Kab.Bengkulu Tengah

  1. Desa Pekik Nyaring
  2. Desa Pasar Pedati
  3. Desa Sri Katon
  4. Desa Sri Kuncoro
  5. Desa Panca Mukti

Berdasarkan RTRW Kabupaten Bengkulu Tengah tahun 2012-2032, Kecamatan Pondok Kelapa ditetapkan sebagai salah satu Pusat Pelayanan Kegiatan. Selanjutnya berdasarkan Masterplan Agropolitan Kabupaten Bengkulu Tengah, Desa Srikuncoro menjadi salah satu Zona Penyangga Agropolitan dengan hierarki Orde III. Selanjutnya, arahan pemanfaatan ruang kawasan perdesaan adalah : (1) pemanfaatan ruang kegiatan jasa dan perdagangan (pasar lokal, pergudangan, pasar buah, koperasi, lapangan bongkar muat barang); (2) pemanfaatan ruang permukiman; (3) pemanfaatan ruang penunjang kegiatan pertanian (kebun pembibitan, industri pengolahan hasil pertanian, industri produk pengolahan pertanian); (4) pemanfaatan ruang untuk fasilitas sosial (klinik kesehatan, masjid, taman bermain, lapangan olahraga, balai warga, makam, pos polisi); (5) pemanfaatan ruang untuk wisata (toko souvenir, toko buah, area edukasi pertanian, restoran).

Kabupaten Bengkulu Tengah adalah sebuah kabupaten di Provinsi Bengkulu, Indonesia. Ibukotanya adalah Karang Tinggi. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan UU No. 24/2008 yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Utara. Selanjutnya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi membentuk program pembangunan kawasan perdesaan di beberapa kabupaten di Indonesia, salah satunya adalah Bengkulu Tengah karena potensi alamnya yang cukup beragam. Perumusan UU No. 6/2014 tentang Desa oleh pemerintah dijadikan langkah mengurangi kesenjangan wilayah, melindungi serta mempercepat pembangunan desa.

Melalui musyawarah para pemangku kepentingan dan memperhatikan Keputusan Dirjen PKP 14/DPKP/SK/07/2016 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Kawasan Perdesaan. Kawasan Perdesaan Pondok Kelapa yang meliputi Desa Pekik Nyaring, Desa Pasar Pedati, Desa Sri Katon, Desa Sri Kuncoro, dan Desa Panca Mukti menjadi kawasan terpilih dan diarahkan sebagai kawasan agrowisata. Adapun tujuan dari dibentuknya Kawasan Perdesaan Agrowisata adalah mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pengembangan ekonomi, dan/ atau pemberdayaan masyarakat desa melalui pendekatan partisipatif dengan memperioritaskan pengembangan potensi dan/ atau pemecahan masalah kawasan perdesaan.

Kawasan Perdesaan Agrowisata memiliki topografi dan iklim yang bervariasi, ketinggian kawasan perdesaan berada pada ketinggian 1-15 meter, suhu rata-rata 26,39oC, kelembapan rata-rata 85%, curah hujan rata-rata 1.000-2.000 mm/tahun, jumlah hari hujan 188 hari/tahun. Sebagian besar lahan adalah lahan pemukiman, kebun campuran, dan perkebunan. Secara administratif, Kawasan Perdesaan Agrowisata terletak pada Kecamatan Pondok Kelapa. Wilayah administrasi, meliputi: Desa Pekik Nyaring, Desa Pasar Pedati, Desa Sri Katon, Desa Sri Kuncoro, dan Desa Panca Mukti. Kawasan rawan banjir terdapat pada semua desa. Kemudian kawasan rawan tsunami terdapat pada Desa Pekik Nyaring dan Desa Pasar Pedati.

Pada bidang sosial dan kependudukan, mayoritas penduduk merupakan orang asli Jawa atau keturunan Jawa. Kesenian yang berkembang adalah kuda lumping dan wayang kulit. Beberapa masyarakat memiliki jiwa seni untuk menghasilkan karya seni yang berasal dari bahan-bahan lokal. Karakteristik masyarakat adalah terbuka dan mudah beradaptasi akan hal baru. Tingkat partisipasi masyarakat terhadap program-program dan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah cukup tinggi namun belum mampu mengaplikasikan secara berkelanjutan. Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD), kelima desa dalam Kawasan Perdesaan Agrowisata masuk dalam kategori desa berkembang. Desa-desa tersebut yaitu Sri Katon (68,14), Pekik Nyaring (73,38), Pasar Pedati (72,98), Panca Mukti (66,36), Sri Kuncoro (67,77). Berdasarkan indeks tersebut, diharapkan dengan adanya program pembangunan Kawasan Perdesaan Agrowisata dapat membantu mendorong kelima desa berkembang menjadi desa mandiri.

Sarana, prasarana dan infrastruktur di Kawasan Perdesaan Agrowisata terbilang sudah cukup memadai. Fasilitas ibadah keagamaan hanya terdapat 20 unit masjid. Hal ini menunjukkan mayoritas penduduk beragama Islam. Sarana dan prasana di bidang pendidikan diantaranya terdapat 8 unit Taman Kanak-kanak (TK), 6 unit Sekolah Dasar (SD), sebanyak 4 unit Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 3 Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA/ SMK).

Dalam mendukung perekonomian, tidak terdapat sarana pasar. Selain itu, tersedia 6 unit koperasi dan 19 unit bank untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam hal keuangan dan perbankan. Dalam hal akses informasi dan telekomunikasi di Kawasan Perdesaan Agrowisata didukung oleh adanya 9 unit kantor pos dan 6 unit menara telepon seluler. Terdapat satu penginapan di dalam kawasan. Pengadaan pasar diperlukan untuk mendukung kegiatan perekonomian mengingat kawasan akan dikembangkan menjadi kawasan agrowisata.

Kondisi jalan pada Kawasan Perdesaan Agrowisata adalah jalanan aspal pada bagian jalan menuju kawasan perdesaan. Kemudian jalan di dalam kawasan perdesaan adalah jalan pasir berbatu. Sedangkan jalan produksi untuk distribusi hasil pertanian adalah jalan tanah yang masih alami.

Kawasan Perdesaan Agrowisata memiliki jumlah penduduk sebanyak 12.351 jiwa. Penduduk paling
banyak menempati Desa Pekik Nyaring dan Desa Pasar Pedati masing-masing sebanyak 34% dari populasi, jumlah penduduk di Desa Sri Kuncoro 17%, jumlah penduduk di Desa Panca Mukti sebanyak 10%, jumlah penduduk paling sedikit berada di Desa Sri Katon sebanyak 6%. Tingkat pendidikan masyarakat di Kawasan Perdesaan Agrowisata masih rendah dimana penduduk yang tamat Diploma/ Sarjana memiliki persentase sebesar 9%, tamatan SMA sebesar 29%, tamatan SMP sebesar 27% dan tamatan SD sebesar 35%. Berdasarkan angka ini, upaya peningkatan kualitas pendidikan di kawasan ini juga penting untuk dilakukan dalam rangka pengembangan kawasan yang berfokus pada pariwisata berbasis pertanian.

Jenis pekerjaan penduduk di Kawasan Perdesaan Agrowisata bervariasi. pekerjaan buruh mendominasi yaitu sebanyak 38%, kemudian pekerjaan sebagai petani sebanyak 31%, nelayan sebanyak 9%, pedagang dan swasta sebanyak 7%, PNS sebanyak 4%, peternak sebanyak 3% dan jasa dan keterampilan sebanyak 1%.

Kawasan yang berfokus pada pengembangan pariwisata berbasis pertanian ini memiliki beberapa destinasi wisata seperti pantai, danau dan hutan mangrove. Selain itu, terdapat perkebunan jeruk yang juga menjadi destinasi wisata pertanian. Selain itu, sebagai pendukung pariwisata, masyarakat juga diberdayakan dengan adanya kelompok pembuatan souvenir, oleh-oleh khas kawasan serta pembuatan kursi dari bambu.

Dalam Pengembangan usaha hulu ke hilir konsep pengembangan wilayah menggunakanpendekatan bottom-up, One Village One Product (OVOP) mengingat masing masing desa telah memiliki komoditas dan potensi pengolahannya masing-masing. Konsep OVOP berguna untuk peningkatan produktivitas, nilai jual produk, pengurangan beban kerja, dan pendapatan masyarakat. Konsep pengembangan ini menyiapkan desa-desa dalam kawasan untuk menjalankan peran dan fungsinya masing-masing. Desa Pasar Pedati akan dikembangkan sebagai daerah penghasil singkong beserta pengolahannya. Selain itu, dipilih menjadi tempat produksi dan pengolahan jeruk kalamansi, serta disiapkan menjadi destinasi wisata. Desa Pekik Nyaring akan disiapkan menjadi daerah wisata beserta akomodasinya. Desa Sri Kuncoro akan menjadi desa penghasil pangan yaitu sawah dan lumbung padi. Desa Srikaton akan menjadi desa wisata dan penghasil bambu, dan Desa Panca Mukti akan menjadi produsen pengolahan kursi dari bambu serta menjadi tempat produksi dan pengolahan singkong.

Program pembangunan Kawasan Perdesaan Agrowisata dirancang untuk dilaksanakan dalam lima tahun ke depan yaitu mulai dari Tahun 2017 sampai 2021. Terdapat 23 program utama, yaitu : (1) membuka peluang investasi; (2) mengembangkan sistem pengolahan komoditas unggulan dengan pengembangan sentra pengolahan; (3) peningkatan kualitas dan desain kemasan produk-produk unggulan; (4) peningkatan intensitas promosi untuk produk-produk unggulan; (5) peningkatan kualitas bibit dan sistem pembibitan; (6) peningkatan pemanfaatan lahan; (7) peningkatan distribusi komoditas unggulan di destinasi pariwisata; (8) penetapan tematik destinasi pariwisata; (9) pengembangan promosi destinasi pariwisata; (10) edukasi tentang destinasi pariwisata berkelanjutan; (11) meningkatkan kualitas sarana pertanian eksisting; (12) meningkatkan kualitas prasarana pertanian eksisting; (13) meningkatkan kualitas sarana pariwisata eksisting; (14)
meningkatkan kualitas prasarana pariwisata eksisting; (15) meningkatkan kuantitas sarana pertanian; (16) meningkatkan kuantitas prasarana pertanian; (17) meningkatkan aksesibilitas objek wisata; (18) meningkatkan kemampuan pekerja objek wisata; (19) meningkatkan kemampuan manajemen objek wisata; (20) meningkatkan kemampuan petani dalam budidaya sektor pertanian;
(21) edukasi masyarakat dalam berwirausaha; (22) mengoptimalkan pemanfaatan ICT dalam membuka jaringan pemasaran; dan (23) menyediakan wadah kreatif bagi masyarakat.

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rencana program di Kawasan Perdesaan Agrowisata dengan total anggaran sebesar 13,9 miliar berasal dari 3 sumber yaitu ADD, APBD Kabupaten, APBD Provinsi, APBN, dan Pihak 3. Sumber pembiayaan program terbesar berasal dari APBN dengan persentase sebesar 31%, kemudian APBD Kabupaten dengan presentase sebesar 24%, APBD Provinsi sebesar 21%, kemudian pihak 3 sebesar 16%, dan ADD sebesar 7%. Sebagian besar pendanaan berasal dari dana pemerintah. Berbagai pihak yang terlibat dalam pembiayaan program, kondisi ini menunjukkan bahwa Kawasan Perdesaan Agrowisata sudah mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam menjalankan program kegiatannya.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pd. Klp
Kabupaten Bengkulu Tengah
Get directions