Kab. Ngada

Kecamatan Golewa

  1. Desa Were
  2. Desa Were 1
  3. Desa Were 4
  4. Desa Radabata
  5. Desa Dadawea
  6. Desa Ratugesa
  7. Kelurahan Mataloko
  8. Desa Waeia, Desa Ulabelu

Kecamatan Bajawa

  1. Desa Beiwali
  2. Desa Wawowae
  3. Kelurahan Jawamese
  4. Desa Naru
  5. Kelurahan Susu
  6. Desa Ngoranale
  7. Kelurahan Langageda
  8. Desa Borani
  9. Desa Bomari
  10. Desa Beja

Kecamatan Golewa Barat

  1. Kelurahan Mangulewa
  2. Desa Turekisa
  3. Desa Rakateda 1
  4. Desa Rakateda 2
  5. Desa Watunay
  6. Desa Rakalaba
  7. Desa Sobo
  8. Desa Watunai
  9. Desa Dizi Gedha.

Pembangunan Kabupaten Ngada mengacu pada RPJMN 2015-2019 yang menargetkan 5.000 desa tertinggal meningkat menjadi desa berkembang, dan 2.000 desa berkembang menjadi desa mandiri. Pada konteks itu, untuk pembangunan kawasan perdesaan di Kabupaten Ngada memfokuskan pada lokasi di tiga kecamatan yaitu Golewa Barat, Golewa dan Bajawa. Proses kegiatan Rancangan Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan Kabupaten Ngada dilakukan dengan tiga tahapan proses. Penetapan kawasan ini didahului dengan dibentuknya TKPKP & RPKP lewat FGD di tingkat kabupaten. Tahapan kedua, dilanjutkan FGD di tingkat kawasan yang merumuskan potensi dan indikasi program secara partisipatif. Langkah ketiga dilakukan FGD finalisasi di Kabupaten Ngada yang membahas kembali hasil yang didapatkan di kawasan. Dari hasil FGD tersebut maka ditetapkanlah Kawasan Perdesaan Golewa, Bajawa dan Golewa Barat Kabupaten Ngada yang terletak pada wilayah Kecamatan Golewa sebagai Kawasan Pedesaan Kabupaten Ngada dengan 22 desa dan 6 kelurahan. Penetapan ini dikuatkan dengan SK Bupati Kabupaten Ngada No 319/KEP/HK/2016.

Mencermati peta delineasi maka posisi strategis Kawasan Perdesaan Golewa, Bajawa dan Golewa Barat Kabupaten Ngada, akses pembangunan akan terpusat di wilayah Kecamatan Golewa dengan desa desanya yaitu Desa Were, Desa Were 1, Desa Were 4, Desa Radabata, Desa Dadawea, Desa Ratugesa, Kelurahan Mataloko, Desa Waeia, Desa Ulabelu. Kecamatan Bajawa dengan desa – desanya yaitu Desa Beiwali, Desa Wawowae, Kelurahan Jawamese, Desa Naru, Kelurahan Susu, Desa Ngoranale, Kelurahan Langageda, Desa Borani, Desa Bomari dan Desa Beja. Kecamatan Golewa Barat dengan desa-desanya yaitu Kelurahan Mangulewa, Desa Turekisa, Desa Rakateda 2, Desa Rakateda 1, Desa Watunay, Desa Rakalaba, Desa Sobo, Desa Watunai, dan Desa Dizi Gedha.

Luas wilayah Kecamatan Golewa Barat adalah 94,21 km2 dengan jumlah KK sebanyak 2.362 dan jumlah penduduk sebanyak 11.470 jiwa. Luas wilayah Kecamatan Golewa 74.07 km2 dengan jumlah KK sebanyak 3.577 dan jumlah penduduk sebanyak 18.327 jiwa. Luas wilayah Kecamatan Bajawa 133,30 km2 dengan jumlah KK sebanyak 7.402 dan jumlah penduduk sebanyak 40.016jiwa. Jadi total luas Kawasan Perdesaan Golewa, Golewa Barat dan Bajawa sebesar 301,58 km2,  dengan jumlah penduduk sebanyak 69.813 jiwa.

Terdapat 21 desa yang termasuk desa berkembang dan hanya satu desa yang masih berstatus desa tertinggal yaitu Desa Ulu Belu (44,48). Jadi Kawasan Perdesaan Golewa, Bajawa dan Golewa Barat adalah kawasan yang berstatus sebagai kawasan berkembang. Hal ini pun terlihat dari rataan nilai IPD dari desa – desa dalam kawasan yang mencapai 57,22. Belum ada desa yang masuk dalam kategori desa mandiri, sehingga upaya pembentukan kawasan ini adalah agar mampu mendorong desa – desa dalam kawasan untuk menjadi desa mandiri, dan desa tertinggal menjadi desa berkembang.

Kondisi infrastruktur menjadi pekerjaan rumah terbesar dalam pembangunan Kawasan Perdesaan Golewa, Bajawa dan Golewa Barat, ini ditunjukkan dengan skor infrastruktur dalam IPD kawasan yang hanya 33,47. Karena kehadiran infrastruktur yang berkualitas sangat berpengaruh untuk pembangunan yang lebih luas, maka kondisi infrastruktur saat ini tentulah perlu segera diperbaiki. Untuk sektor yang paling tinggi nilainya adalah bidang transportasi dengan nilai mencapai 86,6. Kondisi transportasi yang sudah terbilang baik ini bisa menjadi modal penting, karena menandakan keterbukaan akses kawasan dengan daerah lain.

Potensi komoditas pertanian di Kawasan Perdesaan Golewa, Bajawa dan Golewa Barat khususnya tanaman pangan cukup menjanjikan. Tanaman pangan yang potensial di kawasan adalah jagung, padi sawah dan padi ladang. Selain tanaman pangan, tanaman perkebunan juga potensial, seperti tanaman kopi, kelapa, kakao, cengkih. Pada bidang peternakan, ternak sapi bisa jadi andalan kawasan.

Untuk tanaman jagung mampu berproduksi dalam satu tahun sampai 4.050 ton, padi sawah menghasilkan 700 ton, dan padi ladang sampai produksi 200 ton. Untuk tanaman perkebunan, yaitu kopi kurang lebih di kawasan terdapat 380 ribu pohon, kelapa 15 ribu pohon, kakao 22 ribu pohon, dan cengkih terdapat 36 ribu pohon. Identifikasi peternakan sapi di kawasan ada sekitar 2.709 ekor.

Jika menilik data tersebut, pada pertanian tanaman pangan, jagung menjadi potensi terbesar dengan luasan areal paling luas (1.350 ha) dan produksi tertinggi (4.050 ton). Pada komoditas perkebunan pun sangat menjanjikan, dengan ketersediaan pohon kopi yang banyak (380.000 pohon). Komoditas tanaman kopi dipilih sebagai komoditas unggulan, tanaman kebun kopi dianggap bisa menjadi leading sectornya. Potensi pertanian dan perkebunan akan didorong sebagai kegiatan bisnis (investasi) di kawasan.

Konsep agribisnis dari sektor hulu sampai sektor hilir akan menjadi konsep pengembangan Kawasan Perdesaan Golewa, Bajawa dan Golewa Barat. Tujuan dari sistem agribisnis dari hulu sampai hilir agar komoditi produksi pertanian dan perkebunan mengalami peningkatan nilai sehingga mampu meningkatkan harga jualnya. Mekanisme ini akan membuka ruang bagi masyarakat kawasan untuk terlibat. Karena pada hakekatnya tujuan pengembangan kawasan adalah untuk menyejahterakan kehidupan masyarakat desa.

Sistem agribisnis yang dirancang adalah mensinergikan antar sektor hulu dan hilir. Meski begitu sektor hulu-hilir ini ini harus disanggah oleh subsektor hulu dan subsektor hilir dan tentu saja muaranya ada pada subsektor penunjang. Sektor hulu seperti produksi perkebunan dan pertanian kesektor hilir berupa pengembangan tanaman perkebunan kopi menjadi produksi kopi bubuk, dan Pengembangan tanaman pangan (padi, jagung dan ubi-ubian). Untuk subsektor hulu ada SDM, gudang penyimpanan, jalan usahatani, sarana prasarana produksi, listrik dll diiringi subsektor hilir berupa SDM, alat pasca panen dan pengolahan (Rumah kemasan). Sub sektor penunjang adalah aksesibilitas/transportasi, sistem pemasaran online, peningkatan kapasitas SDM, Kelembagaan BUMDes, koordinasi pra-musrenbang dan sistem informasi desa/kawasan.

Pembangunan kawasan perdesaan memusatkan pada kegiatan produksi pertanian dan perkebunan, lebih khusus tentang pengembangan kopi. Kegiatan ini bisa diawali dengan pengadaan sarana/prasarana pengolahan hasil perkebunan, diikuti oleh kegiatan pengolahan hasil perkebunan, kegiatan kapasitas perencanaan, pengganggaran dan sampai monitoring.

Selain itu, kegiatan pembangunan data desa dan kawasan perdesaan perlu dilakukan dengan adanya koordinasi perencanaan dan penganggaran antar desa dengan TKPKP. Praktek menjalankan usahanya lalu dilakukan dengan pembentukan kelembagaan usaha, peningkatan kapasitas petani dan kembali menuju kegiatan produksi pertanian yang lebih eksis.

Pokok program di Kawasan Perdesaan Golewa, Bajawa dan Golewa Barat menyasar 7 kegiatan, yaitu: (1) Pembangunan rehabilitasi sarana dan prasarana transportasi, (2) Pembangunan dan/atau rehabilitasi sarana produksi sentra industri pengolahan hasil pertanian, perikanan serta destinasi pariwisata, (3) Pembangunan dan/atau pemeliharaan sarana bisnis/pusat bisnis di kawasan ekonomi pedesaan, (4) Pembangunan suplay energi untuk pemenuhan domestik dan industri, (5) Pembangunan kerjasama antar desa, daerah, KPS, BUM antar desa, (6) Pengembangan lembaga keungan mikro di daerah, dan (7) Penerapan TIK untuk memfasilitasi perdagangan dan pertukaran informasi.

Mekanisme pembiayaan untuk rancangan program di Kawasan Perdesaan Golewa, Bajawa dan Golewa Barat adalah sebesar 113,5 Milyar. Anggaran sebesar itu terbagi dalam tiga sumber dana yaitu APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten. Pembiayaan dari APBN menjadi sumber anggaran terbesar sampai 86,5 Milyar atau 76 persen. Sedangkan APBD Provinsi dan APBD Kabupaten relatif memiliki proporsi yang tidak jauh berdeda. APBD Provinsi dibebankan 13 Milyar (11 Persen) dan APBD Kabupaten dibebankan 13,9 Miliar (12 persen).

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mangulewa, Golewa, Mangulewa, Ngada
Kabupaten Ngada
Get directions