Kab. Sumbawa

  1. Desa Sabedo
  2. Desa Tengah
  3. Desa Stowe Brang
  4. Desa Motong
  5. Desa Orong Bawa

Kawasan Perdesaan Jasaprima merupakan bagian dari rencana Pembangunan Kawasan Agropolitan Alas Utan. Pembangunan Kawasan Agropolitan Alas Utan adalah salah satu KSP di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) seperti tercantum dalam Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 3 Tahun 2010 tentang RTRWP NTB Tahun 2009-2029. Penetapan Kawasan Perdesaan Jasaprima juga bagian dari rencana pembangunan kawasan strategis di tingkat Kabupaten Sumbawa dengan mendorong pengembangan komoditi unggulan dan potensial disetiap Kawasan Perdesaan.

Kesesuaian rencana pembangunan kawasan antara Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan Pemerintah Daerah Kabupaten sumbawa menjadikan Kawasan Perdesaan Jasaprima sebagai langkah strategis sebagai upaya untuk mendorong percepatan pembangunan desa khususnya di Kabupaten Sumbawa. Dalam prosesnya, pengembangan Kawasan Perdesaan ini menuntut tata kelola yang demokratis dan partisipatif serta berupaya mendorong kerjasama antardesa, kerjasama lintas sektoral (multipihak), dan kerjasama antar para pemangku kepentingan lain.

Kawasan Perdesaan Jasaprima Kabupaten Sumbawa merupakan salah satu Kawasan Perdesaan yang difasilitasi oleh Kemendesa PDTT yang bekerja sama dengan IAIN Mataram. Hasilnya adalah pemerintah Kabupaten Sumbawa akhirnya menetapkan satu Kawasan Perdesaan, yaitu kawasan jagung, sapi, padi, srikaya dan madu (Jasaprima) di Kecamatan Utan. Secara administratif, Kawasan Perdesaan Jasaprima berada di Kecamatan Utan Kabupaten Sumbawa. Kawasan Perdesaan Jasaprima terdiri dari 5 (lima) desa, yaitu; Desa Sabedo, Desa Tengah, Desa Stowe Brang, Desa Motong dan Desa Orong Bawa.

Proses penetapan Kawasan Perdesaan Jasaprima dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:pertama, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa menetapkan tata ruang kabupaten dan mengusulkan tiga Kawasan Perdesaan yaitu Kecamatan Moyo Utara, Moyo Hilir dan Utan dengan tema kawasan yang sama, yaitu Kawasan Agropolitan, kepada Kemendes PDTT; kedua, dilakukan koordinasi Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa dengan Tim Fasilitasi Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP) dari IAIN Mataram yang difasilitasi oleh Kemendes PDTT yang menetapkan satu kawasan yaitu Kawasan Perdesaan di Kecamatan Utan. Penetapan ini awalnya hanya 3 desa lalu berkembang menjadi 5 desa.Penetapan 5 desa ini mengikuti Juknis yang tertuang melalui SK Dirjen PKP No. 14 tahun 2016.

Ketiga, dilakukan penilaian (assesment) data lapangan dan Focus Group Discussion (FGD) para pemangku kepentingan dalam kawasan. Desa-desa dalam kawasan bersepakat tergabung dalam Kawasan Perdesaan Jasaprima. Kesepakatan ini lalu diusulkan ke Bupati Sumbawa untuk ditetapkan menjadi Kawasan Perdesaan Jasaprima (awalnya merupakan kawasan Agropolitan); Keempat, dilakukan penyusunan rancangan SK Kawasan, SK TPKP Kawasan dan TKPKP Kabupaten beserta penyusunan RPKP Jasaprima beserta Ranperbub RPKP Jasaprima; dan Kelima, diadakan FGD untuk membahas RPKP bersama antara Tim Fasilitasi IAIN Mataram dengan mulai tingkat kawasan hingga provinsi yang dihadiri oleh pemangku kepentingan tingkat kawasan, kabupaten, provinsi hingga Kemendesa PDTT.

Kawasan Perdesaan Jasaprima terdiri atas 5 desa, yaitu Sabedo, Tengah, Stowe Brang, Motong dan Orong Bawa. Luas keseluruhan Kawasan Perdesaan adalah 9,747 Ha. Sabedo adalah desa terluas dalam Kawasan Perdesaan yakni 4,678 Ha, sedangkan desa yang paling sempit adalah Tengah dengan luas desa 503 Ha. Sementara itu, desa lainnya yaitu Stowe Brang, Motong dan Orong Bawa masing-masing memiliki luas 1.105 Ha; 2.802 Ha dan 659 Ha.

Ditinjau dari Indeks Pembangunan Desa (IPD), nilai IPD rata-rata Kawasan Perdesaan Jasaprima adalah 64.21. Atas nilai rata-rata tersebut, umumnya desa-desa dalam Kawasan Perdesaan berstatus desa berkembang. Namun jika dilihat nilai IPD setiap desa maka Desa Motong memiliki nilai IPD tertinggi yakni 72,59, sedangkan Desa Tengah memilki nilai IPD terendah yaitu 58,13. Berdasarkan nilai IPD tersebut dan aspek lainnya, maka Desa Motong diarahkan menjadi Pusat Pertumbuhan Terpadu Antar Desa (PPTAD) di Kawasan Perdesaan Jasaprima.

Kondisi infrastruktur dalam Kawasan Perdesaan utamanya infrastruktur dasar (pendidikan dan kesehatan) relatif tersedia. Polindes adalah sarana kesehatan terbanyak dalam kawasan, sedangkan untuk pendidikan Sekolah Dasar merupakan sarana pendidikan dengan jumlah terbanyak. Selai itu juga ditunjang oleh infrastruktur dan sarana lainnya yaitu sarana ibadah, perekonomian, olah raga, jalan, air bersih dan telekomunikasi. Jika dilihat dari aspek infrastruktur, maka Desa Motong memiliki infrastruktur relatif lebih baik dibandingkan desa lainnya di Kawasan Perdesaan.

Kawasan Perdesaan Jasaprima juga memiliki potensi dengan adanya bendungan Beringin Sila di wilayah kawasan. Bendungan ini akan semakin optimal kinerjanya karena akan mendapat dukungan pembangunannya dari pemerintah pusat. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pertanian saat berkunjung ke Kawasan Perdesaan Jasaprima dalam kegiatan panen raya jagung pada Tahun 2015 di Desa Motong dan di Desa Tengah pada Tahun 2016. Keberadaan infrastruktur bendungan ini tentu akan menjadi peluang tersendiri bagi pengembangan komoditi pertanian di Kawasan Perdesaan. Mengingat mayoritas penggunaan lahan di Kawasan Perdesaan Jasaprima, yaitu berupa lahan kering seluas 8.334,2 Ha dimana sebagian besar berada di Desa Motong (2.589,34 Ha) dan Desa Sabedo (4.505,03 Ha). Selain itu, juga terdapat lahan sawah seluas 1.412,91 Ha, dimana sebagian besar berada di Desa Orong Bawa (542,75 Ha).

Jumlah penduduk di Kawasan Perdesaan Jasaprima adalah 15.881 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak berada di Desa Motong dengan jumlah populasi 4.799 jiwa. Sedangkan Orong Bawa adalah desa dengan jumlah populasi penduduk paling sedikit dengan 1.397 jiwa. Sementara 3 desa lainnya yaitu Stowe Brang, Tengah dan Sabedo masing-masing memiliki populasi penduduk sebesar 3.538 jiwa, 2.990 jiwa dan 3.157 jiwa. Sebagian besar masyarakat dalam Kawasan Perdesaan Jasaprima adalah pemeluk agama Islam dan sektor pertanian merupakan sektor mata pencaharian utama masyarakat dalam Kawasan Perdesaan.

Berdasarkan namanya, Jasaprima merupakan singkatan dari ragam komoditas yang dihasilkan di kawasan yaitu; jagung, sapi, padi, srikaya dan madu. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas unggulan yang ditetapkan di Kawasan Perdesaan Jasaprima yaitu kelima komoditas tersebut. Data lapangan menunjukkan belum ditetapkan adanya satu komoditi unggulan Kawasan Perdesaan. Dalam artian bahwa suatu Kawasan Perdesaan idealnya mendorong satu komoditi unggulan yang akan dikembangkan, sedangkan komoditi yang lain merupakan komoditi pendukung yang dikembangkan secara terpadu dengan komoditi unggulan.

Komoditi sapi, padi dan madu merupakan komoditas yang dihasilkan pada seluruh desa dalam Kawasan Perdesaan. Sedangkan komoditi jagung dan srikaya hanya dihasilkan oleh Strow Brang, Motong dan Tengah. Orong Bawa dan Sabedo sejak dulu merupakan lumbung jagung di Kabupaten Sumbawa.

Sebagian besar lahan di Kawasan Perdesaan Jasaprima merupakan lahan kering. Jika didasarkan pada sebaran komoditi dalam kawasan maka komoditi jagung sangat berpotensi menjadi komoditas unggulan Kawasan Perdesaan Jasaprima. hal ini dikarenakan komoditi jagung tersebar diseluruh desa dalam kawasan Kawasan Perdesaan Jasaprima dimana luas lahannya mencapai 5,282 Ha atau 54.19 % dari total luas Kawasan Perdesaan. Selain itu, pada kelima desa tersebut juga dapat dilihat bahwa sebaran potensi tanaman jagung berada pada satu hamparan yang saling berdekatan dan berskala luas.

Komoditas yang memiliki potensi untuk dikembangkan yaitu sapi, padi dan jagung. Populasi sapi di kawasan sebanyak 12.839 ekor atau 78,51% sapi di Kecamata Utan atau 5,7% sapi di Kabupaten Sumbawa. Selain itu, komoditas pendukung yang berpotensi yaitu jagung dengan luas lahan 3.396 ha dan produksi sebesar 6,6 ton/ha. Selain itu juga padi memiliki potensi cukup besar dengan luas lahan 2.930 ha, produksi 5 ton/ha.

Konsep pengembangan komoditi di Kawasan Perdesaan Jasaprima diarahkan pada pengembangan dari hulu ke hilir. Hal ini dilakukan sebagai upaya optimaslisasi hasil produksi, memberikan nilai tambah dan serapan tenaga kerja lebih banyak. Selain itu, pengelolaan dari hulu ke hilir akan lebih sustainable dan ramah lingkungan karena segala bentuk hasil produksi akan diolah kembali dan diupayakan tidak terbuang begitu saja.

Konsep hulu hilir meniscayakan adanya proses yang terintegrasi antara sektor on farm, sektor off farm hulu, sektor off farm hilir dan sektor penunjang. Sektor on farm berkaitan langsung dengan aspek budidaya dari komoditi yang dikembangkan dalam hal ini adalah Jagung, Sapi, Padi, Srikaya dan Madu. Sedangkan off farm hulu berkaitan engan pengelolaan aspek kelembagaan, manajemen pengelolaan dan pemenuhan SAPRODI dan ALSINTAN (sarana produksi dan alat mesin pertanian). Sementara off farm hilir berkaitan dengan optimalisasi pengolahan komoditi hasil pertanian untuk mendorong adanya diversifikasi hasil produk komoditi pertanian. Hal ini meniscayakan adanya input inovasi teknologi. Harapan adanya inovasi teknologi tersebut berasal dari sumberdaya dalam Kawasan Perdesaan Jasaprima dan ramah lingkungan. Hal penting lainnya dalam konsep pengembangan hulu hilir adalah adanya dukungan sektor penunjang. Sektor penunjang tersebut turut menjaga keberlanjutan usaha pengembangan komoditi Kawasan Perdesaan karena memberikan kepastian pasar, dukungan sarana informasi dan promosi, penguatan jaringan dan kapasitas sumberdaya manusia.

Terdapat delapan indikasi program yang akan didorong untuk pembangunan Kawasan Perdesaan Jasaprima hingga lima tahun kedepan. Kedelapan indikasi program tersebut adalah: 1) pengembangan/rehabilitasi sarana dan prasarana transportasi; 2) pembangunan dan/atau rehabilitasi sentra produksi, sentra industri pengolahan hasil pertanian dan perikanan, serta destinasi pariwisata; 3) pembangunan dan/atau pemeliharaan sarana bisnis/pusat bisnis di kawasan ekonomi pedesaan; 4) penerapan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing; 5) pembangunan suplai energi untuk pemenuhan domestik dan industri; 6) pengembangan pendidikan kejuruan untuk meningkatkan inovasi dan kreatifitas lokal; 7) pengembangan kerjasama antardesa, daerah, KPS, BUM, Antar Desa; dan 8) menerapkan TIK untuk menfasilitasi perdagangan dan pertukaran informasi.

Pelaksanaan program selama 5 tahun tersebut mengandalkan beberapa sumber pembiayaan yakni APBDes, APBD Kabupaten, APBD Provinsi, APBN dan Swadaya/swasta. Masing-masing porsi pembiayaan dari sumber tersebut selama 5 tahun adalah 2% dari APBDes, 20% dari APBD Kabupaten, 12% APBD Provinsi, 66% dari APBN dan 0,3% bersumber dari usaha swadaya/swasta. Total pembiayaan pembangunan Kawasan Perdesaan Jasaprima selama 5 tahun adalah 57,700 Juta Rupiah.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *