Kab. Karanganyar

  1. Desa Balong
  2. Desa Seloromo
  3. Desa Ngadiluwih
  4. Desa Pereng
  5. Desa Gentungan
  6. Desa Ngemplak

Berdasarkan RTRW Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029, Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu kabupaten yang diprioritaskan sebagai penghasil pangan khususnya Padi. Pembentukan Kawasan Perdesaan Beras Organik Bernutrisi Di Lereng Gunung Lawu Kabapaten Karanganyar dilakukan secara partisipatif melalui proses Focus Group Discussion (FGD). FGD di Kabupaten Karanganyar dilaksanakan sebanyak tiga kali dengan fokus bahasan yang berbeda. Selanjutnya penetapan kawasan perdesaan melalui Keputusan Bupati No. 050/727 Tahun 2016 Tanggal 12 Oktober 2016 tentang Perubahan Atas Keputusan Bupati Nomor 050/656 tahun 2016 tentang Penetapan Lokasi Pengembangan Kawasan Perdesaan Beras Organik Bernutrisi di Lereng Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar tetap mempertimbangkan adanya potensi eksisting kawasan yang sudah memproduksi beras organik, terutama di enam desa, yaitu Balong dan Seloromo di Kecamatan Jenawi; Ngadiluwih di Kecamatan Matesih; Pereng dan Gentungan di Kecamatan Mojogedang; dan Ngemplak di Kecamatan Karangpandan.

Pada tahun 2014 produksi padi Kabupaten Karanganyar 289.381 ton Gabah Kering Giling (GKG) dan pada tahun 2015 meningkat menjadi 317.099 ton Gabah Kering Giling (GKG). Dengan potensi ini tidak hanya menempatkan posisi Kabupaten Karanganyar sebagai lumbung pangan Provinsi Jawa Tengah namun juga menjadi lumbung pangan nasional.

Pengembangan komoditi padi di Kawasan Perdesaan Beras Organik di Lereng Gunung Lawu tentu akan menjadi langkah strategis untuk mendukung program nasional dalam mencapai target swasembada beras. Terkhusus lagi jenis padi yang dikembangkan di kawasan perdesaan ini berupa padi organik akan memberikan nilai tambah ekonomi tersendiri bagi kawasan perdesaan. Hal ini sekaligus untuk menjawab terpenuhinya pemenuhan gizi masyarakat berbasis pangan sehat.

Deleniasi Kawasan Perdesaan Beras Organik digunakan untuk membatasi wilayah yang akan direncanakan untuk kemudian di kembangkan dalam penyusunan RPKP Beras Organik di Lereng Gunung Lawu ini. Proses delineasi kawasan yang dilakukan pada penyusunan RPKP ini menentukan bahwa untuk kawasan perdesaan beras organik terdiri dari 15 desa yang ada di lereng Gunung Lawu. Secara administratif Kawasan Perdesaan Beras Organik Kabupaten Karanganyar meliputi 5 kecamatan dengan 15 desa, yaitu Pereng, Gentungan, Pendem, Mojogedang, dan Sewurejo di Kecamatan Mojogedang; Kuto, Kwadungan, dan Karangrejo di Kecamatan Kerjo; Tohkuning, Bangsri, dan Ngemplak di Kecamatan Karangpandan; Ngadiluwih dan Gantiwarno di Kecamatan Matesih; serta Seloromo dan Balong di Kecamatan Jenawi. Sedangkan luas Kawasan Perdesaan Beras Organik Kabupaten Karanganyar yaitu 62,58 Km2.

Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD), rata-rata status desa di Kawasan Perdesaan Beras Organik Bernutrisi di Lereng Gunung Lawu adalah berkembang dengan nilai rata-rata IPD adalah 72,31. Namun demikian, dari 15 desa dalam kawasan perdesaan, 5 diantaranya telah berstatus desa mandiri. Desa-desa tersebut adalah Pereng, Ngemplak, Kuto, Ngadiluwih dan Seloromo. Sedangkan desa yang memiliki nilai IPD paling rendah adalah Gentungan dengan nilai IPD 58,28. Indikator infrastruktur merupakan indikator paling rendah dalam penentuan nilai IPD Desa Gentungan.

Sarana pendidikan SD dan SMP telah mencukupi kebutuhan penduduk di wilayah Kawasan Perdesaan Beras Organik. Sarana TK dengan jumlah 41 termasuk dalam kategori kurang mencukupi kebutuhan penduduk sedangkan sarana SMA tidak tersedia sehingga tidak mencukupi kebutuhan penduduk di wilayah perencanaan. Hasil analisis kebutuhan sarana prasarana pendidikan menunjukkan bahwa hingga tahun 2021 SD dan SMP di Kawasan Perdesaan Beras Organik sudah memenuhi kebutuhan. Sarana TK dan SMA untuk tahun 2021 perlu ditambah sebesar 26 TK dan 2 SMA untuk mendukung kebutuhan pendidikan penduduk Kawasan Perdesaan Karanganyar.

Sarana kesehatan yang telah mencukupi yaitu puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu). Sarana kesehatan lain dengan jangkauan pelayanan kecil seperti praktik dokter dan balai pengobatan masih kurang mencukupi, namun keduanya dapat diatasi dengan adanya puskesmas yang sudah mencukupi kebutuhan penduduk Kawasan Perdesaan Beras Organik. Untuk kebutuhan hingga tahun 2021, sarana kesehatan puskesmas dan pustu telah memenuhi kebutuhan penduduk. Peningkatan jumlah sarana kesehatan praktik dokter dan balai pengobatan masih perlu ditambah untuk memenuhi kebutuhan penduduk hingga tahun 2021.

Sarana pemerintahan di Kawasan Perdesaan Beras Organik secara keseluruhan telah mencukupi standar yang ada. Setiap kecamatan dan kelurahan telah memiliki kantor kecamatan dan kelurahan serta keduanya dilengkapi dengan balai pertemuan warga. Hasil analisis menunjukkan bahwa sarana ekonomi yaitu pasar dan warung/toko memiliki ketersediaan yang termasuk dalam kategori lebih dari cukup. Pasar dan warung/toko sendiri merupakan salah satu sarana distribusi hasil pertanian di Kawasan Perdesaan Beras Organik. Sarana ekonomi yang masih kurang yaitu Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Bumdes merupakan salah satu sarana penunjang ekonomi yang terdapat di Kawasan Perdesaan Beras Organik. Bumdes berfungsi sebagai pusat pelayanan dan wadah utama bagi berbagai kegiatan ekonomi pedesaan yang efektif dan efisien. KUD ini juga mampu melayani fungsi-fungsi prekreditan, penyediaan sarana produksi, barang kebutuhan pokok serta jasa lainnya, pengolahan dan pemasaran hasil produksi serta kegiatan produksi lainnya. Sarana ekonomi lainnya yaitu bank masih belum tersedia di Kawasan Perdesaan Beras Organik. Untuk memenuhi kebutuhan penduduk hingga tahun 2021, sarana ekonomi di Kawasan Perdesaan Beras Organik telah memenuhi baik dilihat dari pasar maupun warung/toko yang ada.

Sistem jaringan jalan di Kawasan Perdesaan Beras Organik terdiri dari Jalan Utama (Kolektor Primer) yang merupakan jalan utama di kawasan perdesaan ini. Jalan ini terdapat di Ngemplak dan Bangsi. Selain itu, jalan yang ada masih berupa jalan lokal yaitu jalan yang digunakan sebagai penghubung antar kecamatan di dalam Kawasan Perdesaan Beras Organik. Selanjutnya Jalan Lokal Desa, adalah jalan local pedesaan yang digunakan sebagai penghubung antar desa dan jalan ketempat-tempat pertanian seperti sawah dan kebun, dan yang terakhir adalah jalan setapak. Jalan penghubung antar desa di Kawasan perdesaan Karanganyar masih kurang sehingga perlu ditingkatkan untuk mendukung produksi dan distribusi pertanian berbasis beras organik.

Kepadatan penduduk di 6 desa di dalam Kawasan Perdesaan Beras Organik rata-rata adalah 1.625 jiwa/km2 dengan desa terpadat adalah Gentungan. Desa dengan kepadatan penduduk terendah adalah Seloromo di Kecamatan Jenawi dengan kepadatan penduduk rata-rata 616 jiwa/km2. Laju pertumbuhan penduduk di kawasan cenderung tetap dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2014. Kemudian mengalami penurunan sampai tahun 2015.

Sejak tahun 2000, beras organik dikembangkan oleh para petani, terutama di Desa Pereng, Kecamatan Mojogedang. Lambat laun pertanian beras organik mulai menyebar ke Desa Gentungan, Desa Seloromo dan Desa Balong Kecamatan Jenawi, Desa Ngemplak Kecamatan Karangpandan, dan Desa Ngadiluwih Kecamatan Matesih. Berubahnya gaya hidup masyarakat ke arah yang lebih sehat menjadi peluang pasar bagi para petani beras organik ini. Tingginya permintaan pasar belum seluruhnya bisa dipenuhi oleh hasil produksi beras organik di kawasan ini. Terbatasnya teknologi, sumber daya manusia, dan alat serta jaringan pemasaran menjadi kendala utama dalam mengembangkan produk beras organik ini.

Sektor peternakan juga cukup potensial di Kawasan Perdesaan Beras Organik Bernutrisi di Lereng Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar. Komoditi pada sektor peternakan yaitu sapi, kambing, ayam, itik, dan ikan, yang tersebar Karangrejo, Ngadiluwih, Pendem, Mojogedang dan Seloromo. Dalam kaitannya kawasan pedesaan yang berorientasi pada produksi beras organik, pemberdayaan sektor peternakan lebih ditekankan pada produktivitas pupuk organik. Pupuk organik yang dimaksud yaitu pupuk yang berasal dari pemanfaatan kotoran ternak atau biasa disebut pupuk kandang. Jenis ternak yang diberdayakan untuk pembuatan pupuk organik yaitu dari jenis ternak sapi. Dari tabel diatas produktivitas ternak sapi di kawasan hanya sekitar 1319 ekor. Dilihat dari produktivitas ternak yang hanya 1391 ekor Sementara luas lahan sawah adalah 5.403,01 ha, sedangkan untuk tanaman padi anorganik biasanya dibutuhkan pupuk kandang sekitar 1-2 ton per hektar. Maka pupuk yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pertanian dikawasan kurang lebih sepuluh ribu ton untuk satu kali panen.

Pengembangan potensi di Kawasan Perdesaan Beras Organik Bernutrisi di Lereng Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar dengan pendekatan klaster. Sasaran klaster merupakan sasaran kinerja klaster yang terukur dan akan dicapai dalam tempo lima tahun. Klaster pendukung padi organik bertujuan untuk mengakomodari pengolahan, pemasaran dan pemberdayaan masyarakat Kawasan Perdesaan Beras organik Kabupaten Karanganyar. Hasil produksi beras organik di klaster padi organik akan diolah dan didistribusikan di klaster pendukung. Berikut merupakan tabel sasaran klaster yang akan dicapai dalam waktu 5 tahun.

Selain itu, agar mampu berkembang secara optimal, pengembangan beras organik perlu dilakukan dari sektor hulu hilirnya. Tidak hanya dilihat dari jumlah produksi dan sarana prasarana produksinya, tetapi perlu juga dilihat ketersediaan sarana prasarana pemasaran, kualitas sumber daya manusia, sertifikasi produk-produk, dan komoditas unggulan di masing-masing desa, serta pasar yang akan disasar.

Pengembangan kawasan ini perlu dilakukan secara terpadu oleh Dinas Pertanian, Penyuluh Pertanian, dan masyarakat setempat agar produksi beras organik dapat ditingkatkan untuk memenuhi permintaan pasar. Penambahan jumlah ternak di masing-masing KK (Kepala keluarga) perlu ditambah untuk menjamin tercukupinya suplai pupuk organik di masing-masing desa sehingga tidak perlu mengambil pupuk organik dari luar kawasan. Kemasan dan pengolahan beras organik membutuhkan bantuan alat berupa alat kemas dan color sorter yang membantu petani memilah beras berdasarkan warnanya, dimana saat ini proses tersebut masih dilakukan secara manual. Pemasaran sendiri nantinya akan didukung dengan adanya bantuan moda transportasi guna menekan biaya transportasi sehingga keuntungan petani tidak terlalu banyak terpotong untuk biaya distribusi.

Dalam rangka mewujudkan pertanian beras organik yang berkelanjutan diperlukan adanya penataan ruang yang terintegrasi melalui perencanaan sarana dan prasarana utama dan pendukung produksi pertanian beras organik. Bentuk keruangan melalui penyediaan sarana dan prasarana pendukung pertanian beras organik perlu diperlihatkan bentuk spasialnya sebagai salah satu langkah untuk mengubah pola pikir masyarakat sehingga lebih mudah mendapat akses sarana dan prasarana pertanian organik yang memadai. Sarana dan prasarana pendukung yang ada juga berfungsi sebagai pembentuk citra kawasan pertanian beras organik di Kawasan Perdesaan Beras Organik Kabupaten Karanganyar.

Terdapata 8 indikasi program untuk pembangunan Kawasan Perdesaan Beras Organik, yaitu: 1) peningkatan sarana produksi pupuk organik; 2) peningkatan sarana pascapanen beras organik; 3) pengenalan produk unggulan kawasan; 4) peningkatan modal usaha tani; 5) pengembangan sarana produksi beras organik; 6) pengembangan prasarana produksi; 7) peningkatan kemampuan penguasaan teknologi pelaku usaha beras organik; 8) peningkatan jangkauan pemasaran dan kualitas branding beras organik. program ini direncanakan berjalan selama 5 tahun dengan total pembiayaan 157,396 juta rupiah. Sumber pembiayaan berasal dari APBDes, APBD Kabupaten, APBD Provinsi dan APBN

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jl. Sragen-Balong, Balong
Kabupaten Karanganyar
Get directions