Kab.Lebak

Kecamatan Bayah

  1. Desa Sawarna Timur

Kecamatan Cilograng

  1. Desa Cikatomas
  2. Desa Gunungbatu
  3. Desa Cilograng
  4. Desa Lebaktipar.

Merujuk pada UU No. 4/2014 tentang Desa, Program Prioritas Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla melalui Nawa Cita Butir ke-3 yang berbunyi “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”, serta Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan, maka dibentuklah kawasan perdesaan di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Berdasarkan RTRW Provinsi Banten tahun 2010- 2030, Kabupaten Lebak menjadi wilayah yang diarahkan untuk pengembangan dalam sektor pertanian.

Pembentukan kawasan perdesaan di Kabupaten Lebak dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan para stakeholder pada hari Senin, 3 Oktober 2016. Kawasan perdesaan yang akan dikembangkan di kabupaten ini adalah Kawasan Perdesaan Sentra Komoditas Pisang. Kawasan ini terdiri dari dua kecamatan dan lima desa. Kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Bayah meliputi Desa Sawarna Timur dan Kecamatan Cilograng meliputi Desa Cikatomas, Desa Gunungbatu, Desa Cilograng dan Desa Lebaktipar.

Kawasan Perdesaan Sentra Komoditas Pisang dipilih dengan beberapa pertimbangan yaitu, (1) desa – desa dalam kawasan tersebut mayoritas sebagai memiliki usaha dengan komoditas pisang dan merupakan produsen pisang terbesar di Kabupaten Lebak, (2) sejalan dengan Rencana Strategis Provinsi Banten dan Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak untuk memantapkan pengusahaan komoditas berbasis sumber daya alam di wilayah Banten Selatan khususnya Lebak dan (3) kawasan ini terletak di jalur Nasional Lintas Selatan Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat dan, sehingga memiliki nilai strategis secara Nasional.

Kawasan Perdesaan Sentra Komoditas Pisang memiliki luas wilayah sebesar 48,3 km2. Desa terluas dalam kawasan ini adalah Desa Lebaktipar dengan persentase sebesar 33% sedangkan desa yang paling kecil luasannya adalah Desa Gunungbatu dengan persentase sebesar 12%.

Kawasan Perdesaan Sentra Komoditas Pisang berbatasan dengan kecamatan lain dalam Kabupaten Lebak. Sebelah Barat, kawasan ini berbatasan dengan Kecamatan Panggarangan. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Cibeber. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi. Perbatasan sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia. Rata – ketinggian dataran kawasan ini antara 4 sampai dengan 500 meter di atas permukaan laut. Curah hujan rata – rata pada tahun 2013 sekitar 17,59 mm. Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD), kelima desa dalam Kawasan Perdesaan Sentra Komoditas Pisang termasuk ke dalam kategori desa berkembang. Nilai IPD yang dimiliki desa – desa tersebut yaitu Desa Lebaktipar (60,3), Desa Cilograng (54,38), Desa Gunungbatu (68,58), Desa Cikatomas (65,01) dan Desa Sawarna Timur (56,11). Berdasarkan indeks tersebut, diharapkan dengan adanya program pembangunan kawasan perdesaan dapat membantu mendorong desa berkembang menjadi desa mandiri.

Sarana, prasarana dan infrastruktur di Kawasan Perdesaan Pengembangan Sentra Komoditas Pisang memiliki jumlah yang sudah terbilang cukup. Fasilitas ibadah keagamaan tersedia 35 unit masjid dan tidak tersedia fasilitas ibadah untuk agama lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk kawasan ini beragama Islam.

Sarana dan prasana di bidang pendidikan diantaranya terdapat sebanyak 3 unit Taman Kanakkanak (TK), sebanyak 16 unit Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 5 unit dan SMA atau SMK dalam kawasan ini sebanyak 3 unit. Dalam mendukung perekonomian, sarana yang tersedia yaitu sebanyak 1 unit pasar dan 20 unit bank untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam hal keuangan dan perbankan. Dalam hal akses informasi dan telekomunikasi di Kawasan Perdesaan Sentra Komoditas Pisang juga sudah didukung oleh adanya 9 unit kantor pos dan 6 unit menara telepon seluler.

Beradasarkan data mengenai sarana, prasarana dan fasilitas tersebut, dapat dilihat bahwa tidak terdapat koperasi dalam kawasan sehingga perlu dipertimbangkan untuk membentuk koperasi sebagai lembaga yang akan membantu masyarakat dalam kegiatan produksi maupun pascaproduksi komoditas kawasan. Selain itu, terlihat juga dalam kawasan tidak ada fasilitas penginapan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini memang bukan difokuskan pada pariwisata yang akan mengundang banyak turis untuk berkunjung. Berdasarkan hasil fasilitasi di lapang, diperoleh data bahwa sekitar 10% rumah tangga belum memiliki akses air minum yang layak dan sekitar 30% penduduk yang belum memiliki jamban sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Kawasan Perdesaan Sentra Komoditas Pisang masih membutuhkan pembangunan dalam hal sarana dan prasarana.

Jumlah penduduk yang berada di dalam Kawasan Perdesaan Sentra Komoditas Pisang berjumlah 14.846 jiwa. Kepadatan penduduk yang terjadi di setiap desa dalam kawasan ini memiliki angka yang beragam. Desa dengan penduduk terpadat adalah Desa Gunungbatu dengan kepadatan 445 jiwa/km2. Sedangkan desa dengan kepadatan penduduk terendah adalah Desa Lebaktipar dengan angka kepadatan penduduk sebanyak 187 jiwa/km2. Jumlah rumah tangga (RT) dalam kawasan sebanyak 6.956 dan rata-rata anggota RT sebanyak 3 orang. Mayoritas Penduduk atau sebesar 65% dari jumlah ptotal penduduk kawasan adalah usia produktif yaitu berusia 15-64 tahun. Lebih dari 50% penduduk bekerja di sebagai petani dan sebesar 30% sebagai buruh tani.

Desa – desa dalam Kawasan Perdesaaan Sentra Komoditas Pisang memiliki potensi yang mendukung tema pengembangan kawasan sebagai kawasan penghasil pisang sebagai komoditas utama. Kelima desa dalam kawasan ini berpotensi dalam bidang pertanian dengan produk unggulan padi sawah, pisang, kacang tanah, durian, jagung, mangga, ubi jalar dan ubi kayu. Selain pertanian, khusus untuk Desa Sawarna Timur juga berpotensi dalam bidang industri perdagangan dengan produk yang dihasilkan berupa sale pisang dan meubelair. Sedangkan keempat desa lainnya, selain pertanian juga berpotensi dalam bidang perdagangan.

Potensi Kawasan Perdesaaan Sentra Komoditas Pisang didukung oleh sumber daya alam berupa lahan padi sawah yang dimiliki kawasan ini seluas 901 Ha. Lahan padi sawah tersebut dapat menghasilkan hingga 7.055 ton padi/tahun dan produktivitasnya 380,5 ton/tahun. Selain itu, terdapat sekitar 180.000 pohon pisang yang dibudidayakan. Produktivitasnya mencapai 2.572,7 ton/tahun. Setiap pohon rata – rata produktivitasnya sebesar 14 kg/pohon/tahun. Nilai ekonomi komoditas padi mencapai 28,22 milyar rupiah sedangkan pisang mencapai 14,15 milyar rupiah/tahun. Berdasarkan potensi ini, Kawasan Perdesaaan Sentra Komoditas Pisang ini sangat mendukung untuk dikembangkan.

Konsep pengembangan Kawasan Perdesaaan Sentra Komoditas Pisang disusun agar pembangunan yang dilakukan dapat terencana dan terarah serta berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Kawasan yang mengunggulkan pertanian khususnya dengan komoditas pisang ini memiliki 3 subsektor dalam konsep pengembangannya. Ketiga subsektor tersebut yaitu subsektor on-farm, subsektor off-farm dan subsektor non-farm.

Pada subsektor on-farm, pengembangan dilakukan dalam bidang pertanian tanaman pangan serta tanaman non pangan. Untuk mengembangkan pertanian tanaman pangan, aktivitas yang dilakukan yaitu, (1) membangun jalan pertanian dan poros, (2) membangun jaringan irigasi teknis, (3) meningkatkan produktivitas dan mutu hasil dan (4) menyediakan saprotan yang terjangkau. Sedangkan untuk mengembangkan tanaman non pangan, kegiatan yang dilakukan adalah (1) melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi, (2) menyediakan bibit unggul dan pelatihan budidaya tanaman non-pangan dan (3) menjamin pembelian hasil panen sesuai HBP.

Pada subsektor off-farm, pengembangan difokuskan pada pengolahan dan standarisasi, pemasaran dan menjaga stabilitas harga produk pertanian. Aktivitas yang dilakukan dalam hal pengolahan dan standarisasi produk pertanian adalah dengan cara menyediakan mesin penggiling gabah sesuai luasan lahan dan hasil pertanian dan melatih dan menyediakan fasilitas pengolahan pasca panen khususnya untuk komoditas pisang. Sedangkan dalam hal pemasaran dan penjagaan stabilitas harga produk pertanian, upaya yang dilakukan adalah dengan memasarkan hasil panen langsung ke pasar tidak melalui tengkulak dan memantau dinamika harga melalui media sosial atau online.

Pada subsektor non-farm, pengembangan difokuskan pada pengolahan sale pisang dan industri kerajinan rumah tangga. Untuk mengembangkan pengolahan sale pisang, upaya yang dilakukan adalah dengan cara menyediakan sarana-prasarana pendukung usaha kerajinan sale pisang serta meluaskan segmen pasar melalui media sosial atau online. Sedangkan untuk mengembangkan industri kerajinan rumah tangga, upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan pelatihan produksi, pengemasan, standarisasi dan sertifikasi dan menyediakan galeri sebagai display kepada para wisatawan sepanjang jalan menuju dan pulang dari obyek wisata di Sawarna. Ketiga subsektor dalam konsep pengembangan tersebut ditunjang dengan adanya berbagai lembaga

seperti BUMDES setiap desa, perbankan atau lembaga keuangan, perguruan tinggi dan bantuan dari lembaga lainnya. Lembaga – lembaga ini tergabung dalam BUMDESA Bersama yang berperan sebagai holding, menangani usaha atau kerjasama tingkat kawasan serta berusaha menjaga HBP. Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESA Bersama) dapat berupa pasar induk, pasar modern, mini market, perusahan wisata atau biro perjalanan, parikan eksportir dan lembaga lainnya. BUMDESA Bersama ini juga akan bergerak dalam berbagai unit usaha diantaranya unit usaha sarana produksi pertanian dan pengepul padi dan pisang, unit usaha permodalan (LKM) dan Laku Pandai, unit usaha Desamart dan pusat oleh – oleh serta unit usaha pendukung komoditas pisang dan IKM.

Program pembangunan Kawasan Perdesaan Sentra Komoditas Pisang dirancang untuk dilaksanakan dalam lima tahun kedepan yaitu mulai dari Tahun 2017 sampai 2021. Terdapat sepuluh program utama berdasarkan masterplan kawasan, yaitu : (1) Pembangunan atau rehabilitasi sarana dan prasarana transportasi, (2) Pembangunan dan/ rehabilitasi sentra produksi, sentra industri pengolahan, hasil pertanian dan perikanan, serta destinasi wisata, (3) Pembangunan dan pemeliharaan sarana bisnis atau pusat bisnis di kawasan ekonomi perdesaan, (4) Penerapan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing dan (5) Pembangunan suplay energi untuk pemenuhan domestik dan industri, (6) Pengembangan pendidikan kejuruan untuk meningkatkan inovasi dan kreativitas lokal, (7) Pengembangan kerjasama antara desa, daerah, KPS, dan BUM antar desa, (8) Pengembangan lembaga keuangan mikro di daerah, (9) Penerapan TIK untuk memfasilitasi perdagangan dan pertukaran informasi dan (10) Peningkatan PTSP daerah. Dari sepuluh program tersebut, hanya program poin (1) sampai (4) yang sudah memiliki rancangan alokasi dana serta sumber anggarannya.

Rencana program di Kawasan Perdesaan Sentra Komoditas Pisang dengan total anggaran sebesar 14,59 Milyar berasal dari 3 sumber yaitu APBD Kabupaten, APBD Provinsi dan APBN. Sumber pembiayaan program terbesar berasal dari APBD Kabupaten dengan persentase sebesar 51%. Setelah APBD Kabupaten, sumber pembiayaan program yang berasal dari APBN sebesar 42% dan APBD Provinsi sebesar 7%. Pembiayaan program dari keempat sumber terlihat tidak proporsional karena pembiayaan yang dibebankan kepada anggaran pemerintah pusat dan daerah sedangkan tidak ada pembiayaan yang dibebankan kepada desa. Hal ini perlu diperhatikan lagi karena harapan hasil pembangunan kawasan salah satunya adalah desa yang mandiri sehingga desa memegang peran besar untuk menjalankan program. Selain itu, hal yang perlu diusahakan adalah memperoleh dana dari pihak ketiga agar program yang dilaksanakan tidak hanya didukung oleh pemerintah melainkan dari pihak swasta juga.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *