Kab.Pemalang

Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah

Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati menjadi salah satu fokus pembangunan berbasis kawasan perdesaan di Kabupaten Pemalang. Dalam RTRW Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029, Kabupaten Pemalang menjadi salah satu wilayah yang pengembangannya difokuskan pada sektor pertanian. Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati terletak di Kecamatan Ulujami dengan deliniasi wilayah mencakup 7 desa, yaitu : Desa Mojo, Kertosari, Ketapang, Limbangan, Kaliprau, Blendung, dan Tasikrejo. Pembangunan Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati adalah berdasarkan hasil kesepakatan bersama antara Tim Inti TKPKP beserta masyarakat yang dalam hal ini direpresentasikan oleh ketujuh kepala desa.

Pendekatan kawasan perdesaan diharapkan mampu mendorong percepatan pembangunan desadesa dalam kawasan. Ikatan sebagai sebuah kawasan akan membangun semangat kerjasama dan gotong royong di masyarakat dalam memaksimalkan potensi dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Kawasan perdesaan adalah salah satu jawaban untuk menjadikan desa-desa menjadi lebih mandiri dengan semangat kebersamaan.

  1. Desa Mojo
  2. Desa Kertosari
  3. Desa Ketapang
  4. Desa Limbangan
  5. Desa Kaliprau
  6. Desa Blendung
  7. Desa Tasikrejo

Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati menjadi salah satu fokus pembangunan berbasis kawasan perdesaan di Kabupaten Pemalang. Dalam RTRW Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029, Kabupaten Pemalang menjadi salah satu wilayah yang pengembangannya difokuskan pada sektor pertanian. Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati terletak di Kecamatan Ulujami dengan deliniasi wilayah mencakup 7 desa, yaitu : Desa Mojo, Kertosari, Ketapang, Limbangan, Kaliprau, Blendung, dan Tasikrejo. Pembangunan Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati adalah berdasarkan hasil kesepakatan bersama antara Tim Inti TKPKP beserta masyarakat yang dalam hal ini direpresentasikan oleh ketujuh kepala desa.

Pendekatan kawasan perdesaan diharapkan mampu mendorong percepatan pembangunan desadesa dalam kawasan. Ikatan sebagai sebuah kawasan akan membangun semangat kerjasama dan gotong royong di masyarakat dalam memaksimalkan potensi dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Kawasan perdesaan adalah salah satu jawaban untuk menjadikan desa-desa menjadi lebih mandiri dengan semangat kebersamaan.

Desa-desa di Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati letaknya berada di sepanjang pantai utara Jawa yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Kehidupan pesisir menjadi corak dari masyarakat kawasan ini, yang tidak terlepas dari sektor perikanan, pertanian dan pariwisata. Jumlah penduduk kawasan sebesar 38.623 jiwa dengan luas wilayah mencapai 12.417,33 ha dan kepadatan penduduk 311 jiwa/km2.

Untuk kebutuhan air bersih di kawasan perdesaan, masyarakat menggunakan air yang bersumber dari sumur artesis. Dari sumur ini kemudian ditampung dalam wadah penampungan air bersih yang selanjutnya dialirkan ke rumah-rumah warga melalui pipa-pipa kecil. Pada saluran pembuangan air, masyarakat masih menggunakan sungai sebagai saluran drainase utama dan drainase sekunder untuk pembuangan limbah rumah tangga.

Berdasarkan skoring IPD tahun 2014 dari BAPPENAS, dari tujuh desa dalam Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati, enam desa diantaranya termasuk dalam kategori desa berkembang, dan satu desa sudah menjadi desa mandiri, yaitu Desa Mojo. Secara umum kondisi desa-desa pada kawasan sudah berada pada kondisi baik. Sehingga pendekatan kawasan perdesaan diupayakan untuk mendorong desa-desa berkembang menjadi desa mandiri, dan desa yang telah tergolong mandiri mampu menjadi penarik bagi desa-desa lain di sekitarnya.

Nilai rata-rata IPD dalam kawasan mencapai 70,52 dengan infrastruktur sebagai bagian yang memiliki nilai terkecil yaitu 53,15. Sementara untuk nilai terbesar yaitu transportasi dengan skor 93,36. Sehingga, di dalam upaya percepatan pembangunan, permasalahan infrastruktur sudah selayaknya menjadi prioritas utama pembangunan kawasan.

Sebagai daerah wisata pesisir dengan pantai yang cukup panjang, kawasan ini tidak memiliki pengelolaan sampah yang baik. Selama ini, pengelolaan sampah di kawasan perdesaan masih bersifat individual oleh karena belum ada tempat pembuangan sampah (TPS) sehingga pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat hanya dibakar atau dibuang di tempat-tempat tertentu. Selain itu, pada Kawasan Perdesaan Ulujami juga masih minim sarana jaringan telekomunikasi. Menara telepon seluler baru ada di satu desa yaitu di Desa Ketapang, dan belum terjangkau jaringan telekomunikasi telepon rumah.

Fasilitas keagamaan pada kawasan terdiri atas masjid dan surau yang jumlahnya cukup banyak dan tersebar di seluruh kawasan. Sementara untuk layanan pendidikan tersedia 4 unit Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 1 unit Sekolah Menengah Atas (SMA). Fasilitas kesehatan hanya berupa Puskemas Pembantu sebanyak 2 unit, dengan jumlah praktek dokter sebanyak 2 orang. Selain itu, dari tujuh desa yang termasuk kawasan, baru terdapat 1 unit pasar dan 6 koperasi serta belum terdapat lembaga keuangan berupa bank pada kawasan.

Komoditas melati di kawasan perdesaan Kecamatan Ulujami merupakan potensi utama selain potensi perikanan, pertanian dan pariwisata. Komoditas melati menjadi komoditas utama di dalam kawasan perdesaan Kecamatan Sentra Agribisnis Melati karena mampu menjadi komoditas yang khas dan pengikat bagi sektor lainnya (perikanan, pertanian dan pariwisata). Pasar dari Melati di Kecamatan Ulujami tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tapi juga sampai internasional. Hal ini terlihat dari tingginya permintaan bahan baku melati baik yang dipasarkan ke pasar lokal, nasional (Kabupaten Tegal dan Slawi), maupun internasional (Singapura dan India). Selain berupa bahan baku mentah, tanaman melati juga dapat diolah menjadi melati ronce pengantin atau upacara tertentu.

Sejauh ini penggunaan lahan di kawasan terbagi dalam dua yaitu lahan sawah (31 persen) dan lahan bukan sawah (69 persen). Untuk lahan pertanian melati sudah cukup luas, meski belum ada data yang memastikan seberapa luas lahan tanaman melati pada kawasan. Jika pertanian melati akan dikembangkan dan menjadi komoditas utama maka perluasan lahan pertanian melati, bisa menjadi salah satu cara untuk dapat meningkatkan produksi melati.

Sejauh ini kekuatan utama dari pertanian melati adalah luas lahan tanaman melati yang sudah cukup luas. Hanya saja, lahan yang berada di pesisir pantai masih rawan dengan bencana banjir rob. Selain itu kondisi jalan dan jembatan penghubung antar desa yang masih buruk membuat distribusi menjadi agak terhambat. Belum lagi, kualitas dan kapasitas SDM di kawasan masih rendah. Tentu peluang pasar yang masih tinggi akan bisa dimaksimalkan jika proses pendistribusian dengan adanya kemudahan angkutan. Ditambah dengan pemberian modal usaha, agar para petani bisa mengembangkan pertanian melati ini dengan lebih baik. Pembentukan BUMDes Bersama bisa menjadi jalan sebagai wadah pengembangan potensi tanaman melati agar terkelola dengan baik.

Sebelum bunga melati dari Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati diterima oleh konsumen, terdapat rantai produksi yang cukup panjang mulai dari proses pemetikan melati oleh petani kemudian disetorkan atau dibeli oleh para pengumpul, dikumpulkan ke agen-agen yang lebih besar, hingga melati tersebut masuk ke pabrik pengolahan, diekspor ataupun dijual di pasar-pasar lokal.

Sejauh ini berdasarkan rantai produksi yang ada, para petani masih belum mendapatkan keuntungan maksimal sehingga pada rencana pengembangan pertanian melati ke depannya akan didorong agar petani dapat menjadi aktor yang mendapatkan keuntungan terbesar dari rantai produksi tersebut. Untuk itu dibutuhkan peran lembaga di tengah masyarakat yang bisa menjadi ‘perusahaan’ bersama sehingga bisa mendorong negosiasi bisnis yang lebih kuat. BUMDes Bersama bisa dijadikan lembaga yang penghubung tersebut. Dengan spirit untuk pembangunan kawasan perdesaan, maka BUMDes adalah lembaga yang tepat untuk menjadi representasi seluruh masyarakat di dalam kawasan. Sehingga nantinya para petani dan pemetik melati dapat menyetorkan hasilnya ke BUMDes yang kemudian baru disetorkan ke agen. Keuntungan dari BUMDes nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian melati yang lebih baik dan maju.

Pada pengembangannya, fokus strategi dan arah kebijakan dalam Kawasan Sentra Agribisnis Melati ini meliputi enam hal penting, yaitu : Pertama, peningkatan produktivitas pertanian tanaman melati (pemberian bantuan bibit unggul tanaman melati, meningkatkan pemahaman petani dalam mengembangkan hasil pertanian, dan mengembangkan sentra-sentra produksi melati di kawasan perdesaan).

Kedua, peningkatan kualitas sarana dan prasarana dasar (memperbaiki kondisi sarana prasarana dasar dan meningkatkan pemerataan sebaran sarana prasarana dasar kawasan perdesaan). Ketiga, pemberian bantuan modal dan sarana pendukung pertanian (meningkatkan jumlah dan kualitas produktivitas pertanian melati). Keempat, pendampingan dan pembinaan masyarakat (meningkatkan  pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan SDM). Kelima, pelaksanaan konservasi mangrove (rehabilitasi area pesisir melalui penanaman bibit pohon mangrove dan meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat akan kelestarian lingkungan). Keenam, pembentukan lembaga ekonomi masyarakat perdesaan (meningkatkan kualitas dan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan pemasaran melati).

Setidaknya terdapat 5 pokok program pada rencana pembangunan Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati yang telah sesuai dengan pokok program dari BAPPENAS, yaitu : (1) Peningkatan fungsi prasarana dasar kawasan; (2) Pengembalian fungsi kawasan pesisir; (3) Peningkatan kualitas dan kapasitas SDM; (4) Sentralisasi produk melati di Kawasan Perdesaan Kecamatan Ulujami; dan (5) Peningkatan produksi pertanian melati.

Rancangan program Pembangunan Kawasan Perdesaan Sentra Agribisnis Melati menghabiskan biaya mencapai 7,84 miliar. Sumber pembiayaan terbesar masih mengharapkan dari APBN yang memakan proporsi 61,2 persen, lalu diikuti oleh APBD Kabupaten dengan proporsi 30,2 persen, sisanya dari APBDesa sebesar 7,38 persen dan APBD Provinsi 1,22 persen. Pelaksana utama dari kegiatan pembangunan kawasan ini adalah Dinas Pekerjaan Umum, Bapermades, Dinas Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Pemalang.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jl. Raya Ulujami No. 72, Ulujami
Kabupaten Pemalang
Get directions