Kab. Batang

  1. Desa Tembok
  2. Desa Plumbon
  3. Desa Amongrogo
  4. Desa Ngaliyan

Pembangunan kawasan perdesaan merupakan perpaduan pembangunan antardesa yang dilaksanakan dalam upaya mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat desa melalui pendekatan pembangunan partisipatif. Pembangunan kawasan perdesaan dilakukan berdasarkan potensi yang sama dan bisa disinergikan, sehingga dapat memecahkan masalah kawasan. Dengan demikian, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kawasan perdesaan dapat dilakukan secara terpadu dan sinergis bagi desa-desa yang tergabung didalamnya.

Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan pada Wilayah II yang difasilitasi oleh Universitas Diponegoro, yaitu di Provinsi Jawa Tengah yang terdiri atas 3 Kabupaten dan salah satunya adalah Kabupaten Batang. Berdasarkan RTRW Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029, Kabupaten Batang merupakan salah satu wilayah yang pengembangannya diarahkan pada sektor pertanian.

Hasil kesepakatan bersama dengan Tim Inti TKPKP beserta masyarakat menghasilkan rencana kawasan perdesaan yang berlokasi di Kecamatan Limpung dengan deliniasi wilayah 4 desa yaitu Desa Tembok, Plumbon, Amongrogo dan Ngaliyan.

Kawasan Perdesaan Limpung yang terdiri dari 4 desa, yaitu : Tembok, Plumbon, Amongrogo dan Ngaliyan, secara administratif terletak di Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayah Kawasan Perdesaan Limpung 782,81 ha, dengan jumlah penduduk 8.952 jiwa, serta kepadatan penduduknya mencapai 1.143 jiwa/km2.

Berdasarkan nilai IPD dari Bappenas tahun 2014, Kawasan Perdesaan Limpung masuk ke dalam kategori kawasan berkembang. Semua desa dalam kawasan masih berstatus desa berkembang. Desa Plumbon memiliki nilai IPD terbesar yaitu 68,18, sedangkan desa yang memiliki nilai IPD terkecil adalah Desa Ngaliyan dengan skor 53,97. Dari lima aspek pembangunan dalam IPD (layanan dasar, infrastruktur, transportasi, layanan umum, dan pemerintahan), infrastruktur merupakan aspek yang menjadi permasalahan utama, dengan skornya hanya mencapai 40,17. Adapun kondisi akses tranportasi menjadi hal yang paling baik dalam kawasan, skornya 79,85.

Air bersih di kawasan perdesaan bersumber dari sumur artesis yang kemudian ditampung di penampungan air bersih yang selanjutnya dialirkan ke rumah-rumah terdekat melalui pipa-pipa kecil. Sungai menjadi saluran drainase utama di kawasan perdesaan dengan drainase sekunder berupa pembuangan limbah rumah tangga. Pengelolaan sampah pada kawasan perdesaan masih bersifat individual dengan tidak adanya TPS, sehingga sampah hanya dibakar atau dibuang di sembarang tempat.

Jumlah penduduk beragama Islam yang tinggi menjadikan masjid dan surau tersebar merata di kawasan perdesaan. Tempat peribadatan lainnya diluar agama Islam hanya berupa Gereja Kristen yang berjumlah 1 unit. Fasilitas pendidikan sudah tersedia dari jenjang pendidikan Taman Kanakkanak (TK) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) atau kejuruan (SMK).

Fasilitas ekonomi yang masih minim pada kawasan teridentifikasi dari 2 lembaga koperasi yang ada, sementara belum adanya lembaga keuangan berupa perbankan. Infrastruktur di bidang jaringan telekomunikasi, seperti ketersediaan menara telepon seluler pun belum tersedia dan Kawasan Perdesaan Limpung tidak terjangkau oleh jaringan telekomunikasi telepon rumah.

Kawasan Perdesaan Limpung memiliki potensi utama di sektor pertanian, meski sektor industri sudah mulai berkembang. Lahan pertanian padi sawah adalah lahan pertanian yang paling dominan di Kawasan Perdesaan Limpung, dengan luasan mencapai 1.112 ha. Adapun untuk lahan pertanian palawija, hanya ada sekitar 58 ha. Sebaran lahan pertanian, terutama padi sawah, merata di seluruh daerah kawasan.

Lahan pertanian padi intesifikasi terbesar terdapat di Desa Tembok (332 Ha), sedangkan luas lahan pertanian padi terkecil adalah Desa Ngaliyan (218 Ha). Untuk lahan tanaman palawija, terdapat ubi

kayu yang merupakan tanaman palawija dengan luas area terbesar di tiga desa yaitu Desa Plumbon (29 Ha), Desa Ngaliyan (7 Ha) dan Desa Amongrogo (22 Ha).

Dari keempat desa, Desa Ngaliyan memiliki jumlah ternak sapi dan kambing/ domba yang tertinggi yaitu sapi (23 ekor) dan kambing/ domba (250 ekor). Keempat desa memiliki keunggulan jumlah ternak unggas yang berbeda yaitu Desa Plumbon : itik manila (120 ekor), Desa Tembok : ayam buras (2.100 ekor), Desa Ngaliyan : itik (245 ekor) dan Desa Amongrogo : ayam ras (19.000 ekor).

Selanjutnya untuk analisa SWOT (strength, weakness, opportunity dan threat) potensi lahan pertanian di kawasan, bisa terlihat jika lahan pertanian padi sawah yang cukup luas, adalah kekuatan paling besar. Potensi lahan pertanian padi sawah ini diperkuat dengan fasilitas bendungan dan saluran irigasi yang telah tersedia di kawasan. Namun terdapat kendala pada jaringan irigasi yang mengalami kebocoran pada beberapa titik saluran, serta rendahnya kualitas dan kapasitas SDM petani.

Untuk peluang potensi pertanian, sangat memungkinkan untuk pengelolaan hasil pertanian dilakukan secara terpadu dan meningkatkan hasil panen. Tentu hal itu dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas prasarana dasar guna mendukung produktivitas pertanian, dan pendampingan serta pembinaan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM. Ancaman dari potensi inipun cukup terbuka apalagi dengan kurangnya modal untuk meningkatkan produksi pertanian. Untuk menyiasati hal itu, menjadi penting untuk pembentukan lembaga ekonomi masyarakat perdesaan (BUMDes Bersama) sebagai wadah pengembangan potensi hasil pertanian di kawasan.

Pertanian padi organik telah disepakat untuk menjadi core pembangunan Kawasan Perdesaan Lumping. Selain itu, peternakan sapi juga adalah komoditas yang akan dikembangkan, dan berkaitan dengan pertanian padi organik. Sistem yang akan dikembangkan adalah sistem yang saling terintegrasi. Mekanisme ini dilakukan dengan mengupayakan pemanfaatan terhadap sumber daya yang ada. Sampah dan sisa-sia organik diusahakan untuk bisa digunakan, seperti sebagai kompos dan suplemen ternak. Pola perilaku masyarakat seperti dalam hal memilah sampah organik dan pembuatan tong sampah berlubang akan sangat mendukung mekanisme ini.

Pengembangan pertanian padi organik dan peternakan sapi tidak sekedar untuk meningkatkan hasil produksi, namun lebih lebih kepada menciptakan pola penghidupan yang berselaras dengan alam. Diharapkan dengan sistem organik ini, alam sebagai penyedia bahan baku pertanian akan terus terjaga, sehingga kehidupan berkelanjutan dan mandiri bisa tercapai.

Pada strategi dan arah kebijakan dalam pembangunan Kawasan Perdesaan Limpung yang menekankan pada kawasan sentra pertanian organik, terbagi dalam empat hal yaitu : (1) peningkatan produktivitas pertanian, yang dilakukan dengan dua hal yaitu mengembangkan lokasi sentra pengolahan hasil pertanian dan meningkatkan pemahaman petani dalam mengembangkan produktivitas hasil pertanian, (2) peningkatan kualitas sarana dan prasaranan dasar, dengan cara memperbaiki kondisi sarana prasarana dasar, dan meningkatkan pemerataan sebaran saranan prasarana dasar kawasan perdesaan, (3) pendampingan dan pembinaan masyarakat, dengan meningkatkan pengetahuan, kamampuan, dan keterampilan SDM, (4) pembentukan lembaga ekonomi masyarakat perdesaan, dengan cara meningkatkan kualitas dan kapasitas masyarakat dalam mengelola lahan dan hasil pertanian.

Rencana pembangunan Kawasan Perdesaan Limpung telah disusun untuk lima tahun ke depan. Di tahun pertama, akan memfokuskan pada pembangunan prasarana dasar, inisiasi pembentukan kelembagaan masyarakat pada skala kawasan, dan pembuatan bussiness plan. Di tahun ke dua, dilakukan upaya untuk menginisiasi lokasi sentra pengolahan hasil pertanian. Tahun ketiga, pembentukan lembaga ekonomi masyarakat (Bumdes) dan pengembangan sentra pengolahan hasil

pertanian. Tahun ke empat penguatan BUMDes dan pembuatan jaringan perindustrian hasil pertanian. Dan tahun ke lima adalah penyempurnaan sentra pengolahan hasil pertanian.

Pokok program pembangunan Kawasan Perdesaan Limpung jika disesuaikan dengan indikasi program BAPPENAS terdiri dari tiga program pokok yaitu : (1) peningkatan fungsi prasarana dasar kawasan, (2) peningkatan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia, dan (3) peningkatan produksi pertanian.

Pembiayaan program dalam lima tahun ke depan di Kawasan Perdesaan Limpung mencapai 6,978 miliar. Dari total anggaran tersebut, 85 persen sumber pembiayaan berasal dari APBN, sedangkan sisanya yaitu 15 persen baru dari APBD Kabupaten. Dominannya pembiayaan dari APBN ini menunjukkan jika pemerintah pusat masih menjadi pihak paling penting dalam pembangunan Kawasan Perdesaan Limpung.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tembok Limpung Kabupaten Batang Jawa Tengah
Jawa Tengah
Get directions