Kab.Bandung

  1. Desa Margamulya
  2. Desa Sukaluyu
  3. Desa Warnasari
  4. Desa Tribaktimulya
  5. Desa Pangalengan
  6. Desa Sukamanah
  7. Desa Margamekar
  8. Desa Banjarsari

Merujuk pada UU No. 4/2014 tentang Desa, Program Prioritas Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla melalui Nawa Cita Butir ke-3 yang berbunyi “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”, serta Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan, maka dibentuklah kawasan perdesaan di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan RTRW Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029, Kabupaten Bandung termasuk wilayah yang menjadi salah satu fokus pengembangan dalam sektor pertanian.

Pembentukan kawasan perdesaan di Kabupaten Bandung dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan para stakeholder pada hari Jum’at, 7 Oktober 2016. Kawasan perdesaan yang akan dikembangkan di kabupaten ini adalah Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi. Kawasan ini meliputi tiga desa yaitu Desa Margamulya, Desa Margaluyu dan Desa Pulosari. Ketiga desa tersebut berada di dalam Kecamatan Pangalengan. Kawasan ini kemudian ditetapkan berdasarkan Keputusan Bupati Bandung No. 50 tahun 2016. Sebelumnya, yaitu pada tanggal 6 Oktober 2016 telah ditetapkan terlebih dahulu Tim Koordinasi Pembangunan Kawasan Perdesaan (TKPKP) Kabupaten Bandung berdasarkan Surat Keputusan Bupati (Kepbup) No. 410/Kep.640-Bappeda/2016.

Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi dipilih dengan beberapa pertimbangan yaitu: (1) besarnya potensi agroforestry kopi di tiga desa tersebut khususnya jenis Java Preanger yang berkualitas internasional sejak jaman Kolonial Belanda, (2) potensi integrated farming antara komoditas kopi yang ampasnya jadi pakan sapi dan peternakan sapi menghasilkan pupuk organik dan biogas dan (3) posisi Pangalengan sebagai pusat agrobisnis, baik untuk memenuhi pasar dalam negeri atau pun ekspor, sangat mendukung pengembangan agroforestry kopi untuk menjadi salah satu produk andalan pengahasil PAD Kabupaten Bandung.

Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi memiliki luas wilayah sebesar 71,6 km2. Desa terluas dalam kawasan ini adalah Desa Margamulya dengan persentase sebesar 71% sedangkan desa yang paling kecil luasannya adalah Desa Margaluyu dengan persentase sebesar 12%.

Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi berbatasan dengan desa dan kecamatan lain dalam Kabupaten Bandung. Sebelah Barat, kawasan ini berbatasan dengan Desa Sukaluyu dan Desa

Warnasari. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Tribaktimulya. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pangalengan, Desa Sukamanah, Desa Margamekar dan Desa Banjarsari.

Sedangkan di bagian selatan, kawasan ini berbatasan dengan Kabupaten Garut. Rata – ketinggian dataran kawasan ini antara 1.415 sampai dengan 1.514 meter di atas permukaan laut. Ketinggian lahan ini sangat cocok untuk budidaya tanaman kopi. Selain itu, curah hujan rata – rata pada tahun 2015 sekitar 1.996 mm/tahun dengan rata-rata 5,45 mm/hari.

Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD), ketiga desa dalam Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi termasuk ke dalam kategori desa berkembang. Nilai IPD yang dimiliki desa – desa tersebut yaitu Desa Margaluyu (66,55), Desa Margamulya (74,17) dan Desa Pulosari (67,21).

Berdasarkan indeks tersebut, diharapkan dengan adanya program pembangunan kawasan perdesaan dapat membantu mendorong desa berkembang menjadi desa mandiri.

Sarana, prasarana dan infrastruktur di Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi memiliki jumlah yang sudah terbilang cukup. Fasilitas ibadah keagamaan tersedia 77 unit masjid dan tidak tersedia fasilitas ibadah untuk agama lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk kawasan ini beragama islam. Sarana dan prasana di bidang pendidikan diantaranya terdapat sebanyak 6 unit Taman Kanak kanak (TK), sebanyak 17 unit Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 3 unit dan SMA atau SMK dalam kawasan ini sebanyak 2 unit. Dalam mendukung perekonomian, sarana yang tersedia yaitu sebanyak 5 unit koperasi dan 20 unit bank untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam hal keuangan dan perbankan. Dalam hal akses informasi dan telekomunikasi di Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi juga sudah didukung oleh adanya 6 unit kantor pos dan 4 unit menara telepon seluler.

Beradasarkan data mengenai sarana, prasarana dan fasilitas tersebut, dapat dilihat bahwa tidak terdapat pasar dalam kawasan sehingga perlu dipertimbangkan untuk membangun pasar agar semua produk kawasan memiliki tempat pemasaran. Selain itu, terlihat juga dalam kawasan tidak ada fasilitas penginapan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini memang bukan difokuskan pada pariwisata yang akan mengundang banyak turis untuk berkunjung.

Berdasarkan hasil fasilitasi di lapang, diperoleh data bahwa sekitar 80% rumah sudah permanen. Namun, terdapat sekitar 30% rumah tangga belum memiliki jamban sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi masih membutuhkan pembangunan dalam hal sarana dan prasarana khususnya untuk kebutuhan primer.

Jumlah penduduk yang berada di dalam Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi berjumlah 36.567 jiwa. Kepadatan penduduk yang terjadi di setiap desa dalam kawasan ini memiliki angka yang beragam. Desa dengan penduduk terpadat adalah Desa Pulosari dengan kepadatan 1408 jiwa/km2. Sedangkan desa dengan kepadatan penduduk terendah adalah Desa Margamulya dengan angka kepadatan penduduk sebanyak 206 jiwa/km2. Jumlah rumah tangga (RT) dalam kawasan sebanyak 9.987 dan rata-rata anggota RT sebanyak 3,61 atau 4 orang. Mayoritas Penduduk atau sebesar 70% dari jumlah total penduduk kawasan adalah usia produktif yaitu berusia 15-64 tahun. Lebih dari 80% penduduk bekerja di sektor pertanian.

Desa-desa dalam Kawasan Perdesaaan Agroforestry Kopi memiliki potensi yang mendukung tema pengembangan kawasan sebagai kawasan penghasil kopi sebagai komoditas utama. Ketiga desa dalam kawasan ini berpotensi dalam bidang pertanian dan perkebunan. Produk unggulan yang dihasilkan Desa Margaluyu yaitu kopi, tomat dan labu siam. Produk unggulan yang dihasilkan oleh Desa Margamulya yaitu teh, padi sawah, bawang merah, tomat, kentang dan sawi. Sedangkan, produk unggulan yang dihasilkan oleh Desa Pulosari yaitu kopi, kacang merah, cabai, tomat, kentang dan kubis.

Potensi Kawasan Perdesaaan Agroforestry Kopi didukung oleh sumber daya alam berupa lahan padi sawah yang dimiliki kawasan ini seluas 142,42 Ha. Lahan padi sawah tersebut dapat menghasilkan hingga 896,4 ton padi/tahun dan produktivitasnya 6,3 ton/ha. Selain itu, kawasan ini juga dapat menghasilkan produk hortikultura dengan total produktivitas lebih dari 81.000 ton/tahun. Adapun hewan ternak yang dibudidayakan dalam kawasan ini sebanyak 3000 sapi perah dan 1200 domba. Kawasan yang mengusung tema agroforestry kopi ini dapat menghasilkan 4900 ton kopi dan 8000 ton teh per tahun. Nilai ekonomi komoditas kopi sebanyak 6500 ton kopi sama dengan nilai 65 milyar rupiah/tahun. Berdasarkan potensi ini, Kawasan Perdesaaan Sentra Komoditas Pisang ini sangat mendukung untuk dikembangkan.

Konsep pengembangan Kawasan Perdesaaan Sentra Agroforestry Kopi disusun agar pembangunan yang dilakukan dapat terencana dan terarah serta berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Kawasan yang mengunggulkan pertanian khususnya dengan komoditas kopi ini memiliki 3 subsektor dalam konsep pengembangannya. Ketiga subsektor tersebut yaitu subsektor on-farm, subsektor offfarm dan subsektor non-farm.

Pada subsektor on-farm, pengembangan dilakukan dalam bidang pertanian tanaman pangan, hortikultura dan palawija serta agroforestry kopi. Untuk mengembangkan pertanian tanaman pangan, hortikultura dan palawija, aktivitas yang dilakukan yaitu, (1) membangun jalan pertanian dan poros, (2) membangun jaringan irigasi teknis, (3) meningkatkan produktivitas dan mutu hasil dan (4) menyediakan saprotan yang terjangkau. Sedangkan untuk mengembangkan agroforestry kopi, kegiatan yang dilakukan adalah (1) melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi, (2) menyediakan bibit unggul dan pelatihan budidaya tanaman kopi premium dan (3) menjamin pembelian hasil panen sesuai harga beli petani (HBP).

Pada subsektor off-farm, pengembangan difokuskan pada pengolahan dan standarisasi, pemasaran dan menjaga stabilitas harga produk pertanian. Aktivitas yang dilakukan dalam hal pengolahan dan standarisasi produk pertanian adalah dengan cara (1) memfasilitasi pengolahan pasca panen guna meningkatkan nilai tambah, (2) memfasilitasi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk. dan (3) mengolah limbah biji kopi jadi pakan ternak. Sedangkan dalam hal pemasaran dan penjagaan stabilitas harga produk pertanian, upaya yang dilakukan adalah dengan (1) memasarkan hasil panen langsung ke pasar tidak melalui tengkulak, (2) memenuhi standar pengemasan dan registrasi produk yang berlaku dan (3) memantau dinamika harga melalui media sosial atau online.

Pada subsektor non-farm, pengembangan difokuskan pada wisata agroforestry kopi serta kerajinan dan industri rumah tangga. Untuk mengembangkan wisata agroforestry kopi, upaya yang dilakukan adalah dengan cara menyediakan sarana-prasarana standar objek wisata baik dalam hal transportasi, sanitasi dan akomodasi sera memasarkan kegiatan wisata agroforestry kopi melalui media sosial atau online. Sedangkan untuk mengembangkan kerajinan dan industri rumah tangga, upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan pelatihan produksi, pengemasan, standarisasi dan sertifikasi produk olahan atau turunan kopi dan menyediakan galeri sebagai display produk olahan kopi kepada para wisatawan.

Ketiga subsektor dalam konsep pengembangan tersebut ditunjang dengan adanya berbagai lembaga seperti BUMDES setiap desa, perbankan atau lembaga keuangan, perguruan tinggi dan bantuan dari lembaga lainnya. Lembaga – lembaga ini tergabung dalam BUMDESA Bersama yang berperan sebagai holding, menangani usaha atau kerjasama tingkat kawasan serta berusaha menjaga HBP.

Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESA Bersama) dapat berupa pasar induk, pasar modern, mini market, perusahan wisata atau biro perjalanan, parikan eksportir dan lembaga lainnya. BUMDESA Bersama ini juga akan bergerak dalam berbagai unit usaha diantaranya unit usaha sarana produksi pertanian dan pengepul, unit usaha permodalan (LKM) dan Laku Pandai, unit usaha Desamart dan pusat kuliner serta unit usaha pengelola wisata dan galeri.

Program pembangunan Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi dirancang untuk dilaksanakan dalam lima tahun kedepan yaitu mulai dari Tahun 2017 sampai 2021. Terdapat sepuluh program utama berdasarkan masterplan kawasan, yaitu : (1) Pembangunan atau rehabilitasi sarana dan prasarana transportasi, (2) Pembangunan dan/ rehabilitasi sentra produksi, sentra industri pengolahan, hasil pertanian dan perikanan, serta destinasi wisata, (3) Pembangunan dan/ pemeliharaan sarana bisnis atau pusat bisnis di kawasan ekonomi perdesaan, (4) Penerapan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing dan (5) Pembangunan suplay energi untuk pemenuhan domestik dan industri, (6) Pengembangan pendidikan kejuruan untuk meningkatkan inovasi dan kreativitas lokal, (7) Pengembangan kerjasama antara desa, daerah, KPS, dan BUM antar desa, (8) Pengembangan lembaga keuangan mikro di daerah, (9) Penerapan TIK untuk memfasilitasi perdagangan dan pertukaran informasi dan (10) Peningkatan PTSP daerah.

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rencana program di Kawasan Perdesaan Agroforestry Kopi dengan total anggaran sebesar 21,552 milyar berasal dari 4 sumber yaitu ADD, APBD Kabupaten, APBD Provinsi dan APBN. Sumber pembiayaan program terbesar berasal dari APBN dengan persentase sebesar 81%. Setelah APBN, sumber pembiayaan program yang berasal dari APBD Kabupaten sebesar 13%, APBD Provinsi sebesar 5% dan ADD sebesar 1%.

Pembiayaan program dari keempat sumber terlihat tidak proporsional karena pembiayaan yang dibebankan kepada APBN sangat besar. Hal ini perlu diperhatikan lagi karena harapan hasil pembangunan kawasan salah satunya adalah desa yang mandiri sehingga desa memegang peran besar untuk menjalankan program. Selain itu, hal yang perlu diusahakan adalah memperoleh dana dari pihak ketiga agar program yang dilaksanakan tidak hanya didukung oleh pemerintah melainkan dari pihak swasta juga.

Rate and write a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jl. Raya Pengalengan No.1
Kabupaten Bandung
Get directions