Kab. Manggarai Barat

  1. Desa Komodo
  2. Desa Pasir Panjang
  3. Desa Papagarang
  4. Desa Pasir Putih
  5. Desa Warloka
  6. Desa Mancang Tanggar
  7. Desa Golo Mori
  8. Desa Tiwu Nampar
  9. Desa Pantar
  10. Desa Golo Pongkor
  11. Desa Compang Longgo

Pembangunan kawasan perdesaan di Kabupaten Manggarai Barat mengacu pada RPJMN 20152019 guna mensukseskan 5.000 desa tertinggal meningkat menjadi desa berkembang, dan 2.000 desa berkembang menjadi desa mandiri. Kawasan perdesaan fokus pembangunan di Kabupaten Manggarai Barat adalah Kawasan Perdesaan Komodo yang terletak di Kecamatan Komodo. Ada 11 (sebelas) desa yang masuk dalam kawasan, yaitu: Desa Komodo, Desa Pasir Panjang, Desa Papagarang, Desa Pasir Putih, Desa Warloka, Desa Mancang Tanggar, Desa Golo Mori, Desa Tiwu Nampar, Desa Pantar, Desa Golo Pongkor dan Desa Compang Longgo. Pusat pertumbuhan kawasan perdesaan disepakati adalah Desa Papagarang.

Penetapan kawasan ini didahului dengan dibentuknya TKPKP & RPKP lewat FGD di tingkat kabupaten (teknokratis). Setelah FGD berlangsung untuk penetapan kawasan perdesaan, dilanjutkan dengan penyusunan potensi dan Indikasi program di kawasan (partisipatif). Hasil dari kawasan kemudian dibawa lagi ke tingkat kabupaten untuk diberikan masukan dan lalu diputuskan dengan SK Bupat Kabupaten Manggarai Barat.

Desa-desa dalam Kawasan Perdesaan Komodo hampir semuanya adalah desa tertinggal jika menggunakan indikator IPD dari BAPPENAS. Hanya ada satu desa yang sudah berstatus sebagai desa berkembang yaitu Desa Golo Pongkor dengan nilai 55,04. Sepuluh desa lainnya masih berstatus sebagai desa tertinggal. Desa Tiwu Nampar merupakan desa dengan nilai IPD terkecil yaitu 32,33. Jika diambil rata-rata nilai IPD dari seluruh desa di kawasan akan didapatkan nilai IPD Kawasan Perdesaan Komodo sebesar 41,55. Berarti berdasarkan nilai IPD, Kawasan Perdesaan Komodo masuk dalam kawasan tertinggal. Dari lima indikator dari pembentuk nilai IPD, secara ratarata baru ada dua indikator, yaitu aspek transportasi dan pemerintahan yang memiliki nilai di atas 50 (batas antara status tertinggal dan berkembang). Kondisi infrastruktur menjadi aspek yang paling buruk, karena memiliki nilai yang hanya 21,64.

Jika diidentifikasi keberadaan berbagai fasilitas umum di Kawasan Perdesaan Komodo, sebenarnya telah ada fasilitas mulai dari keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan telekomunikasi. Untuk kegiatan keagamaan terdapat 19 unit masjid, 9 unit surau/langgar, 1 unit Gereja Katholik dan 5 unit kapel. Kegiatan belajar mengajar di kawasan telah didukung oleh 22 unit Sekolah Dasar (SD), 10 unit Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan satu unit Sekolah Menangah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Puskesmas tanpa rawat inap terdapat 1 unit dan puskesmas pembantu ada 4 unit untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat kawasan. Adapun untuk bidang perekonomian teridentifikasi telah ada 2 unit pasar, 64 warung kelontong, dan 2 unit koperasi. Sedangkan untuk kebutuhan telekomunikasi dengan adanya menara telepon seluler baru ada di satu desa, yaitu Desa Komodo.

Jika menilik posisi Kawasan Perdesaan Komodo yang terletak di Kecamatan Komodo, maka kawasan ini memiliki posisi strategis dalam Kabupaten Manggarai Barat. Kawasan Perdesaan Komodo merupakan bagian dari jaringan pembangunan obyek Wisata Komodo yang telah menjadi salah satu icon wisata dunia di Indonesia. Selain itu dalam kawasan juga ada usaha perikanan tangkap dan budidaya yang mengelilingi daerah kawasan. Kegiatan pariwisata dan pertanian-perikanan tangkap-budidaya dapat menunjang aktivitas ekonomi terutama untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Potensi unggulan pertama dari Kawasan Perdesaan Komodo adalah pariwisata dengan ditunjang oleh bidang pertanian, perikanan dan perkebunan. Bidang pariwisata di Kawasan Perdesaan Komodo sudah sangat terkenal baik di domestik maupun di dunia internasional. Secara akses transportasi menuju kawasan sudah sangat baik, apalagi ditambah dengan akses transportasi ke daerah wisata lain yang juga muda, seperti ke/dari Bali, demikian juga ke/dari Danau Kelimutu di Kabupaten Ende dan ke/dari Kupang sebagai ibukota provinsi NTT. Sehingga, posisi pariwisata dari Kawasan Perdesaan Komodo sangat strategis bahkan sering disebut dalam kawasan ‘Segitiga Emas‘ (The Golden Triangle) destinasi wisata yang memiliki peluang yang luar biasa.

Potensi lainnya di Kawasan Perdesaan Komodo adalah di bidang pertanian dan perikanan. Potensi komoditi pertanian khususnya tanaman pangan seperti padi sawah yang memiliki luas wilayah sebesar 2.391 Ha dan untuk padi ladang memiliki luas wilayah sebesar 651 Ha. Pada komoditi perikanan yang terdata adalah ikan kerapu yang berproduksi 58.721 kg, dan kepiting sampai 224.759 kg.

Pada pengembangan Kawasan Perdesaan Komodo dengan basis pariwisata, pertanian, perikanan dan perkebunan akan dikembangkan dengan sinergitas mulai dari sektor hulu sampai sektor hilir. Mekanisme ini dilakukan agar khususnya komoditi produksi pertanian/perikanan memiliki value added yang memiliki daya/nilai saing dipasar, sehingga pada akhirnya mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat desa. Sektor hulu dan hilir ini harus disanggah oleh subsektor hulu, subsektor hilir dan juga subsektor penunjang.

Sektor hulu seperti produksi pada komoditi padi sawah dan padi ladang menjadi beras organik. Untuk sektor perikanan tangkap ikan pelagis, demersal menjadi ikan beku dengan tersedianya cold storage mobile untuk menjangkau desa-desa pesisir dan aneka olahan ikan (dendeng, abon, presto dan lainnya). Demikian juga untuk lobster dan kepiting kenari yang sangat luar biasa cita rasanya bila diolah menjadi kuliner yang memiliki daya saing tinggi. Pariwisata berupa sovenir ciri khas Komodo (gantungan kunci, boneka kecil, alat tulis-menulis, perhiasan dan lainnya). Untuk subsektor hulu meliputi adanya BUMDes, revitalisasi TPI, sarana/prasarana pariwisata sedangkan subsektor hilirnya berupa rumah kemasan. Sub sektor penunjang adalah energi & listrik, jalan, pembangunan cargo port, air bersih, research centre, fasilitas kesehatan untuk turis, pengembangan bandara komodo, pengembangan sistem IPAL dan lain-lain.

Program-program pembangunan kawasan perdesaan dipusatkan pada kegiatan produksi perikanan, pertanian dan perkebunan kemudian diselaraskan dengan adanya kegiatan peningkatan sarana-prasarana pariwisata komodo dan seterusnya diikuti oleh kegiatan peningkatan masyarakat sadar wisata, kegiatan peningkatan kapasitas perencanaan, pengganggaran dan monitoring.

(Gambar .304)

Kondisi ini perlu dilakukan agar ada kegiatan peningkatan akses pemasaran sebagai salah satu kegiatan pembangunan data desa, kawasan perdesaan perlu dilakukan dengan adanya koordinasi perencanaan dan penganggaran antar desa dengan TKPKP kemudian dilakukan pembentukan kelembagaan usaha, peningkatan kapasitas petani, nelayan, pengrajin dan kegiatan pengadaan sarana dan prasarana produksi hasil perikanan dan pertanian, setelah itu kembali menuju kegiatan produksi perikanan, pertanian dan perkebunan yang lebih eksis. Keberlanjutan tugas adalah ikut mengawal penyusunan APBD APBDes dan hasil kolaborasi bersama RKPD dan RKPDes.

Pokok program kegiatan di Kawasan Perdesaan terdapat 11 kegiatan, yaitu: (1) pembangunan/rehabilitasi sarana dan prasarana transportasi, (2) pembangunan dan/atau rehabilitasi secara produksi, sentra industri pengolahan hasil pertanian dan perikanan serta destinasi pariwisata, (3) pembangunan dan/atau pemeliharaan sarana bisnis/pusat bisnis dikawasan ekonomi pedesaan, (4) penerapan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing, (5) pembangunan suplai energi untuk pemenuhan domestik dan industri, (6) pengembangan pendidikan kejuruan untuk meningkatkan inovasi dan kreatifitas lokal, (7) pengembangan kerjasama antar desa, daerah, kps, bum antar desa, (8) pengembangan lembaga keuangan mikro di daerah, (9) penerapan TIK untuk memfasilitasi perdagangan dan pertukaran informasi, (10) peningkatan PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu), (11) program nasional pengembangan Wisata Komodo.

Mekanisme pembiayaan untuk rancangan program di Kawasan Perdesaan Komodo, adalah sebesar 88,75 Milyar. Anggaran sebesar itu terbagi dalam empat sumber dana yaitu APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten dan APB Desa. Pembiayaan dari APBN menjadi sumber anggaran terbesar sampai 79,7 Milyar atau 90 persen dari total anggaran. Sedangkan APBD Provinsi anggarannya 1 Milyar atau 1 persen, APBD Kabupaten mencapai 6,6 Milyar atau 7 persen dan APB Desa 1,4 Miliar atau 2 persen.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komodo Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Tim.
Nusa Tenggara Tim.
Get directions