Kab. Boyolali

Kecamatan

  1. Kecamatan Selo
  2. Kecamatan Ampel
  3. Kecamatan Cepogo
  4. Kecamatan Musuk
  5. Kecamatan Boyolali
  6. Kecamatan Mojosongo
  7. Kecamatan Teras
  8. Kecamatan Sawit
  9. Kecamatan Banyudono
  10. Kecamatan Sambi
  11. Kecamatan Ngemplak
  12. Kecamatan Nogosari
  13. Kecamatan Simo
  14. Kecamatan Karanggede
  15. Kecamatan Klego
  16. Kecamatan Andong
  17. Kecamatan Kemusu
  18. Kecamatan Wonosegoro
  19. Kecamatan Juwangi

Desa

  1. Desa Selo
  2. Desa Samiran
  3. Desa Lencoh

Berdasarkan konteks regional dan provinsi, Kabupaten Boyolali termasuk ke dalam Kawasan Regional Solo Raya SUBOSUKOWONOSRATEN. Kawasan ini ditetapkan sebagai daerah regional karena memiliki kesamaan karakteristik. SUBOSUKOWONOSRATEN merupakan akronim dari kabupaten yang tergabung dalam kawasan startegis regional Selo Raya yaitu Kabupaten Sukoharjo, Boyolali, Surakarta, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Klaten. Kemudian dalam konteks Kabupaten Boyolali yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Boyolali, Fungsi Kecamatan Selo dalam Struktur ruang kabupaten: 1) pusat pemerintahan kecamatan; 2) pengembangan pelayanan sosial ekonomi dan jasa tingkat kecamatan; 3) pengembangan permukiman; 4) pengembangan tanaman pangan (padi, jagung, dan ubi kayu); 5) pengembangan tanaman perkebunan (cengkeh, tembakau, kopi robusta dan kayu manis); 6) pengembangan tanaman buah (jeruk besar, pisang, nangka); 7) pengembangan industri kecil dan kerajinan; 8) pengembangan kegiatan peternakan; dan 9) pusat pengembangan pariwisata. Positioning kawasan perdesaan dalam konteks regional dan konteks Kabupaten Boyolali tentu saja menjadi peluang tersendiri bagi pengembangan kawasan perdesaan karena sektor unggulan yang didorong dalam kawasan adalah sektor pariwisata (agro dan alam).

Proses pembentukan dan penetapan Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu di Kaki Gunung MerapiMerbabu dilakukan secara pertisipatif dan melalui proses yang cukup panjang. Hal ini dilakukan agar diperoleh kualitas perencanaan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan kawasan perdesaan. Fasilitasi pembentukan kawasan ini dilakukan oleh Kemendesa PDTT bekerjasama dengan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Sebelum dilaksanakan FGD, terlebih dahulu dilaksanakan pra-FGD. Pra-FGD ini dilaksanakan di Kantor Bappeda Kabupaten Boyolali dan diikuti oleh 14 orang peserta yang terdiri atas Tim PKP UNS sebanyak 6 orang, perwakilan Bappeda 2 orang, perwakilan dinas terkait 2 orang, perwakilan kecamatan 1 orang, dan perwakilan desa 3 orang. Tujuan

pelaksanaan Pra FGD adalah melakukan sosialisasi rencana kerja yang akan dilakukan oleh tim PKP UNS FGD I dilaksakan di Kantor Kecamatan Selo yang diikuti oleh 12 orang peserta perwakilan dari bappeda, desa, dan instansi terkait. Agenda pada FGD I adalah sosialisasi penetapan kawasan perdesaan (peraturan perundang-undangan dan petunjuk teknis), kesepakatan kawasan perdesaan yang menjadi prioritas pemerintah kabupaten, serta kesepakatan rencana awal konsep kawasan. FGD II dilaksanakan pada hari Minggu, 18 September yang dilaksanakan di Balai Desa Samiran. Tujuan pelaksanaan FGD II adalah melakukan verifikasi data hasil survei lapangan, melakukan pengumpulam data dari borang instrumen survey sekunder yang sebelumnya telah tersebar serta melakukan penjaringan usulan program di desa-desa terkait. FGD III dilaknakan di Bappeda Kabupaten Boyolali. FGD ini dihadiri oleh perwakilan desa, kecamatan, dan instansi terkait. Tujuan utama FGD III adalah melakukan konsultasi rancangan RPKP dan fiksasi rencana dan program yang diajukan dalam Rancangan RPKP.

FGD terakhir yaitu FGD Provinsi yang dilaksanakan di Pusdiklat UNS dan juga dihadiri oleh perwakilan pihak Provinsi Jawa Tengah dan perwakilan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali. Agenda utama daam FGD terakhir ini adalah pemaparan hasil rancangan RPKP yang telah disusun oleh Tim PKP UNS di depan seluruh stake holder termasuk pihak pemberi pekerjaan yaitu Kementerian Desa PDTT.

Kabupaten Boyolali merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Secara Geografis, Kabupaten Boyolali memiliki ketinggian berkisar antara 75-1500 meter dpl. Administratif Kabupaten Boyolali terdiri dari 19 kecamatan, yaitu Selo, Ampel, Cepogo, Musuk, Boyolali, Mojosongo, Teras, Sawit, Banyudono, Sambi, Ngemplak, Nogosari, Simo, Karanggede, Klego, Andong, Kemusu, Wonosegoro dan Juwangi. Luas wilayah Kebupaten Boyolali mencapai 101.513,1955 hektar. Kemudian Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu di Kaki Gunung MerapiMerbabu atau disebut pula Kawasan Perdesaan Selo terdiri atas 3 desa, yaitu Selo, Samiran, dan Lencoh. Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu merupakan daerah lereng Gunung diantara Gunung Merapi dan Merbabu sangat cocok untuk pengembangan usaha pertanian khususnya tanaman hortikultura (sayuran) dan tanaman perkebunan terutama tembakau.

Kriteria yang digunakan untuk melakukan delineasi Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu adalah: 1) kesamaan potensi yang dimiliki desa, yaitu desa-desa yang letaknya saling berdekatan memiliki keunggulan yang sama sehingga dapat digunakan untuk membuat tema pengembangan kawasan; 2) adanya sistem hulu hilir kawasan yaitu dalam sistem kawasan ada desa yang berfungsi sebagai hulu dan ada desa yang berfungsi sebagai hilir dan terkoneksi melalui jaringan infrastruktur; 3) posisi kawasan terhadap kawasan yang lebih luas yaitu letak dan posisi kawasan perencanaan dilihat secara lebih makro mempunyai nilai strategis yang nantinya dapat memberikan keuntungan ekonomi; 4) aksesibilitas kawasan (dilalui oleh jalan kolektor), dengan adanya jalan utama yang melalui kawasan akan ada dampak langsung yang dirasakan, yaitu kemudahan mobilitas produk yang dihasilkan kawasan untuk dipasarkan ke luar kawasan; 5) memiliki kelembagaan yang kuat, yaitu dengan di tetapkannya Samiran sebagai desa wisata dan telah memilki struktur kelembagaan desa wisata serta 2 desa lainnya Lencoh dan Selo juga memilki kelembagaan pariwisata dan sedang berupaya agar menjadi desa wisata.

Dilihat dari nilai Indeks Pembangunan Desa (IPD), nilai rata-rata IPD dalam kawasan perdesaan adalah 69,62. Nilai ini dikategorikan sebagai desa berkembang. Namun demikian, jika dilihat nilai IPD perdesa maka terdapat desa mandiri dalam kawasan perdesaan, yakni Samiran dengan nilai IPD 76,48. Sementara 2 desa lainnya, yaitu Selo dan Lencoh berstatus berkembang dengan masingmasing nilai IPD adalah 70,29 dan 62,09. Sumum ketiga desa ini rendah pada indikator infrastruktur desa.

Infrastruktur, sarana dan prasarana dalam kawasan merupakan variabel yang sangat penting dalam Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu kedepan. Ketersediaan Infrastruktur, sarana dan prasarana secara baik akan ikut memberikan jaminan keberlanjutan pembangunan kawasan perdesaan karena segala aktivitas pembangunan akan membutuhkan fasilitas infrastruktur misalnya berkaitan dengan pengembangan kualitas sumberdaya masyarakat, menjamin kesehatan masyarakat, mobilisasi hasil produk komoditi unggulan, mobilitas orang dan lain sebagainya. Terdapat beberapa infrastruktur, sarana dan prasarana penting dalam kawasan yaitu pendidikan, kesehatan, sarana peribadatan, sarana perniagaan, jaringan jalan dan sebagainya.

Khusus untuk sarana jalan, perkembangan objek wisata Selo tidak didukung dengan akses yang memadai, karena kondisi jalan yang menuju ke objek wisata Selo kondisinya rusak dan sempit. Sehingga dapat menghambat arus lalu lintas menuju ke objek wisata. Sedangkan untuk kondisi jalan yang berada di kawasan objek wisata Selo cukup baik. Trayek yang melalui Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu Di Kaki Gunung Merapi-Merbabu adalah 1) Boyolali – Cepogo – Selo PP; 2) Boyolali – Cepogo – Selo – Rakah PP; 3) Selo – Cepogo – Boyolali – Kartasura – Solo PP; dan 4) Salatiga – Ampel – Tompak – Cepogo – Selo – Rakah PP.

Jumlah penduduk di kawasan perdesaan adalah 9.210 jiwa dengan jumlah penduduk masingmasing desa adalah Selo sebanyak 2.780 jiwa, Samiran sebanyak 3.662 jiwa dan Lencoh sebanyak 2.768 jiwa. Di Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu (khususnya Kecamatan Selo) sama sekali tidak terjadi perubahan tingkat kepadatan penduduk. Samiran dan Lencoh memiliki tingkat kepadatan yang sama yaitu 9 jiwa per Km2. Sedangkan Lencoh memiliki tingkat kepadatan yang terendah.Samiran merupakan desa dengan tingkat pertumbuhan yang paling cepat, meskipun begitu tetap saja pertumbuhan penduduk Samiran juga sangat rendah yaitu di bawah 0.5%.

Selanjutnya dua desa yang lainnya juga sama, memilki tingkat pertumbuhan penduduk yang sangat rendah. Hasil analisisi sex ratio di dalam kawasan perencanaan menunjukkan bahwa Selo merupakan desa dengan sex ratio terendah, yaitu 89.37% yang artinya setiap ada 100 perempuan makan ada 90 orang laki-laki. Desa Lencoh memiliki sex ratio yang paling seimbang, untuk setiap 100 orang perempuan juga terdapat 100 orang laki-laki. Mata pencaharian sebagian besar masyarakat di dalam kawsan perencanaaan berada di sektor pertanian, baik pertanian tanaman pangan maupun jenis pertanian lainnya. Jumlah masyarakat yang bekerja pada sektor pertanian jumlahnya kurang lebih 75% dari total masyarakat yang bekerja. Sedangkan yang bekerja pada sektor perdagangan, jasa dan angkutan jumlah nya kurang lebih hanya 35% dari keseluruhan jumlah masyarakat yang berada pada usia kerja.

Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu (Selo) bertumpu pada sektor pariwisata alam, karena di dalam kawasan perencanaan, potensi pariwisata sangat luar biasa banyak dan didukung dengan agrowisata hortikultura, wisata alam dan atraksi wisata berbasis masyarakat. berikut beberapa potensi wisata:

 Wisata Agro. Berupa atraksi petik sayur dan pemerahan susu. Kegiatan pertanian masyarakat yang menarik wisatawan meliputi: kegiatan-kegiatan pertanian yang sesuai dengan kondisi alam. Kegiatan pertanian tidak mengandalkan musim. Daerah ini lebih cocok ditanami sayur dan buah strawberry karena daerah ini beriklim dingin. Kegiatan penduduk adalah bercocok tanaman. Sayuran yang cocok di tanam misalnya wortel, kol, daun bawang dan lain-lain. Di sini wisatawan dapat belajar cara menanam sayuran serta memetik sayuran dengan di temani oleh penduduk sekitar.

 Wisata Alam. Desa-desa di Kecamatan Selo yang termasuk dalam lintasan menuju Gunug Merapi menyajikan pemandangan pedesaan yang masih asli. Area perkebunan yang berbentuk terasering lahan perkebunan yang luas, rumah-rumah penduduk desa, pepohonan serta bukit-bukit kecil yang mengelilingi lintasan desa wisata tersebut merupakan pemandangan yang dinikmati wisatawan selama perjalanan. Pemandangan alam yang dimiliki desa-desa tersebut menggambarkan suasana pedesaan yang berbeda jauh dengan kehidupan kota.

 Wisata Budaya. Beberapa jenis atraksi budaya yang rutin dilakukan di Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu Di Kaki Gunung Merapi-Merbabu adalah Karawitan, Tari Topeng Ireng, Tari Prajuritan Turonggo Seto atau oreng, Tari Reog, Tari Jatilan, Tari Kuda Lumping Turonggo Seto, Kenduren, Sadranan, Merti Desa, dan Upacara 1 Suro atau Upacara Sedekah Gunung

 Wisata Kuliner. Proses pembuatan jadah bakar dimulai dengan mencuci beras ketan kemudian dikukus matang. Setelah matang, ketan diangkat kemudian ditambahkan dengan parutan kelapa dan garam dapur kemudian di kukus kembali hingga campuran kelapa bercampur dan melekat menjadi satu dengan ketan tersebut. Selama pengukusan hendaknya di tutup menggunakan daun pisang setelah matang ketan di masukkan ke dalam wadah yang masyarakat menyebut dengan “tompo” setelah dimasukkan ketan tersebut di tumbuk hingga lembut dan menjadi adonan yang siap dicetak setelah dibiarkan hingga dingin dan diiris menurut selera Proses pembakaran, menyiapkan bara yang panas dan alat pemanggang untuk membakar, setelah alat-alat siap, jadah dimasukkan kea lat pemanggang da jadah dibakar 5 menit, setelah jadah sudah berwarna sedikit kecokelatan siap untuk diangkat dan disajikan.

Komoditas unggulan Pembangunan Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu ditentukan berdasarkan tema kawasan, RTRW, peluang, dan aspirasi masyarakat. Perumusan komoditas unggulan merupakan upaya verifikasi komoditas unggulan yang telah ditetapkan pada tahap penetapan kawasan. Kawasan perdesaan dikembangkan dengan membagi dua klaster pengembangan yaitu klaster komoditi dan klaster pendukung. Klaster komoditi selain merupakan pengembangan komoditi-komoditi unggulan kawasan. Komoditas unggulan dtentukan selain berdasarkan tema kawasan, RTRW, peluang pasar, dan aspirasi masyarakat. juga melibatkan badan usaha. Perumusan komoditas unggulan sekaligus merupakan upaya verifikasi komoditas unggulan yang telah ditetapkan pada tahap penetapan kawasan. Sesuai dengan konteks Kawasan Perdesaan Selo Berbasis Pariwisata berdasarkan pada tema pariwisata dan didukung oleh agrowisata. Sasaran klaster merupakan sasaran kinerja klaster yang terukur dan akan dicapai dalam tempo lima tahun. Klaster pendukung berupa layanan di tingkat kawasan yang sebagian besar akan dikembangkan di pusat kawasan. Klaster pendukung merupakan klaster yang mendukung pengembangan kegiatan unggulan. Keberadaan klaster pendukung dimaksudkan agar perkembangan komoditas di dalam kawasan perencanaan dapat maksimal.

Pembangunan Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu dilaksanakan dengan prinsip antara lain partisipatif, holistik dan komprehensif, keterpaduan, dan berkesinambungan. Artinya, pembangunan kawasan perdesaan harus dilaksanakan melalui sinergisme antar berbagai komponen. Sinergisme merupakan proses kolaborasi atau kerja sama dua entitas atau lebih yang berkomitmen, membentuk suatu sistem yang saling memengaruhi untuk mencapai tujuan bersama, dan memberikan perubahan yang lebih baik atau berbeda dari efek masingmasing. Untuk menjamin terjadinya sinergisme, harus disusun suatu sistem yang direpresentasikan dalam model sinergisme.

Model sinergisme pembangunan kawasan merupakan kerangka atau formulasi yang merepresentasikan suatu sistem berupa rangkaian komponen/entitas pembangunan kawasan yang terstruktur dalam kluster dan antar kluster yang saling bekerja sama secara teratur dari hulu ke hilir untuk mencapai tujuan pembangunan kawasan. Penyusunan model sinergisme dilakukan melalui analisis Sistem Sinergisme Komprehensif, dengan tahapan perumusan tujuan dan sasaran pembangunan kawasan sesuai dengan kesepakatan, penetapan komoditas unggulan, penyusunan kerangka model, dan kesepakatan model.

Terdapat 13 indikasi program yang akan dikembangkan dalam mendorong pembangunan di Kawasan Perdesaan Wisata Terpadu di Kaki Gunung Merapi-Merbabu. Indikasi program tersebut adalah: 1) meningkattkan kemampuan petani dalam mengolah lahan untuk memaksimalkan hasil panen; 2) meningkatkan ketersedaiaan bahan baku pertanan; 3) meningkatkan kemampuan petani dalam memasarkan hasil panennya; 4) meningkatkan jangkauan pasar hasil pertanian hortikultura; 5) meningkatkan kemampuan petani dalam mengolah hasil panen untuk menambah nilai jual; 6) meningkatkan jumlah produk hasil oalahan hortikultura; 7) meningkatkan kualitas integrasi antar ojek wisata dan akomodasi; 8) meningkatkan perluasan jangkauan jaringan prasarana yang menghubungkan objek wisata dengan sarana akomodasi; 9) meningkatkan kualitas SDM pengelola objek wisata; 10) meningkatakan kualitas sarana pendukung pariwisata; 11) meningkatkan kelengkapan sarana pariwisata; 12) meningkatkan keterampilan pengelolaan homestay; dan 13) meningkatkan jumlah home stay. Total pembiayaan adalah 13,050 juta rupiah.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jl. Yetro Sinseng, Lanjas, Teweh Tengah
Kabupaten Boyolali
Get directions