkan bahwa Kawasan Perdesaan Agrowisata Pariangan mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam menjalankan program kegiatannya.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jl. Sawan Tangah Simabur, Simabur, Pariangan
Kabupaten Tanah Datar
Get directions