Kab. Cirebon

  1. Desa Tegalwangi
  2. Desa Karangsari
  3. Desa Kertasari
  4. Desa Megu Cilik
  5. Desa Setu Kulon

Kabupaten Cirebon merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Barat. Merujuk pada UU No. 4/2014 tentang Desa, Program Prioritas Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla melalui Nawa Cita Butir ke-3 yang berbunyi “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”, serta Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan, maka dibentuklah kawasan perdesaan di kabupaten ini. Berdasarkan RTRW Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029, Kabupaten Cirebon merupakan kabupaten yang diarahkan untuk pengembangan kawasan pariwisata.

Pembentukan kawasan perdesaan di Kabupaten Cirebon dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan para stakeholder pada hari Rabu, 19 Oktober 2016. Kawasan perdesaan yang akan dikembangkan di kabupaten ini adalah Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro yang berbasis budaya dan pariwisata. Kawasan ini berada di Kecamatan Weru dan meliputi lima desa yaitu Desa Tegalwangi, Desa Karangsari, Desa Kertasari, Desa Megu Cilik dan Desa Setu Kulon. Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro dipilih dengan beberapa pertimbangan yaitu: (1) kekhasan dan besarnya industri kerajinan rotan di lima desa tersebut sejak tahun 1930an, (2) sejalan dengan Rencana Strategis Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon untuk memantapkan pengusahaan rotan di Cirebon, diantaranya dengan membuka 200 ha penanaman rotan di Kab. Majalengka sebagai sumber bahan baku dan (3) kawasan ini menjadi bagian dari sistem transportasi Nasional (Pantura dan Tol Cipali), berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, sehingga memiliki nilai strategis secara Nasional.

Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro memiliki luas wilayah sebesar 7,57 km2. Desa terluas dalam kawasan ini adalah Desa Tegalwangi dan Desa Karangsari dengan persentase sebesar 23% sedangkan desa yang paling kecil luasannya adalah Desa Setu Kulon dengan persentase sebesar 15%.

Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro berbatasan dengan desa dan kecamatan lain dalam Kabupaten Cirebon. Sebelah Barat, kawasan ini berbatasan dengan Kecamatan Plumbon. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Tegalsari dan Desa Weru Kidul, Kecamatan Plered. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Setu Wetan dan Desa Megu Gede. Perbatasan sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sumber. Rata – ketinggian dataran kawasan ini antara 0 sampai dengan 25 meter DPL. Curah hujan rata – rata pada tahun 2015 sekitar 20,70 mm.

Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD), kelima desa dalam Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro termasuk ke dalam kategori desa berkembang. Nilai IPD yang dimiliki desa – desa tersebut yaitu Desa Setu Kulon (58,82), Desa Megu Cilik (59,41), Desa Kertasari (55,3), Desa Karangsari (60,7) dan Desa Tegalwangi (58,22). Berdasarkan indeks tersebut, diharapkan dengan adanya program pembangunan kawasan perdesaan dapat membantu mendorong desa berkembang menjadi desa mandiri.

Sarana, prasarana dan infrastruktur di Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro memiliki jumlah yang sudah terbilang cukup. Fasilitas ibadah keagamaan hanya tersedia 6 unit masjid. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk kawasan ini beragama islam. Sarana dan prasana di bidang pendidikan diantaranya terdapat sebanyak 13 unit Taman Kanak-kanak (TK), sebanyak 12 unit Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 4 unit. Tidak adanya SMA atau SMK dalam kawasan ini menunjukkan bahwa penduduk yang masih bersekolah dalam jenjang SMA/ SMK sederajat harus bersekolah di luar kawasan.

Dalam mendukung perekonomian, sarana yang tersedia yaitu sebanyak 3 unit koperasi dan 18 unit bank untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam hal keuangan dan perbankan. Dalam hal akses informasi dan telekomunikasi di Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro juga sudah didukung oleh adanya 10 unit kantor pos dan 8 unit menara telepon seluler. Beradasarkan data mengenai sarana, prasarana dan fasilitas tersebut, dapat dilihat bahwa dalam kawasan tidak ada fasilitas penginapan. Hal ini perlu menjadi perhatian mengingat kawasan yang dikembangkan adalah kawasan wisata yang akan dikunjungi banyak tamu sehingga adanya penginapan dapat menjadi salah satu daya tarik kawasan. Selain itu, terlihat juga bahwa tidak terdapat pasar dalam kawasan sehingga perlu dipertimbangkan untuk membangun pasar yang dibuka setiap hari karena pasar menjadi sarana penting untuk memasarkan produk kawasan.

Berdasarkan hasil fasilitasi di lapang, diperoleh data bahwa sekitar 10% penduduk yang belum memiliki jamban sendiri. Selain itu, penerangan jalan umum dan lebar jalan masih belum memadai untuk lalu lintas dua arah. Hal ini menunjukkan bahwa Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro masih membutuhkan pembangunan dalam hal sarana dan prasarana.

Jumlah penduduk yang berada di dalam Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro berjumlah 37.644 jiwa. Kepadatan penduduk yang terjadi di setiap desa dalam kawasan ini memiliki angka yang hampir sama. Desa dengan penduduk terpadat adalah Desa Megu Cilik dengan kepadatan 5.590 jiwa/km2. Sedangkan desa dengan kepadatan penduduk terendah adalah Desa Kertasari dengan angka kepadatan penduduk sebanyak 4.063 jiwa/km2. Jumlah rumah tangga (RT) dalam kawasan sebanyak 11.091 dan rata-rata anggota RT sebanyak 4 orang. Mayoritas Penduduk atau sebesar 65% dari jumlah total penduduk kawasan adalah usia produktif yaitu berusia 15-64 tahun. Lebih dari 50% penduduk bekerja di sektor industri kerajinan Rotan.

Desa-desa dalam Kawasan Perdesaaan Kampung Wisata Rotan Galmantro memiliki potensi yang mendukung tema pengembangan kawasan sebagai kawasan wisata. Desa Tegalwangi, Desa Karangsari dan Desa Setu Kulon memiliki potensi dalam bidang industri kecil dan menengah. Produk unggulan dari desa ini adalah industri rotan dan meubelair. Sedangkan Desa Kertasari dan Desa Megu Cilik berpotensi dalam bidang pertanian dan industri kecil menengah. Produk unggulan kedua desa ini adalah padi sawah, industri rotan dan meubelair.

Potensi Kawasan Perdesaaan Kampung Wisata Rotan Galmantro didukung oleh sumber daya alam berupa lahan padi sawah yang dimiliki kawasan ini seluas 101,7 Ha. Lahan padi sawah tersebut dapat menghasilkan hingga 6.309 ton padi/tahun dan produktivitasnya 380,5 ton/tahun. Selain itu, dalam bidang industri rotan, kawasan ini didukung oleh sumber daya manusia berupa jumlah pengrajin pada tahun 2015 sebanyak 1.331 unit usaha dan jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 61.140 orang. Produktivitas kerajinan rotan mencapai 75.085 ton atau 8.292 kontainer/tahun.

Konsep pengembangan Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro disusun agar pembangunan yang dilakukan dapat terencana dan terarah serta berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Kawasan yang mengunggulkan pertanian serta wisata ini memiliki 3 subsektor dalam konsep pengembangannya. Ketiga subsektor tersebut yaitu subsektor on-farm, subsektor off-farm dan subsektor non-farm. Pada subsektor on-farm, pengembangan dilakukan dalam bidang pertanian tanaman pangan dan tanaman non-pangan. Untuk mengembangkan pertanian tanaman pangan, aktivitas yang dilakukan yaitu, (1) membangun jalan pertanian dan poros, (2) membangun jaringan irigasi teknis dan (3) meningkatkan produktivitas dan mutu hasil Menyediakan saprotan yang terjangkau. Sedangkan untuk mengembangkan tanaman non pangan, kegiatan yang dilakukan adalah (1) melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi, (2) menyediakan bibit unggul dan pelatihan budidaya tanaman non-pangan dan (3) menjamin pembelian hasil panen sesuai HBP.

Pada subsektor off-farm, pengembangan difokuskan pada pengolahan dan standarisasi, pemasaran  dan menjaga stabilitas harga produk pertanian. Aktivitas yang dilakukan dalam hal pengolahan dan standarisasi produk pertanian adalah dengan cara menyediakan mesin penggiling gabah sesuai luasan lahan dan hasil pertanian dan melatih dan menyediakan fasilitas pengolahn pasca panen. Sedangkan dalam hal pemasaran dan penjagaan stabilitas harga produk pertanian, upaya yang dilakukan adalah dengan memasarkan hasil panen langsung ke pasar tidak melalui tengkulak dan memantau dinamika harga melaui media sosial atau online.

Pada subsektor non-farm, pengembangan difokuskan pada wisata proses kerajinan rotan, wisata budaya dan kuliner khas Cirebon. Untuk mengembangkan wisata proses kerajinan rotan, upaya yang dilakukan adalah dengan cara menyediakan sarana-prasarana standar obyek wisata baik transportasi, sanitasi maupun akomodasi serta memasarkan kegiatan wisata alam melalui media sosial atau online. Sedangkan untuk mengembangkan wisata budaya dan kuliner khas Cirebon, upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan pelatihan pementasan dan penyelenggaran festival budaya dan memfasilitasi masyarakat dan menyediakan kawasan khusus kuliner khas Cirebon.

Ketiga subsektor dalam konsep pengembangan tersebut ditunjang dengan adanya berbagai lembaga seperti BUMDES setiap desa, perbankan atau lembaga keuangan, perguruan tinggi dan bantuan dari lembaga lainnya. Lembaga – lembaga ini tergabung dalam BUMDESA Bersama yang berperan sebagai holding, menangani usaha atau kerjasama tingkat kawasan serta berusaha menjaga HBP.

Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESA Bersama) dapat berupa pasar nduk, pasar modern, mini market, perusahan wisata atau biro perjalanan, parikan eksportir dan lembaga lainnya. BUMDESA Bersama ini juga akan bergerak dalam berbagai unit usaha diantaranya unit usaha sarana produksi pertanian dan pengepul, unit usaha permodalan (LKM) dan Laku Pandai, unit usaha Desamart dan pusat oleh – oleh serta unit usaha pengelola wisata rotan dan kuliner.

Program pembangunan Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro dirancang untuk dilaksanakan dalam lima tahun kedepan yaitu mulai dari Tahun 2017 sampai 2021. Terdapat sepuluh program utama berdasarkan masterplan kawasan, yaitu : (1) Pembangunan atau rehabilitasi sarana dan prasarana transportasi, SDA dan cipta karya, (2) Pembangunan atau rehabilitasi sentra produksi, sentra industri pengolahan hasil pertanian dan peternakan serta destinasi wisata, (3) Pembangunan atau pemeliharaan sarana bisnis atau pusat bisnis di kawasan ekonomi perdesaan, (4) Penerapan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing, (5) Pembangunan suplai energi untuk pemenuhan domestik dan industri, (6) Pengembangan pendidikan kejuruan untuk meningkatkan inovasi dan kreativitas lokal, (7) Pengembangan kerjasama antardesa, daerah, KPS dan BUM antar desa, (8) Pengembangan lembaga keuangan mikro di daerah, (9) Menerapkan TIK untuk memfasilitasi perdagangan dan pertukaran informasi dan (10) Peningkatan PTSP di daerah.

Rencana program di Kawasan Perdesaan Kampung Wisata Rotan Galmantro dengan total anggaran sebesar 17,460 Milyar berasal dari 4 sumber yaitu ADD, APBD Kabupaten, APBD Provinsi dan APBN. Sumber pembiayaan program terbesar berasal dari APBN dengan persentase sebesar 81%. Setelah APBN, sumber pembiayaan program yang berasal dari APBD Provinsi sebesar 12%, APBD Kabupaten sebesar 6% dan ADD sebesar 1%.

Pembiayaan program dari keempat sumber terlihat tidak proporsional karena pembiayaan yang dibebankan kepada APBN sangat besar. Hal ini perlu diperhatikan lagi karena harapan hasil pembangunan kawasan salah satunya adalah desa yang mandiri sehingga desa memegang peran besar untuk menjalankan program. Selain itu, hal yang perlu diusahakan adalah memperoleh dana dari pihak ketiga agar program yang dilaksanakan tidak hanya didukung oleh pemerintah melainkan dari pihak swasta juga.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jalan Fatahillah 16
45154 Jawa Barat ID
Get directions