Kab. Sampang

Kecamatan Banyuates

  1. Desa Nepa
  2. Desa Batioh
  3. Desa Montor
  4. Desa Tabanah
  5. Desa Nagasareh
  6. Desa Banyuates
  7. Desa Tlagah
  8. Desa Masaran,

Kecamatan Ketapang

  1. Desa Banyusokah
  2. Ketapang Timur

Kawasan Perdesaan Wisata ini sangat tergantung dengan posisi strategis Kabupaten Sampang. Dalam RTRW Provinsi Jawa Timur, Pulau Madura ditetapkan sebagai daerah pengembangan wisata kepulauan. Untuk itu, perlu dikembangkan objek wisata dan atraksi wisata di kawasan perdesaan untuk memberikan nilai tambah (value added). Salah satu potensi wisata yang sangat terkenal di Pulau Madura adalah karapan sapi. Tidak itu saja, keberadaan jembatan Suramadu memberi andil yang cukup baik dalam menentukan nilai strategis posisi kawasan perdesaan dan kabupaten. Jembatan Suramadu ini menjadi simbol pembangunan regional Surabaya-Madura di Jawa Timur. Jembatan Suramadu menghubungkan antara Pulau Madura dengan Kota Surabaya. Untuk itu, keberadaan Jembatan Suramadu ini memudahkan aksesibilitas dan lalu lintas barang dan orang dari atau ke Kabupaten Sampang secara umum dan Kawasan Perdesaan Wisata Desa Kabupaten Sampang secara khusus.

Proses pembentukan dan penetapan Kawasan Perdesaan Wisata diawali dengan pembentukan Tim Kordinasi Pembangunan Kawasan Perdesaan (TKPKP) di tingkat kabupaten. TKPKP ini ditetapkan melalui SK Bupati Sampang. Setelah dilakukan pembentukan TKPKP Kabupaten Sampang, kemudian TKPKP merancang pengusulan untuk penetapan kawasan perdesaan. Proses ini dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan para pemangku kepentingan. Juga dilakukan penilaian atas desa – desa yang akan membentuk dan bergabung dalam kawasan perdesaan. Setelah itu usulan penetapan di-SK-an oleh Bupati Sampang.

Hal selanjutnya yang dilakukan adalah membentuk kelembagaan tingkat kawasan perdesaan. Kelembagaan ini dibentuk dengan memperhatikan aspirasi masyarakat desa dan keterwakilan desa dalam kawasan perdesaan. Kelembagaan tingkat kawasan ini, bertugas untuk mengelola secara teknis kegiatan dan program yang akan dilakukan tingkat kawsan perdesaan. Kelembagaan tingkat kawasan perdesaan ini ditetapkan melalui SK Bupati. Setelah itu dilakukan perumusan rancangan Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP). Proses ini dilakukan melalui beberapa proses yaitu: 1) pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan kawasan perdesaan; 2) analisis kondisi kawasan perdesaan dan telaah dokumen perencanaan daerah yang telah ada; 3) perumusan isu strategis, tujuan dan sasaran, strategi dan arah kebijakan, program kegiatan dan kerangka pendanaan.

Selanjutnya hasil rumusan dimatangkan melalui forum konsultasi penyusunan Rancangan RPKP. Konsultasi ini dilakukan dengan membuka forum diskusi yang dihadiri oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, yaitu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Sampang, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pengairan Kabupaten Sampang, Dinas PU Bina Marga, dan Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Sampang. Hasil konsultasi/ diskusi lalu ditetapkan melalui berita acara kesepakatan bersama. Adapun houtput dasri keseluruhan proses tersebut adalah Rancangan RPKP Wisata Kabupaten Sampang.

Kawasan Perdesaan Wisata Desa mencakup 10 desa yang tersebar di 2 kecamatan. Delapan desa yaitu Nepa, Batioh, Montor, Tabanah, Nagasareh, Banyuates, Tlagah dan Masaran berada di Kecamatan Banyuates, sementara itu 2 desa lainnya, yaitu Banyusokah dan Ketapang Timur berada di Kecamatan Ketapang. Luas Kawasan Perdesaan Wisata adalah 6,345 Ha. Adapun luas masing- masing desa, yakni: Nepa 247 Ha, Batioh 370 Ha, Montor 517 Ha, Tabanah 513 Ha, Nagasareh 813 Ha, Banyuates 212 Ha, Tlagah 1.422 Ha, Masaran 383 Ha, Banyusokah 477 Ha dan Ketapang Timur 1.391 Ha.

Untuk mengetahui gambaran kondisi pembangunan setiap desa dalam kawasan perdesaan, dapat disimak melalui nilai Indeks Pembangunan Desa (IPD) setiap desa. IPD memberikan gambaran terkait layanan dasar, infrastruktur, transportasi, layanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan. Secara umum, berdasarkan IPD tahun 2014 nilai rata-rata IPD desa dalam Kawasan Perdesaan Wisata adalah 65,05. Nilai ini berada berada dalam kisaran kategori status desa berkembang.

Informasi gambar menunjukkan bahwa Desa Nagasareh memiliki nilai IPD paling rendah yaitu 54,43. Hal ini dikarenakan indikator infrastrukturnya sangat rendah yakni 30,81 atau dengan kata lain kondisi infrastruktur Desa Nagasareh kurang baik dibandingkan desa-desa lain dalam kawasan perdesaan. Kemudian Desa Nepa memilki nilai IPD tertinggi dalam Kawasan Perdesaan Wisata. Data menunjukkan bahwa indikator transportasi di Nepa sangat tinggi yakni 98,60. Hal ini menunjukkan bahwa aksesibilitas desa ini lebih baik dibanding desa-desa lainnya. Namun demikian secara umum status pembangunan desa-desa di dalam Kawasan Perdesaan Wisata adalah berkembang.

Kemudian kondisi dan keberadaan baik jenis maupun jumlah infrastruktur sangat menunjang proses pembangunan Kawasan Perdesaan Wisata. Gambaran kondisi infrastruktur kawasan perdesaan dapat dilihat melalui ketersediaan infrastruktur dalam Kecamatan. Infrastruktur dasar dalam kawasan adalah infrastruktur yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, yakni pendidikan dan kesehatan. Secara umum, infrastruktur kebutuhan dasar, yakni pendidikan dasar dan kesehatan sudah cukup baik. Hanya saja untuk kesehatan belum terdapat rumah sakit. Selain itu, masih dibutuhkan penambahan Puskesmas karena wilayah Kawasan Perdesaan Wisata cukup luas.

Untuk jumlah penduduk Kawasan Perdesaan Wisata adalah 38.418 jiwa, dimana jumlah penduduk laki-laki sebanyak 18.320 jiwa dan perempuan 20.098 jiwa. Dengan demikian, sex ratio penduduk Kawasan Perdesaan Wisata adalah 91,15. Selanjutnya jumlah penduduk desa terbesar adalah Tlagah dengan jumlah 8.739 jiwa, sedangkan desa dengan jumlah penduduk terkecil adalah

Banyusokah dengan jumlah penduduk 2.140 jiwa. Jumlah rumah tangga di kawasan perdesaan ini sebesar 12.552 rumah tangga, dimana dari jumlah tersebut sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Penduduk Kawasan Perdesaan Wisata hampir seluruhnya merupakan etnik Madura yang memeluk agama Islam. Hanya terdapat 29 jiwa yang beragama selain Islam, yakni Kristen Protestan.

Berdasarkan data yang tersedia, potensi utama Kawasan Perdesaan Wisata adalah di sektor pertanian. Luas penggunaan lahan untuk pertanian pada Kawasan Perdesaan Wisata adalah 5,073.64 Ha atau sekitar 80% dari luas wilayah kawasan. Desa yang memiliki lahan pertanian terluas di kawasan adalah Ketapang Timur dengan luas lahan pertanian 1.299,22 Ha. Sedangkan desa dengan penggunaan lahan pertanian terkecil adalah Banyuates seluas 128,70 Ha. Kondisi luas lahan pertanian tersebut memiliki multi player effect untuk serapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomo kawasan. Hal ini bisa dilihat dari jumlah rumah tangga yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Untuk komoditi pertanian yang dikembangkan dalam Kawasan Perdesaan Wisata umumnya adalah pertanian tanaman hortikultura, seperti: semangka, melon, cabe, talas dan tanaman lainnya. Terdapat pula jenis tanaman perkebunan yang hampir tersebara merata di Kawasan Perdesaan Wisata, yakni jambu mete. Berdasarkan kondisi potensi pertanian di kawasan perdesaan, maka tema pengembangan kawasan perdesaan lebih diarahkan pada agrowisata.

Konsep pengembangan Kawasan Perdesaan Wisata diarahkan pada pengembangan kawasan perdesaan wisata berbasis pertanian. Pengembangan ini dilakukan dengan membagi wilayahkawasan dalam 3 klaster, yaitu: 1) Klaster Agro; 2) Klaster Wisata; dan 3) Klaster Pendukung. Setiap klaster tersebut memberikan penguatan terhadap aspek tertentu dalam kawasan, namun antar klaster saling terintegrasi dan melengkapi. Secara konseptual setiap klaster kawasan, terdiri atas beberapa sub sistem. Sub sistem tersebut memberikan penekanan secara fungsional dari apa yang dikembangkan.

Klaster Agro merupakan klaster yang berkaitan langsung dengan pengembangan komoditi pertanian untuk kemudian dikembangkan menjadi agrowisata. Klaster ini terdiri atas sub sistem kelembagaan, sub sistem lahan budidaya, sub sistem pengolahan, sub sistem pemasaran dan sub sistem agrowisata. Klaster Wisata terdiri atas sub sistem hutan Kera Nera, sub sistem Waduk Nipah, sub sistem Air Terjun Toroan dan sub sitem riligi. Sedangkan untuk Klaster Pendukung terdiri atas sub sistem home stay, sub sistem pusat perdagangan dan sub sistem sarana dan prasarana dasar pendukung. Klaster-klaster tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kawasan-kawasan yang akan dikembangkan, yaitu: kawasan wisata desa, kawasan penyangga, kawasan religi dan kawasan agropolitan.

Dalam program pembangunan Kawasan Perdesaan Wisata terdiri atas 3 indikasi program yang direncanakan selama 5 tahun. Indikasi program tersebut adalah: 1) pembangunan destinasi, akses, dan promosi wisata; 2) pengembangan nilai tambah sektor agro; 3) pengembangan kelembagaan kawasan perdesaan wisata. Total pembiyaan pembangunan Kawasan Perdesaan Wisata selama 5 tahun adalah 71.180 juta Rupiah. Pembiayan tersebut berasal dari ADD, APBD Kabupaten, APBD Provinsi dan APBN dengan masing-masing besaran 2%,16%, 62% dan 20%.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jl. Raya Banyuates, Masaran
Kabupaten Sampang
Get directions