Kab. Buol

  1. Desa Monggonit
  2. Desa Maniala
  3. Desa Balau
  4. Desa Lomuli
  5. Desa Panilan Jaya
  6. Desa Air Terang
  7. Desa Kokobuka
  8. Desa Boilan

Kawasan Perdesaan “Agropolitan Lipunoto” Kabupaten Buol adalah kawasan yang terdiri atas 8 desa dengan kegiatan utama pertanian. Pilihan tema “Agropolitan Lipunoto” sejalan RPJMD sebagai upaya untuk mempercepat pembangunan kawasan perdesaan berkarakter kota melalui pendekatan partisipatif yang sasarannya mengintegrasikan pilihan komoditas unggulan kawasan mulai dari penyediaan benih, pupuk dan pestisida, aspek budidaya sampai dengan pengolahan hasil dan pemasarannya, dengan kegiatan prioritas mendorong keterkaitan desa-kota (urban-rural lingkages).

Diawali dengan rembug desa secara partisipatif terhadap masing-masing desa, dilakukan di balai desa, dipimpin langsung oleh TKPKP Kawasan, hasilnya adalah idenstifikasi potensi komoditas unggulan desa dan berbagai masalah untuk pengembangan kawasan. Kemudian rembug lingkup kawasan yang dihadiri oleh 8 Kades beserta 2 tokoh masyarakat dari setiap desa (24 orang), dipimpin langsung oleh Kepala Kecamatan Tiloan, juga dihadiri oleh Koordinator Wilayah IV Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dengan hasil yang diperoleh adalah kesepakatan komoditas unggulan kawasan, yaitu sapi, jagung, padi dan lada.

Pada FGD di tingkat Kabupaten Buol yang dipimpin langsung oleh Ketua TKPKP Kabupaten Buol yang dihadiri oleh Bupati Buol, disepakati beberapa hal diantaranya tema kawasan ditetapkan adalah “Agropolitan Lipunoto“ yang terletak di Kecamatan Tiloan dengan surat kesepakatan bersama antar kepala desa untuk membentuk Kawasan Agropolitan Lipunoto.

Kawasan Perdesaan Agropolitan Lipunoto mencakup desa-desa yaitu Air Terang, Monggonit, Boilan, Balau, Lomuli, Panilan Jaya, Kokobuka, dan Maniala. Kedelapan desa tersebut masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Tiloan, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah. Kawasan Perdesaan Agrpolitan Lipunoto terletak pada koordinat antara 0º 56’ 53,85” LU – 1º 7’ 22,17” LU dan 121O 10’ 45,37” BT – 121O 19’ 57,88” BT.

Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD) yang dikeluarkan Bappenas, kawasan ini tergolong berkembang, dengan skor rata-rata IPD dari 8 desa yaitu 57,01. Terdapat 2 desa yang masih masuk dalam desa tertinggal yaitu Monggonit dan Balau. Infrastruktur adalah permasalahan terbesar berdasarkan IPD, itu tercermin dari nilainya yang sangat rendah yaitu rata-rata kawasan 29,12. Hal itu pun bisa terlihat dari kondisi jalan yang beraspal baru hanya ada di Desa Maniala, Boilan dan Air Terang. Sedangkan ke desa-desa lainnya kualitas jalannya masih berupa sirtu atau tanah.

Ketinggian kawasan berada pada ketinggian 25-800 mdpl. Ketinggian tertinggi terdapat di Desa Lomuli yang berada pada 500-800 mdpl. Status kesuburan tanah pada lokasi Kawasan Perdesaan Agrpolitan Lipunoto umumnya rendah, kecuali di Desa Air Terang, dengan status sedang. Ph tanah berada pada kisaran 5,6-7,0. Tekstur tanah lempung berdebu, lempung liat berdebu, dan lempung, serta tanah gambur khususnya di Desa Panilan Jaya. Jenis tanah didominasi jenis podsolik merah kuning (PMK). Jenis tanah lainnya adalah renzina, mediteran merah kuning (MMK), litosol serta aluvial, aluvial hidromof, dan organosol. Jenis batuan granit (gr); batuan vulkanik (Ttv), celebes molasse of sarasin and sarasin (1901) (Qts); alluvium (Qal) dari alluvium dan endapan pantai serta batuan sedimen (Ql) dari coral limestone; lacustrine and fluviatile deposits (Qs). Jenis batuan vulkanik (Ttv) adalah jenis geologi yang mendominasi kawasan.

Luas Kawasan Perdesaan Agropolitan Lipunoto sebesar 12.124,24 Ha, yang ditinggali oleh 10.406 jiwa penduduk, sehingga memiliki kepadatan penduduk sebesar 85 jiwa/km2. Desa yang memiliki jumlah penduduk terbesar dan memiliki luasan wilayah terluas adalah Desa Kokobuka, yaitu 2.799 jiwa dan 3.522 Ha. Adapun untuk desa yang terpadat adalah Desa Boilan yang memiliki tingkat kepadatan 254 jiwa/km2.

Secara peruntukan penggunaan lahan di Kawasan Agropolitan Lipunoto didominasi oleh fungsi lahan pertanian baik berupa pertanian lahan kering, persawahan maupun perkebunan, dengan total luasan mencapai 8.276,66 Ha atau 68,26 persen dari total luas wilayah kawasan. Sehingga menjadi tidak keliru dikatakan jika potensi Kawasan Agropolitan Lipunoto adalah pertanian.

Pertanian sebagai potensi Kawasan Perdesaan Agropolitan Lipunoto adalah pertanian dalam arti luas, maksudnya adalah bahwa pertanian dalam bentuk on farm, off farm, maupun non farm. Secara lebih spesifik potensi pertanian yang sudah berkembang adalah pertanian tanaman perkebunan, tanaman pangan dan peternakan. Ketiga jenis pertanian tersebut sangat potensial untuk dikembangkan lebih maju.

Tanaman perkebunan yang banyak ditanami di kawasan adalah kelapa sawit, luasannya mencapai 936 Ha. Jenis tanaman perkebunan kedua yang memiliki luasan terbesar yaitu nilam yaitu sebesar 105 Ha. Lalu, jenis tanaman perkebunan lainnya yang juga potensial di kawasan adalah kelapa, kopi, kakau, lada dan pala.

Untuk jenis tanaman pangan, padi menempati posisi pertama dalam hal luasannya, yaitu mencapai 833 Ha. Jagung menjadi komoditas pertanian pangan potensi kedua dengan luas mencapai 108,5 Ha. Sedangkan untuk tanaman hortikultur, yang memiliki luasan terbesar adalah rambutan dengan 65,5 Ha. Disusul oleh tanaman cabe rawit yang memiliki luas 20,5 Ha. Total luas lahan tanaman pangan dan hortikultur yaitu 1.087,5 Ha.

Selain pertanian dalam hal tanaman atau perkebunan, sektor peternakan juga potensi yang ada di Kawasan Perdesaan Agropolitan Lipunoto. Komoditas hewan yang menjadi unggulan di kawasan adalah sapi dan kambing. Setidaknya terdapat 1.263 ekor sapi dan 997 ekor kambing di kawasan. Desa Boilan adalah desa dengan potensi hewan ternak terbesa yaitu mencapai 793 ekor, terdiri dari sapi 492 ekor dan kambing 301 ekor. Dengan total hewan ternak (sapi dan kambing) yang mencapai 2.260 ekor, maka peternakan adalah komoditas yang patut perhitungkan dalam konteks pembangunan kawasan.

Komoditas unggulan yang akan ditetapkan untuk dikembangkan di Kawasan Perdesaan Agropolitan Lipunoto adalah sapi, jagung, padi sawah, dan lada. Basis pengembangan komoditas tersebut dilakukan dengan skema yang disebut Integrasi Antar Subsitem Agribisnis Kawasan Perdesaan Agropolitan Lipunoto. Sistem integrasi tersebut meliputi 5 subsistem yang menjadi fokus pengembangannya, yaitu:

1. Subsistem agribisnis hulu (off-farm): menyediakan saprodi , seperti penangkar benih lada, industri pupuk dan pestisida organik di Desa Boilan dan pemasarannya.

2. Subsistem produksi/usahatani (on-farm): peningkatan produktivitas usaha ternak sapi, budidaya tanaman pangan jagung dan padi, serta tanaman lada.

3. Subsistem agribisnis hilir (off-farm): berupa kegiatan ekonomi yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan (produk antara/produk akhir), beserta kegiatan perdagangan, misalnya industri pengolahan tepung beras dan jagung, industri makanan/minuman, industri jasa dan lain-lain.

4. Subsistem lembaga penunjang (off-farm): seluruh kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis, seperti lembaga keuangan, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga transportasi, lembaga pendidikan, dan lembaga pemerintah (kebijakan fiskal dan moneter, perdagangan internasional, kebijakan tata-ruang, serta kebijakan lainnya).

5. Sub sistem lainnya (non-farm): sarana dan prasarana transportansi umum, destinasi ke KTM Air Terang, dll.

Pokok-pokok program pembangunan yang telah disusun di Kawasan Perdesaan Agropolitan Lipunoto terdiri dari 44 program. Program-program tersebut meliputi beragam aspek mulai dari pembangunan yang bersifat fisik infrastruktur seperti pembangunan/peningkatan jalan, pembangunan yang bersifat usaha ekonomi seperti pengadaan bibit lada unggulan, sampai pada pembangunan yang bersifat pengembangan kapasitas sumberdaya manusia dan kelembagaan seperti pelatihan keterampilan teknologi industri pengolahan hasil pertanian dan pengembangan kapasitas kerjasama antar desa.

Total pembiayaan pokok program pembangunan di Kawasan Perdesaan Agropolitan Lipunoto mencapai Rp. 264.677.817.000,00. Pembiayaan program pembangunan berasal dari APBN, APBD, dan CSR. APBN dan APBD yang menjadi sumber pembiayaan utama dalam program yang direncanakan dengan setidaknya terlibat dalam hampir seluruh pembiayaan program. Untuk pendanaan dari swasta dalam hal ini CSR perusahaan, dalam 15 program yang dirancang.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Airterang, Tiloan
Kabupaten Buol
Get directions