Kab. Hulu Sungai Selatan

  1. Desa Wasah Hilir
  2. Desa Wasah Tengah
  3. Desa Kapuh
  4. Desa Telaga Bidadari
  5. Desa Hamalau
  6. Desa Karasikan
  7. Desa Sungai Raya Utara

Dasar penetapan kawasan merujuk pada RTRW Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) 2011-2031. Dalam RTRW tersebut Kecamatan Simpur, Sungai Raya dan Kandangan merupakan kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi dan sosial budaya. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan yang terletak di dalam dua kecamatan yaitu Kecamatan Simpur dan Kecamatan Sungai Raya merupakan kawasan yang tepat untuk dikembangkan.

Usulan pembentukan kawasan perdesaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan ditetapkan melalui Focus Group Discussion (FGD) tingkat SKPD yang dilaksanakan pada hari Rabu, 14 September 2016 dan kesepakatan kawasan perdesaan dilakukan melalui FGD tingkat Desa yang dilaksanakan pada hari Kamis, 15 September 2016. FGD penetapan kawasan tingkat SKPD dihadiri oleh perwakilan Bappeda, Disperindagkop dan UKM, BKBPMP, Dinas Kesehatan, DPPKAD, Dinsosnakertrans, perwakilan Kecamatan Simpur dan perwakilan Kecamatan Sungai Raya. Kawasan perdesaan yang disepakati untuk dibangun adalah Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan.

Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan meliputi dua kecamatan dan tujuh desa yaitu Kecamatan Simpur dan Kecamatan Sungai Raya serta Desa Wasah Hilir, Desa Wasah Tengah,  Desa Kapuh, Desa Telaga Bidadari, Desa Hamalau, Desa Karasikan dan Desa Sungai Raya Utara. Desa yang dipilih menjadi pusat kawasan perdesaan adalah Desa Kapuh.

Pemilihan kawasan ini karena beberapa alasan diantarnya semua desa terpilih memiliki karakteristik yang sama yaitu sebagai sentra industri makanan ringan dan semuanya terletak pada hamparan yang sama atau letak antar desa dalam kawasan berdekatan.

Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan memiliki luas wilayah sebesar 40,86 km2 atau sebesar 2,3% dari luas kabupaten. Kawasan ini terletak di bagian tengah Kabupaten Hulu Sungai Selatan sehingga memiliki akses yang mudah untuk keluar dan masuk wilayah. Berdasarkan topografi wilayah, kawasan ini termasuk dalam kategori datar dengan ketinggian antara 25-100 m di atas permukaan laut. Kemiringan lereng berkisar antara 8-14 % atau termasuk dalam kategori landai. Jenis tanah didominasi oleh tanah organosol. Tanah organosol merupakan jenis tanah yang sangat subur sehingga sangat cocok untuk ditanami tanaman budidaya.

Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD), enam dari tujuh desa dalam Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan termasuk dalam kategori desa berkembang. Keenam desa tersebut yaitu, Desa Sungai Raya Utara (65,62), Desa Karasikan (68,22), Desa Telaga Bidadari (64,05), Desa Kapuh (64,63), Desa Wasah Tengah (62,65) dan Desa Wasah Hilir (67,44). Adapun desa yang termasuk ke dalam kategori desa mandiri yaitu Desa Hamalau dengan IPD sebesar 76,00. Berdasarkan indeks tersebut, diharapkan dengan adanya program pembangunan kawasan perdesaan dapat membantu mendorong desa berkembang menjadi desa mandiri dan desa mandiri dapat mengoptimalkan potensinya untuk menarik desa – desa di sekitarnya.

Sarana, prasarana dan infrastruktur di Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan terbilang sudah cukup memadai walaupun dengan jumlah yang masih sedikit. Fasilitas ibadah yang tersedia dalam kawasan ini adalah 6 unit masjid dan tidak tersedia fasilitas ibadah lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk di Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan ini mayoritas beragama islam.Sarana dan prasana di bidang pendidikan sudah dapat dikatakan cukup diantaranya Taman Kanakkanak (TK) sebanyak 7 unit, Sekolah Dasar (SD) sebanyak 17 unit. Namun jumlah sarana pendidikan mulai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA/SMK) semakin menurun bahkan tidak ada sama sekali yaitu sebanyak 2 unit SMP dan tidak ada SMA maupun SMK. Kondisi ini menggambarkan bahwa penduduk yang bersekolah di tingkat SMP, SMA ataupun SMK lebih banyak bersekolah di sekolah – sekolah yang berada di luar kawasan.

Dalam mendukung perekonomian, ketersediaan sarana dan prasarananya sangat memadai yaitu 3 unit pasar, 4 unit koperasi dan 27 unit bank mendukung kegiatan masyarakat dalam hal  pemasaran, keuangan dan perbankan. Dalam hal akses informasi dan telekomunikasi di Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan ini sudah didukung oleh adanya 14 unit kantor pos dan 14 unit menara telepon seluler. Ketersediaan sarana, prasarana dan fasilitas ini akan sangat mendukung proses pembangunan kawasan perdesaan.

Tidak adanya penginapan dalam kawasan ini perlu menjadi hal yang diperhatikan karena penginapan akan menjadi salah satu daya tarik bagi turis untuk berkunjung dan bermalam di kawasan ini. Adanya turis menjadi peluang untuk memasarkan hasil produksi dari industri makanan ringan yang dikembangkan dalam kawasan ini. Jumlah Penduduk di Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan yaitu sebanyak 12.156 jiwa dengan rata-rata kepadatan penduduk 298 jiwa/km². Mata pencaharian penduduk didominasi oleh petani dan wiraswasta di bidang industri (sebagian besar industri makanan ringan).

Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan memiliki luas wilayah sebesar 40,86 km2 atau sebesar 2,3% dari luas Kabupaten. Sebagian besar lahan digunakan untuk pemukiman. Kawasan ini sudah memiliki 177 unit industri makanan ringan. Komoditas utama yang diunggulkan oleh kawasan ini adalah makanan ringan yang dikategorikan ke dalam 5 rangking. Komoditas utama yang paling diunggulkan atau menempati rangking pertama adalah dodol. Makanan ringan yang menempati rangking kedua, ketiga, keempat dan kelima berturut – turut yaitu kue kering, aneka kacang, aneka keripik dan terkahir kue bawang.

Terdapat beberapa hal yang menjadi pendukung industri makanan ringan dalam kawasan ini yaitu sudah tersedianya bahan baku seperti kelapa dan gula aren, akses jalan yang mudah dijangkau karena posisi kawasan yang berada di bagian tengah kabupaten dan dikelilingi oleh wilayah lain, ketersediaan alat transportasi darat dalam kondisi yang memadai, adanya listrik dan air bersih yang mudah diakses serta jaringan telekomunikasi dan informasi yang memadai. Namun, terdapat beberapa kekurangan dalam kawasan ini yaitu belum tersedianya tempat produksi bersama, balai pelatihan, pasar bersama koperasi dan BUMDesa/BUMADes serta tenaga pendamping industri sehingga dalam pembangunan kawasan ini diharapkan dapat melakukan pengadaan atas kekurangan – kekurangan tersebut.

Konsep pengembangan Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan disusun agar pembangunanyang dilakukan dapat terencana dan terarah serta berhasil mencapai tujuan yang diharapkan.Kawasan yang basis utamanya adalah makanan ringan ini memiliki konsep pengembangan huluhilir. Terdapat 2 aspek yang terdapat dalam sistem pertanian kawasan ini yaitu aspek produksi dan aspek penunjang yang dibedakan menjadi dua yaitu penunjang sebelum dan sesudah produksi. Pada aspek penunjang yang harus dilakukan sebelum produksi, adalah penguatan branding produk, penguatan kapasitas SDM dan pembangunan balai pelatihan. Pada aspek produksi difokuskan pada studi pengembangan bahan baku industri makanan ringan meliputi dodol, kue kering, aneka kacang, kerupuk, aneka keripik dan kue bawang.

Pada aspek penunjang yang dilakukan setelah produksi, upaya pengembangan kawasan dilakukan dengan cara membentuk atau menguatkan lembaga kerjasama seperti BUMADes, meningkatkan kualitas produksi dan memperluas jangkauan pemasaran melalui pembangunan atau perbaikan pasar dan menguatkan promosi melalui website dan papan promosi. Semua aspek penunjang dalam sistem ini mengandalkan sinergisme antar komponen agar tujuan dari kawasan ini dapat terwujud.

Program pembangunan Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan dirancang untuk dilaksanakan dalam lima tahun kedepan yaitu mulai dari Tahun 2017 sampai 2021. Berdasarkan hasil fasilitasi, terdapat 5 pokok – pokok program yang akan dilakukan selama 5 tahun di kawasan ini. Kelima pokok program tersebut yaitu, (1) pengembangan sistem permodalan, (2) peningkatan kualitas produk olahan, (3) pengembangan pemasaran produk, (4) pengembangan sentra produksi makanan ringan dan (5) penguatan kelembagaan sosial ekonomi. Pokok program (1) dan (2) dilakukan pada tahun pertama. Pokok program (3) dilakukan pada tahun kedua hingga ketiga. Pokok program (4) dilakukan pada tahun ketiga sampai keempat dan pokok program (5) dilakukan pada tahun keempat hingga kelima.

Merujuk pada kelima pokok program di atas, pembangunan kawasan ini diturunkan menjadi lima program utama berdasarkan masterplan kawasan. Program – program tersebut yaitu, (1) Pengembangan sentra produksi makanan ringan, (2) Peningkatan kualitas produk olahan, (3) Pengembangan pemasaran produk, (4) Fasilitasi permodalan bagi usaha mikro kecil dan menengah di perdesaan dan (5) Penguatan Kelembagaan Kawasan Perdesaan.

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rencana program di Kawasan Perdesaan Industri Makanan Ringan dengan total anggaran sebesar 7,575 Milyar berasal dari 2 sumber yaitu APBD Provinsi dan APBN.Sumber pembiayaan program terbesar berasal dari APBN dengan persentase sebesar 86%. Sisanya,sebesar 14% pembiayaan program bersumber dari APBD Provinsi. Pembiayaan program dari dua sumber terlihat kurang proporsional karena sebagian besar pembiayaan dibebankan kepada APBN. Hal ini perlu diperhatikan lagi karena harapan hasil pembangunan kawasan salah satunya adalah desa yang mandiri sehingga tidak banyak bergantung kepada APBN sehingga desa dan kabupaten juga harus ikut serta dalam pembiayaan program. Selain itu, hal yang perlu diusahakan adalah memperoleh dana dari pihak ketiga agar program yang dilaksanakan tidak hanya didukung oleh pemerintah melainkan dari pihak swasta juga.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simpur
Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Get directions