Kab.Mandailing Natal

  1. Desa Alahan Kae
  2. Desa Huta Padang
  3. Desa Habincaran

Berdasarkan RTRW Kabupaten Mandailing Natal, posisi strategis kawasan dilihat dari sudut kepentingan ekonomi yaitu kawasan strategis agropolitan dataran tinggi dengan arahan pengembangan optimalisasi potensi sumber daya alam yang berbasis pada pertanian sebagai pusat agrobisnis dan agro industri. Kabupaten Mandailing Natal merupakan salah satu Kabupaten di Sumatera Utara yang dikenal dengan produksi kopinya yang khas namun pengembangannya belum maksimal. Masalah yang sering dihadapi oleh petani kopi diantaranya tanaman yang sering terserang hama dan jamur, kelembagaan petani yang belum terbangun dan beberapa masalah lainnya yang tekait dengan proses budidaya maupun pascapanen sehingga perlu didorong untuk dikembangkan.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2014 tentang Desa mengenai “desa membangun” dan program prioritas pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla yaitu butir Ke-3 Nawacita yang berbunyi “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan” sehingga perencanaan dan penetapan pembangunan kawasan perdesaan sangatlah diperlukan.

Pembentukan kawasan perdesaan di Kabupaten Mandailing Natal ditetapkan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan pada hari Selasa, 11 Oktober 2016 dan ditandatangani oleh Camat Ulu Pungkut, Kepala Desa Huta Padang, Kepala Desa Alahan Kae, Kepala Desa Habincaran dan Lurah Huta Godang. Kawasan perdesaan yang disepakati untuk dikembangkan adalah Kawasan Perdesaan Agropolitan Kopi.

Kawasan Perdesaan Agropolitan Kopi memiliki total luas wilayah sebesar 94 ha. Desa dengan presentase luas wilayah desa terhadap luas wilayah kawasan total tertinggi adalah Desa Huta Godang yaitu sebesar 48%. Setelah itu Desa Huta Godang, Desa Huta Padang dengan persentase sebesar 27% dan diikuti oleh Desa Alahan Kae dengan persentase luas wilayahnya sebesar 17% serta Desa Habibincaran sebesar 8%. Secara topografi, ketiga desa dalam kawasan merupakan lereng sedangkan Desa Huta Godang berada di dataran. Sebagian besar lahan yang merupakan punggung bukit atau sudah termasuk dataran tinggi sangat baik untuk pertumbuhan tanaman kopi.

Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD), terdapat dua desa dalam Kawasan PerdesaanAgropolitan Kopi yang termasuk dalam kategori desa berkembang yaitu Desa Alahan Kae (55,41) dan Desa Huta Padang (54,64). Sedangkan Desa Habincaran (48,25) termasuk ke dalam kategori desa tertinggal. Berdasarkan indeks tersebut, diharapkan dengan adanya program pembangunan kawasan perdesaan dapat membantu mendorong desa tertinggal menjadi desa berkembang dan desa berkembang menjadi desa mandiri.

Sarana, prasarana dan infrastruktur di Kawasan Perdesaan Agropolitan Kopi masih dalam kondisi minimalis. Hal ini terlihat dari sedikitnya jumlah sarana dan prasarana yang terdapat di dalam kawasan tersebut. Fasilitas ibadah keagamaan hanya terdapat 6 unit masjid. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk di Kawasan Perdesaan Agropolitan Kopi mayoritas beragama Islam. Sarana dan prasana di bidang pendidikan juga terbilang sangat minim diantaranya Taman Kanak-kanak (TK) sebanyak 1 unit, Sekolah Dasar (SD) sebanyak 4 unit, Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 1 unit dan Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA/ SMK) sebanyak 1 unit. Sedikitnya jumlah sarana pendidikan memungkinkan banyaknya penduduk yang harus keluar wilayah kawasan untuk bersekolah. Selain itu, sedikitnya jumlah sarana pendidikan ini juga dikarenakan oleh luas wilayah dan jumlah penduduk kawasan yang relatif kecil sehingga sudah tercukupi oleh sarana yang tersedia.

Dalam mendukung perekonomian, sarana yang tersedia yaitu 1unit pasar dalam kawasan. Selain itu, tersedia 2 unit koperasi dan 16 unit bank untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam hal keuangan dan perbankan. Dalam hal akses informasi dan telekomunikasi di Kawasan Perdesaan Agropolitan Kopi juga sudah didukung oleh adanya 8 unit kantor pos dan 8 unit menara telepon seluler. Dal bidang perekonomian dan informasi serta telekomunikasi, sarana dan prasana yang tersedia dalam kawasan terbilang cukup memadai sehingga dapat mendukung keberhasilan program pembangunan kawasan perdesaan yang akan dilakukan. Tidak adanya penginapan dalam kawasan menandakan bahwa kawasan ini bukan lokasi tujuan wisata.

Jumlah penduduk di Kawasan Perdesaan Agropolitan Kopi sebanyak 1.598 jiwa yang terdiri dari penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 772 jiwa dan penduduk dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 826 jiwa. Jika melihat komposisi penduduk dalam kawasan, pada setiap desa

penduduk perempuan selalu lebih banyak daripada penduduk laki-laki, kecuali Desa Huta Godang yang komposisinya seimbang antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya penduduk laki-laki yang mencari nafkah di luar kawasan sehingga harus meninggalkan
kawasan dalam jangka waktu tertentu.

Berdasarkan peta penggunaan lahan Kawasan Perdesaan Agropolitan Kopi, terlihat bahwa penggunaan lahan dalam kawasan didominasi oleh hutan, kemudian tanah ladang. Penggunaan lahan ini sejalan dengan ketinggian wilayah yang dominan dataran tinggi sehingga tanaman kopi sangat cocok untuk dibudidayakan di dalam kawasan perdesaan ini.

Setiap desa atau kelurahan dalam kawasan ini memiliki potensinya masing-masing. Potensi yang terdapat di Desa Habincaran diantaranya perkebunan kopi seluas 50 Ha, lahan sawah seluas 80 Ha, kebun karet seluas 20 Ha, kebun coklat 5 Ha dan kebun holtikultura 15 Ha. Sedangkan, Desa Huta Padang memiliki potensi dalam bidang pertanian berupa adanya perkebunan kopi, tanaman cabai,tembakau, kentang, rosella dan karet. Komoditas yang berpotensi sangat baik di Desa Alahan Kae yaitu padi, karet, kayu manis, kakao, padi, kopi dan beberapa jenis buah-buahan. Sedangkan Kelurahan Huta Godang memiliki komoditas yang berpotensi yaitu kentang dengan kualitas yang sangat baik, kopi, karet, kulit manis coklat dan padi.

Tanaman Kopi sebenarnya menjadi komoditas yang baru dikembangkan dalam 1-2 tahun terakhir akibat menurunnya harga karet yang sebelumnya menjadi komoditi unggulan masyarakat. Namun, karena semua desa atau kelurahan dalam kawasan ini memiliki potensi dalam hal perkebunan kopi sehingga komoditas yang diunggulkan dalam kawasan ini adalah tanaman kopi. Adapun komoditas yang menunjang komoditas unggulan adalah komoditas holtikultura seperti kentang, cabe, kacang dan bawang yang dibudidayakan dengan metode tumpang sari.

Konsep pengembangan Kawasan Perdesaan Agropolitan Kopi disusun agar pembangunan yang dilakukan dapat terencana dan terarah serta berhasil mencapai tujuan yang diharapkan.Kawasan yang basis utamanya adalah pertanian ini memiliki konsep pengembangan hulu hingga ke hilir. Artinya, adanya rencana pengembangan mulai dari budidaya hingga pascapanen. Terdapat 3 subsektor untuk mengembangkan sektor pertanian yaitu subsektor on farm untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi, subsektor off farm yang fokus pada penanganan pascapanen dan subsektor non farm sebagai sub sektor penunjang. Aktivitas yang dilakukan dalam subsektor on farm yaitu pengadaan bibit unggul, pengadaan obat hama dan jamur. Sementara itu, untuk subsektor supporting terkait dengan penguatan kapasitas dilakukan pelatihan penanaman kopi dan pelatihan penanaman holtikultura. Dalam subsektor off farm, aktivitas yang dilakukan adalah pembangunan sentra pengolahan kopi, pembangunan jalan dan jembatan, pengadaan mesin pengering dan pelatihan pengolahan kopi. Sedangkan dalam subsktor non farm, aktivitas yang dilakukan untuk mengembangkan kawasan yaitu pendirian organisasi non-profit, pendirian lembaga keuangan dan penguataan kelembagaan koperasi dan poktan. Semua aktivitas yang dilakukan mulai dari hulu hingga ke hilir ini nantinya akan memberikan hasil akhir berupa produk olahan akhir berupa biji dan bubuk kopi siap konsumsi.

Program pembangunan Kawasan Perdesaan Agropolitan Kopi dirancang untuk dilaksanakan dalam lima tahun kedepan yaitu mulai dari Tahun 2017 sampai 2021. Terdapat 8 program yang menjadi program unggulan kawasan ini yaitu : (1) program peningkatan kualitas tanaman kopi, (2) program peningkatan produktivitas tanaman kopi, (3) program peningkatan kualitas dan produktivitas tanaman holtikultura, (4) program perbaikan infrastruktur penunjang agropolitan kopi, (5) program pengadaan sarana dan prasarana pengolahan kopi, (6) program pelatihan budidaya tanaman kopi, (8) program pelatihan budidaya tanaman holtikultura dan (9) program penguatan kelembagaan petani.

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rencana program di Kawasan Perdesaan Agropolitan Kopi dengan total anggaran sebesar 3,407 miliar berasal dari 3 sumber yaitu ADD, APBD Kabupaten, dan APBN. Sumber pembiayaan program terbesar berasal dari APBD Kabupaten dengan persentase sebesar 51%. Setelah APBD Kabupaten, sumber pembiayaan program yang berasal dari ADD sebesar 27% dan APBN sebesar 22%. Pembiayaan program dari ketiga sumber sudah tersebar secara proporsional. Namun, perlu diperhatikan lagi pembiayaan yang bersumber dari APBD Provinsi dan pihak ketiga untuk dilibatkan agar program yang dilaksakan dalam kawasan ini merupakan hasil kerja sama dan dukungan dari berbagai pihak.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Aek Manggis Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara
Sumatera Utara
Get directions